Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai mengenali diri sebagai langkah mendekatkan diri kepada Allah SWT, perubahan diri bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sifat-sifat tertentu telah terbentuk sejak kecil dan terus terpelihara hingga dewasa. Namun, meskipun sifat itu telah terbentuk, ia tidak bersifat permanen. Dengan kesungguhan, seseorang masih bisa mengubahnya.
Makna Khawatir dan Cemas
Khawatir dan cemas sering kali dianggap sama, tetapi memiliki perbedaan mendasar. Kekhawatiran adalah prasangka buruk terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi, misalnya khawatir akan kekurangan rezeki, tidak menikah, atau menghadapi kesulitan di masa depan. Sebaliknya, kecemasan lebih berupa ketakutan terhadap sesuatu yang diprediksi secara berlebihan, terutama terkait dengan orang lain atau diri sendiri.
Kedua perasaan ini juga sering kali dianggap sebagai bentuk gejala kejiwaan. Jika dibiarkan berlebihan, keduanya bisa berkembang menjadi gangguan kejiwaan. Namun, gangguan kejiwaan ini berbeda dari gangguan jiwa yang lebih parah dan identik dengan sakit jiwa. Dalam batas tertentu, gangguan kejiwaan dianggap wajar, karena banyak orang mengalaminya.
Tasawuf tentang Khawatir dan Cemas
Dalam tasawuf, sifat khawatir dan cemas adalah kelemahan jiwa yang perlu dikoreksi. Kedua sifat ini menunjukkan kurangnya ketulusan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Orang yang bersyukur dan percaya pada ketetapan Allah tidak akan dikuasai rasa khawatir, karena ia yakin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh-Nya. Kepasrahan yang mendalam membuatnya tidak lagi terganggu oleh rasa khawatir atau cemas.
Ketakutan yang Melemahkan Jiwa
Khawatir dan cemas sejatinya adalah bentuk ketakutan yang melemahkan jiwa. Ketakutan ini sering kali muncul dalam bentuk ketakutan menghadapi kenyataan hidup. Sifat ini, jika dibiarkan, akan mengundang penyakit jiwa yang lebih besar, baik secara lahir maupun batin. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi kekhawatiran dan kecemasan dengan membangun (1) Jiwa yang kuat, (2) Pikiran yang sehat. (3) Hati yang bersih
Ketiga hal ini menjadi kunci utama untuk melawan segala bentuk gangguan kejiwaan, termasuk rasa khawatir dan cemas yang berlebihan.
Jika muncul perasaan-perasaan lemah atau negatif, imbangi dengan pikiran sehat dan positif. Pikiran negatif sering kali melahirkan prasangka seperti “mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.” Untuk melawannya, tanamkan keyakinan sebaliknya, “tidak mungkin hal itu akan terjadi.” Proses ini perlu dilakukan terus-menerus, seperti menggambarkan adanya dua elemen dalam diri—protagonis dan antagonis—yang dalam tasawuf dikenal dengan metode taifur.
Ketika pikiran positif terus dikembangkan, pikiran dan perasaan negatif akan perlahan menghilang. Perkuat diri dengan prinsip-prinsip tegas seperti, “Saya tidak boleh cengeng menghadapi hidup,” atau, “Saya tidak boleh khawatir melihat sesuatu.” Doktrin-doktrin semacam ini akan menjadi benteng yang menetralisir gejala negatif dalam diri, sehingga secara fisik dan mental, hasilnya akan membuat jiwa lebih sehat.
Sifat atau perbuatan negatif, baik secara moral maupun dalam kejiwaan, pasti menghambat kedekatan kita dengan Allah. Membersihkan diri dari hal-hal ini adalah bagian dari proses ibadah yang akan mendekatkan kita kepada-Nya. Semoga bermanfaat.
Advertisement
