Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Sejarah Dou Donggo Dalam Masyarakat Bima (Bagian 1)

Sejarah Dou Donggo Dalam Masyarakat Bima (Bagian 1)

Ragam Senin, 20 November 2023 15:58 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Suku-Donggo-Bima
Suku Donggo (Foto-Wikipedia)

Advertisement

GAZANAPUBLIKA.COM – Tulisan ini menyajikan gambaran sederhana sejarah masyarakat Donggo, sebuah aspek sejarah Suku Bima yang jarang dibicarakan. Hal ini memberikan pemahaman tentang warisan kultural dan adat istiadat Dou Donggo yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten dan Kota Bima, terutama bagi Dou dan Dana Mbojo. Menilik jejak sejarah Donggo, dapat kita saksikan hubungan yang panjang dengan Kerajaan Bima. Sebagai komunitas besar, masyarakat Donggo telah menghuni wilayah Suku Bima selama berabad-abad. Penelusuran sejarah Kota Bima tak bisa dilepaskan dari kontribusi berharga masyarakat Donggo.

Masyarakat Donggo telah mendiami wilayah barat teluk daerah Bima sejak berabad-abad lalu, kini dikenal dengan Kecamatan Donggo dan Soromandi. Masyarakat ini dikenal dengan sifat keras, teguh dalam prinsip, dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Mereka menggunakan bahasa Suku Bima, meski dengan dialek dan aksen yang sedikit berbeda dari wilayah lain di Bima.

Advertisement

Jejak sejarah Masyarakat Donggo

Jejak sejarah Masyarakat Donggo dimulai pada masa sistem kepemimpinan Ncuhi di wilayah Suku Bima. Kemudian, Suku Bima berubah menjadi monarki dengan Raja Bima sebagai pemimpin pertama, yang kemudian jabatannya diwariskan kepada putranya, Indra Jamrud. Ncuhi adalah pemuka adat yang mewakili wilayah tertentu dalam Kerajaan Bima. Ncuhi Donggo, yang memimpin masyarakat Donggo, dikenal sebagai sosok setia terhadap Raja Bima.

BACA JUGA:  Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Raja Bima gemar berburu, khususnya rusa, dan sering mengajak orang-orang Donggo untuk bergabung dalam kegiatan berburunya. Area berburu mereka meliputi wilayah seperti Kore, Tambora, dan daerah berhutan atau berbukit belantara lainnya. Masyarakat Donggo mahir dalam berburu dan memiliki reputasi yang baik di kalangan Suku Bima. Mereka memiliki gerakan yang tangkas, strategi yang cerdas, dan anjing pemburu yang biasanya menemani mereka. Anjing-anjing ini dikenal pintar dalam melumpuhkan mangsa buruan.

Masyarakat sekitar mengenal baik kemampuan anjing dari Donggo sehingga muncul istilah “Lako Donggo” dalam bahasa Bima yang menunjukkan kemampuan istimewa dalam berburu. Namun, istilah tersebut kemudian digunakan secara tidak tepat oleh masyarakat sekitar sebagai sindiran terhadap masyarakat Donggo setelah terjadinya perubahan sosial di komunitas tersebut.

Sedikit berpindah ke sejarah Kerajaan Bima. Meskipun perkiraan sejarah Kerajaan Bima berdiri bervariasi, beberapa catatan menyebutnya pada sekitar abad ke-11 Masehi, sementara versi lain dari kitab Bo menempatkannya sekitar abad ke-14 Masehi. Kerajaan yang mempersatukan Suku Bima ini didirikan oleh Sang Bima, seorang bangsawan Jawa yang melakukan perjalanan panjang dari Pulau Jawa ke wilayah timur Pulau Sumbawa. Prasasti yang ditemukan di Wadu Pa’a, tepi pantai Kecamatan Soromandi, menandakan kehadiran peradaban kuno di daerah Bima. Ahli sejarah dari Balai Arkeologi dan Peninggalan Purbakala Bali mengidentifikasi prasasti tersebut sebagai peninggalan Hindu Kuno.

BACA JUGA:  Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Awalnya, masyarakat Bima mempraktikkan kepercayaan “Ma ka kamba ro Ma Ka Kimbi,” suatu kepercayaan animisme dan dinamisme yang kuno. Tidak ada catatan pasti kapan kepercayaan tersebut berakhir, namun pengaruh bangsa luar seperti Bangsa Arab dan Islam Melayu akhirnya memperkenalkan gaya hidup dan keyakinan baru di sepanjang pesisir timur Kerajaan Bima.

Di Sape, wilayah timur Kerajaan Bima, terdapat aktivitas dakwah yang dihasilkan dari pengaruh Bangsa Arab dan Melayu, meskipun tidak merata dan terorganisir secara luas.

Di sepanjang pantai utara Teluk Bima, terdapat perkampungan yang menjadi pelabuhan bagi para pendatang sebelum resmi memasuki wilayah Kerajaan Bima. Pengaruh Islam mulai menyebar setelah para mubalig dari Kesultanan Ternate yang diutus oleh Sultan Baabullah tiba pada tahun 1580. Mereka membawa ajaran Islam yang kemudian diteruskan pada tahun 1619 oleh Sultan Alauddin Gowa, yang mengirim ulama dari Kesultanan Islam Luwu.

Kerajaan Bima akhirnya menjadi kesultanan pada tahun 1640 setelah raja pertama yang memeluk agama Islam, La Kai atau Abdul Kahir, belajar Islam di Kerajaan Gowa. Diketahui bahwa La Kai memperoleh ilmu dari ulama kerajaan, yaitu Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro. Islam kemudian menjadi agama resmi bagi bangsawan dan masyarakat Kerajaan Bima.

BERSAMBUNG KE BAGIAN KE DUA

Advertisement

Sejarah
Ricky Fadil
  • Website

Editor

BERITA LAINNYA

Ragam

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Ragam

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Ragam

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Ragam

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version