Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Tulisan ini menyajikan gambaran sederhana sejarah masyarakat Donggo, sebuah aspek sejarah Suku Bima yang jarang dibicarakan. Hal ini memberikan pemahaman tentang warisan kultural dan adat istiadat Dou Donggo yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Kabupaten dan Kota Bima, terutama bagi Dou dan Dana Mbojo. Menilik jejak sejarah Donggo, dapat kita saksikan hubungan yang panjang dengan Kerajaan Bima. Sebagai komunitas besar, masyarakat Donggo telah menghuni wilayah Suku Bima selama berabad-abad. Penelusuran sejarah Kota Bima tak bisa dilepaskan dari kontribusi berharga masyarakat Donggo.
Masyarakat Donggo telah mendiami wilayah barat teluk daerah Bima sejak berabad-abad lalu, kini dikenal dengan Kecamatan Donggo dan Soromandi. Masyarakat ini dikenal dengan sifat keras, teguh dalam prinsip, dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Mereka menggunakan bahasa Suku Bima, meski dengan dialek dan aksen yang sedikit berbeda dari wilayah lain di Bima.
Advertisement
Jejak sejarah Masyarakat Donggo
Jejak sejarah Masyarakat Donggo dimulai pada masa sistem kepemimpinan Ncuhi di wilayah Suku Bima. Kemudian, Suku Bima berubah menjadi monarki dengan Raja Bima sebagai pemimpin pertama, yang kemudian jabatannya diwariskan kepada putranya, Indra Jamrud. Ncuhi adalah pemuka adat yang mewakili wilayah tertentu dalam Kerajaan Bima. Ncuhi Donggo, yang memimpin masyarakat Donggo, dikenal sebagai sosok setia terhadap Raja Bima.
Raja Bima gemar berburu, khususnya rusa, dan sering mengajak orang-orang Donggo untuk bergabung dalam kegiatan berburunya. Area berburu mereka meliputi wilayah seperti Kore, Tambora, dan daerah berhutan atau berbukit belantara lainnya. Masyarakat Donggo mahir dalam berburu dan memiliki reputasi yang baik di kalangan Suku Bima. Mereka memiliki gerakan yang tangkas, strategi yang cerdas, dan anjing pemburu yang biasanya menemani mereka. Anjing-anjing ini dikenal pintar dalam melumpuhkan mangsa buruan.
Masyarakat sekitar mengenal baik kemampuan anjing dari Donggo sehingga muncul istilah “Lako Donggo” dalam bahasa Bima yang menunjukkan kemampuan istimewa dalam berburu. Namun, istilah tersebut kemudian digunakan secara tidak tepat oleh masyarakat sekitar sebagai sindiran terhadap masyarakat Donggo setelah terjadinya perubahan sosial di komunitas tersebut.
Sedikit berpindah ke sejarah Kerajaan Bima. Meskipun perkiraan sejarah Kerajaan Bima berdiri bervariasi, beberapa catatan menyebutnya pada sekitar abad ke-11 Masehi, sementara versi lain dari kitab Bo menempatkannya sekitar abad ke-14 Masehi. Kerajaan yang mempersatukan Suku Bima ini didirikan oleh Sang Bima, seorang bangsawan Jawa yang melakukan perjalanan panjang dari Pulau Jawa ke wilayah timur Pulau Sumbawa. Prasasti yang ditemukan di Wadu Pa’a, tepi pantai Kecamatan Soromandi, menandakan kehadiran peradaban kuno di daerah Bima. Ahli sejarah dari Balai Arkeologi dan Peninggalan Purbakala Bali mengidentifikasi prasasti tersebut sebagai peninggalan Hindu Kuno.
Awalnya, masyarakat Bima mempraktikkan kepercayaan “Ma ka kamba ro Ma Ka Kimbi,” suatu kepercayaan animisme dan dinamisme yang kuno. Tidak ada catatan pasti kapan kepercayaan tersebut berakhir, namun pengaruh bangsa luar seperti Bangsa Arab dan Islam Melayu akhirnya memperkenalkan gaya hidup dan keyakinan baru di sepanjang pesisir timur Kerajaan Bima.
Di Sape, wilayah timur Kerajaan Bima, terdapat aktivitas dakwah yang dihasilkan dari pengaruh Bangsa Arab dan Melayu, meskipun tidak merata dan terorganisir secara luas.
Di sepanjang pantai utara Teluk Bima, terdapat perkampungan yang menjadi pelabuhan bagi para pendatang sebelum resmi memasuki wilayah Kerajaan Bima. Pengaruh Islam mulai menyebar setelah para mubalig dari Kesultanan Ternate yang diutus oleh Sultan Baabullah tiba pada tahun 1580. Mereka membawa ajaran Islam yang kemudian diteruskan pada tahun 1619 oleh Sultan Alauddin Gowa, yang mengirim ulama dari Kesultanan Islam Luwu.
Kerajaan Bima akhirnya menjadi kesultanan pada tahun 1640 setelah raja pertama yang memeluk agama Islam, La Kai atau Abdul Kahir, belajar Islam di Kerajaan Gowa. Diketahui bahwa La Kai memperoleh ilmu dari ulama kerajaan, yaitu Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro. Islam kemudian menjadi agama resmi bagi bangsawan dan masyarakat Kerajaan Bima.
BERSAMBUNG KE BAGIAN KE DUA
Advertisement
