Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Benarkah Ada Air Tawar di Dalam Laut: Mitos atau Fakta?

Benarkah Ada Air Tawar di Dalam Laut: Mitos atau Fakta?

Ragam Minggu, 1 Februari 2026 15:04 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com  – Air tawar di laut sebetulnya bukan sesuatu yang ‘terlihat’ seperti sungai atau danau di permukaan — ia tersembunyi dalam bentuk aliran bawah tanah atau rembesan dari dasar laut menuju laut lepas. Fenomena ini dikenal dalam ilmu hidrologi dan oseanografi sebagai Submarine Groundwater Discharge (SGD) — yaitu aliran air tanah tawar atau campuran air tanah-laut yang keluar di dasar laut atau dekat garis pantai akibat perbedaan tekanan dan gradien aliran air tanah. (JRISetgeotam)

🌍 Lokasi-lokasi Pengamatan SGD di Indonesia

Advertisement

🟢 Lombok Utara (NTB)
Penelitian ilmiah dari Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan menemukan bahwa di perairan utara Pulau Lombok, terutama sekitar Pantai Krakas, terdapat rembesan air tanah bawah laut yang keluar ke laut. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh aliran air tanah dari daerah aliran sungai Gunung Rinjani yang meresap ke bawah tanah dan kemudian muncul di dasar laut sebagai rembesan. (Sumber: E-Journal UNair)

Para peneliti juga mencatat bahwa arus pasang surut memengaruhi distribusi air tawar tersebut, karena arus membawa dan menyebarkan air tanah yang keluar dengan cara tertentu tergantung fase pasang dan surut air laut. (Sumber: E-Journal UNair)

🟡 Gunung Kidul (DIY)
Di pesisir selatan Gunung Kidul, beberapa lokasi seperti Pantai Ngobaran, Pantai Ngrenehan, Pantai Baron, dan Pantai Ngrumput menunjukkan adanya Lelapan Air Tanah Bawah Laut (Submarine Groundwater Discharge, SGD) yang secara hidrogeokimia berbeda dari air laut sekitarnya. (Repository UGM)
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa:

• Beberapa titik menampilkan air dengan sifat kimia dominan seperti air tawar (mis. ion kalsium dan bikarbonat) yang menunjukkan asal dari air tanah,

BACA JUGA:  Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

• Sedangkan di titik lain kadar garamnya lebih tinggi karena campuran antara air tanah dan air laut. (Repository UGM)

Hal ini menunjukkan bahwa SGD dapat terjadi baik sebagai air tawar yang sebagian masih bersifat segar maupun dalam bentuk campuran air tawar-asin tergantung kondisi geologi lokal.

🔵 Pantai Utara Jawa (Jepara dan Sekitarnya)
Penelitian lain di pesisir utara Jawa, khususnya di daerah seperti Pantai Awur dan Bandengan (Jepara), menemukan adanya SGD yang memengaruhi kualitas air di zona pesisir melalui aliran nutrien dan unsur kimia dari tanah ke laut. Salah satu studi menggunakan tracer seperti radon untuk mengidentifikasi laju serta karakteristik aliran tersebut. (ScienceDirect)

Bagaimana Mekanisme Ilmiahnya

Secara ilmiah, fenomena Submarine Groundwater Discharge (SGD) dapat dijelaskan melalui prinsip dasar pergerakan air dalam sistem akuifer pesisir:

1. Aliran Air Tanah ke Bawah Tanah Pantai
Air hujan yang jatuh di daratan meresap ke dalam tanah dan menjadi bagian dari akuifer (lapisan penyimpan air tanah). Karena tekanan hidrostatik dan gradien aliran, air ini akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi (bagian daratan yang lebih tinggi) menuju laut yang merupakan titik rendah di sistem tersebut. (Sumber: JRISetgeotam)

2. Kontak dengan Air Laut
Saat air tanah mendekati pantai, ia dapat:
• ‘Bertemu’ dengan air laut di bawah tanah dan membentuk antarmuka air tanah-laut,
• Atau terbuka sebagai rembesan di dasar laut atau dekat garis pantai sebagai SGD, termasuk aliran yang lebih segar (fresh water) atau bercampur dengan air asin. (JRISetgeotam)

BACA JUGA:  Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

3. Peran Pasang Surut & Arus Laut
Arus laut dan pasang surut dapat mendorong atau menarik air tanah yang keluar melalui dasar laut (disebut tidal pumping dalam penelitian), sehingga distribusi dan karakter air tawar yang keluar berubah sesuai fase pasang surut. (E-Journal UNair)

4. Pengaruh Geologi Lokal
Di wilayah dengan batuan karst atau berpori tinggi (seperti Gunung Kidul), air tanah bergerak sangat cepat melalui rongga dan celah batuan, sehingga SGD bisa muncul lebih dekat ke laut atau bahkan terlihat sebagai mata air di garis pantai. (ScienceDirect)

Mengapa Ini Penting secara Ilmiah
Studi tentang SGD bukan hanya tentang keberadaan air tawar di laut — tetapi tentang peran air tanah dalam ekologi pesisir, transportasi nutrien, perubahan kualitas air laut, dan bahkan potensi sumber air bersih lokal. Beberapa temuan menunjukkan:
• SGD bisa menjadi jalur nutrien yang signifikan yang masuk ke ekosistem laut, terutama di daerah tropis dengan vegetasi dan penggunaan lahan tertentu. (Sumber: ScienceDirect)

• Keberadaan SGD membantu memahami interaksi antara sistem akuifer darat dan laut, yang penting dalam pengelolaan sumber daya air dan lingkungan pesisir. (JRISetgeotam)

Air tawar yang berhubungan dengan laut di Indonesia bukan sekadar teori — ada bukti ilmiah nyata dari penelitian di Lombok Utara, Gunung Kidul, dan pesisir utara Jawa bahwa air tanah tawar atau campurannya keluar di laut sebagai bagian dari sistem hydrologi pesisir yang kompleks. ***

Advertisement

Aksi Indonesia UGM
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Ragam

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version