Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Ada sebuah cerita lelucon. Suatu ketika, Si Sombong menawarkan sekantong roti kepada Si Tamak. Melihat roti itu, Si Tamak langsung tertarik dan bertanya, “Mana rotinya?” sambil membuka telapak tangannya.
Advertisement
Si Sombong pun menjawab, “Eit, tunggu dulu. Kamu boleh ambil roti ini, tetapi dengan syarat: kamu harus bersedia saya ikatkan tali di lehermu, lalu kamu merangkak seperti kambing.”
Tanpa pikir panjang, Si Tamak setuju melakukan perbuatan tersebut.
Ini adalah kisah lelucon yang menggambarkan karakter Si Sombong dan Si Tamak. Orang sombong biasanya hanya mencari kepuasan dari pujian dan kebanggaan diri. Mereka bahkan rela mengorbankan harta demi mendapatkan pengakuan tersebut. Sementara itu, orang tamak akan bersedia melakukan apa pun, meskipun harus mengorbankan martabat, asalkan ada imbalannya.
Dalam pembahasan ini, kita akan mencoba menelaah orang-orang yang terjebak dalam kebanggaan diri dan pujian. Pernahkah mereka berpikir bahwa kebanggaan tersebut sebenarnya tidak bermanfaat, malah justru menjadi alat yang digunakan oleh orang lain? Pada akhirnya, kebanggaan ini menjadi kebodohan bagi diri mereka sendiri.
Apakah pujian itu terasa nikmat seperti buah anggur yang manis saat dimakan? Tentu saja tidak. Kenikmatan pujian bersifat abstrak dan sebenarnya tidak benar-benar terasa. Bahkan, dalam banyak kasus, pujian justru membuat seseorang merugi. Uang yang dihamburkan demi pujian menjadi tidak ada artinya. Pujian yang diberikan oleh orang lain seringkali hanya karena ada maksud tersembunyi, bahkan bisa jadi merupakan siasat untuk meraih keuntungan tertentu. Namun, orang yang terpuji tidak akan menyadari hal ini. Mereka hanya merasa puas, tanpa mengetahui bahwa kepuasan itu semu dan menipu.
Pujian seringkali memperdaya diri sendiri. Orang yang senang dipuji mungkin tidak menyadari bahwa pujian yang mereka terima mengandung unsur manipulasi.
Mengapa orang senang dipuji? Pujian adalah respon yang membangkitkan rasa bangga dalam diri seseorang. Kebanggaan itu muncul dari perasaan “besar” dan “berharga” yang timbul karena hal-hal seperti memiliki rumah mewah, mobil mahal, jabatan tinggi, atau status sosial tertentu. Kemuliaan duniawi seringkali datang dengan berbagai atribut ini, dan orang lain masih bisa memakluminya. Meskipun demikian, kebanggaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang pantas dipertahankan.
Lalu, bagaimana dengan orang yang merasa bangga padahal tidak memiliki atribut duniawi tersebut? Kondisi ini justru lebih memprihatinkan karena menunjukkan ketidakstabilan jiwa. Apa yang mereka pikirkan dan katakan hanyalah khayalan dan perasaan palsu—sebuah ilusi martabat yang sebenarnya tidak ada.
Bukankah sebaiknya kita merenungkan bahwa sebagian dari kita mungkin masih memelihara sifat ini dalam hati dan tindakan kita? Jika memang demikian, langkah selanjutnya adalah menyadarinya dan berusaha untuk tidak terjebak dalam sifat tersebut. Ini adalah salah satu penyakit hati yang perlu diperbaiki agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kekurangan dalam diri adalah hal yang alami, namun manusia seyogianya terus berusaha memperbaiki diri. Menjadi lebih baik pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri dan kehidupan kita.
Advertisement
Advertisement
