Advertisement
Penulis : Tedi Subarkah Kartaatmadja
GazanaPublika.com – Cinta adalah sebuah kata ungkapan yg sering menjadi ungkapan kata. Maknanya beragam, namun yang paling spesifik adalah terhubungnya antara pandangan dan mata, terkadang tanpa olah pikir tercetuslah kata lain yaitu Jatuh Cinta.
Advertisement
Jatuh cinta merupakan pengalaman manusia yang paling universal, dan tentu lahir dari kausalitas sebab dan akibat.
Cinta, juga berarti timbulnya sebuah getaran halus yang datang tanpa peringatan dan bisa mengubah cara kita memandang dunia maupun diri sendiri: ia bisa tumbuh dari tatapan yang tak disengaja, dari percakapan yang singkat, atau bahkan dari rasa kagum yang sederhana.
Tetapi seindah apa pun cinta: ia sering kali hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju kedewasaan hati, atau bahkan kerumitan personal yg tak berujung.
Banyak orang jatuh cinta karena rasa yang kuat: namun sedikit yang bertahan karena terjadinya benturan makna dan kesadaran yang dalam.
Sebab cinta sejati bukan hanya tentang menemukan seseorang yang membuat kita bahagia, tapi tentang menyadari bahwa: kebahagiaan itu harus dibangun bersama dengan tanggung jawab, kejujuran, dan kesetiaan.
Namun di dunia yang serba cepat ini: kita sering kali lebih sibuk mencari ” daripada ”, bahkan lebih sibuk lagi menyambung hidup ketimbang kehidupan.
Kita terpikat pada apa yang menyenangkan mata, tetapi lupa melihat apa yang menghidupkan jiwa.
Orang yang tepat bukanlah yang selalu membuatmu tersenyum:
– Tetapi yang tetap tinggal ketika hidup sangat sulit.
– Tetap berjalan bersama, walaupun di atas bara api kehidupan.
– Tetap memberikan semangat dan senyuman tatkala derita melanda.
Cinta bukanlah kesempurnaan Jiwa:
– Tapi yang mau berproses bersamamu, saling memahami luka, dan saling belajar tumbuh, menumbuhkan dan menghidupi.
– Cinta itu terwujud dalam dilema saling mengerti dan memahami.
Di sinilah letak kesulitannya: menemukan seseorang yang bukan hanya bisa dicintai, tetapi juga layak dicintai, karena nilai, karakter, dan arah hidupnya sejalan dengan kita, dan tentu saja apakah kita juga layak meraih kesejatian Cinta,? Dengan cara pikir yg tak sejalan dg sesuatu atau seseorang yg dicintai.
Maka, sebelum bertanya, ?
Kita perlu bertanya: ” ?”
Karena sering kali, cinta gagal bukan karena kurangnya rasa cinta: tetapi karena ketidaksiapan dua hati untuk berjalan di jalan yang sama.
Menemukan orang yang tepat bukan soal keberuntungan: melainkan soal kesiapan untuk mencintai tanpa kehilangan jati diri.
Sebab cinta yang sejati tak datang untuk mengisi kekosongan:
– Melainkan untuk menemani perjalanan menjadi utuh.
– Menjadi keutuhan meraih tujuan..
Kedewasaan pikiran dalam menghayati makna kesempurnaan cinta bukanlah juga ketika menemukan orang yang selalu membuat bahagia melainkan mampu tersenyum dikala timbulnya perbedaan. Tidak bisa dipungkiri, dalam cinta selalu ada benci, dalam cinta selalu ada posesivisme, dalam cinta juga ada perasaan yang dalam. Oleh karenanya sangat penting memahami substansi, isi maupun jiwanya itu sendiri sebab cinta terkadang mampu melupakan nilai jiwa nya sendiri.
Jatuh cinta itu mudah tetapi mencintai dengan kesadaran, itulah seni yang sesungguhnya. Sebab seninya cinta adalah ketika tersadar bahwa luka dan derita bukanlah bumbu asmara melainkan proses pendewasaan hati untuk lebih mengenal makna cinta.
Tedi Subarkah Kartaatmadja adalah budayawan di Cianjur dan Ketua Padepokan Cakra Putra Pajajaran
Advertisement
