Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kebanggaan dan Pujian

Kebanggaan dan Pujian

Tasawuf Elegan Minggu, 8 September 2024 17:00 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com –  Ada sebuah cerita lelucon. Suatu ketika, Si Sombong menawarkan sekantong roti kepada Si Tamak. Melihat roti itu, Si Tamak langsung tertarik dan bertanya, “Mana rotinya?” sambil membuka telapak tangannya.

Advertisement

Si Sombong pun menjawab, “Eit, tunggu dulu. Kamu boleh ambil roti ini, tetapi dengan syarat: kamu harus bersedia saya ikatkan tali di lehermu, lalu kamu merangkak seperti kambing.”

Tanpa pikir panjang, Si Tamak setuju melakukan perbuatan tersebut.

Ini adalah kisah lelucon yang menggambarkan karakter Si Sombong dan Si Tamak. Orang sombong biasanya hanya mencari kepuasan dari pujian dan kebanggaan diri. Mereka bahkan rela mengorbankan harta demi mendapatkan pengakuan tersebut. Sementara itu, orang tamak akan bersedia melakukan apa pun, meskipun harus mengorbankan martabat, asalkan ada imbalannya.

Dalam pembahasan ini, kita akan mencoba menelaah orang-orang yang terjebak dalam kebanggaan diri dan pujian. Pernahkah mereka berpikir bahwa kebanggaan tersebut sebenarnya tidak bermanfaat, malah justru menjadi alat yang digunakan oleh orang lain? Pada akhirnya, kebanggaan ini menjadi kebodohan bagi diri mereka sendiri.

Apakah pujian itu terasa nikmat seperti buah anggur yang manis saat dimakan? Tentu saja tidak. Kenikmatan pujian bersifat abstrak dan sebenarnya tidak benar-benar terasa. Bahkan, dalam banyak kasus, pujian justru membuat seseorang merugi. Uang yang dihamburkan demi pujian menjadi tidak ada artinya. Pujian yang diberikan oleh orang lain seringkali hanya karena ada maksud tersembunyi, bahkan bisa jadi merupakan siasat untuk meraih keuntungan tertentu. Namun, orang yang terpuji tidak akan menyadari hal ini. Mereka hanya merasa puas, tanpa mengetahui bahwa kepuasan itu semu dan menipu.

Pujian seringkali memperdaya diri sendiri. Orang yang senang dipuji mungkin tidak menyadari bahwa pujian yang mereka terima mengandung unsur manipulasi.

Mengapa orang senang dipuji? Pujian adalah respon yang membangkitkan rasa bangga dalam diri seseorang. Kebanggaan itu muncul dari perasaan “besar” dan “berharga” yang timbul karena hal-hal seperti memiliki rumah mewah, mobil mahal, jabatan tinggi, atau status sosial tertentu. Kemuliaan duniawi seringkali datang dengan berbagai atribut ini, dan orang lain masih bisa memakluminya. Meskipun demikian, kebanggaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang pantas dipertahankan.

Lalu, bagaimana dengan orang yang merasa bangga padahal tidak memiliki atribut duniawi tersebut? Kondisi ini justru lebih memprihatinkan karena menunjukkan ketidakstabilan jiwa. Apa yang mereka pikirkan dan katakan hanyalah khayalan dan perasaan palsu—sebuah ilusi martabat yang sebenarnya tidak ada.

Bukankah sebaiknya kita merenungkan bahwa sebagian dari kita mungkin masih memelihara sifat ini dalam hati dan tindakan kita? Jika memang demikian, langkah selanjutnya adalah menyadarinya dan berusaha untuk tidak terjebak dalam sifat tersebut. Ini adalah salah satu penyakit hati yang perlu diperbaiki agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kekurangan dalam diri adalah hal yang alami, namun manusia seyogianya terus berusaha memperbaiki diri. Menjadi lebih baik pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri dan kehidupan kita.

Advertisement

Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

Advertisement

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Febi Pirmansyah Kritik Pernyataan Cak Imin soal NU: Jangan Salahkan Organisasi, Lihat Rekam Jejak Sendiri

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.