Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Apa itu hampa? Istilah “hampa” dalam bahasa kekinian sering disebut sebagai “galau”. Biasanya, anak muda mengungkapkannya dengan kalimat seperti, “Duh, lagi galau nih.” Ungkapan ini mewakili perasaan yang sedang kacau, tidak stabil, atau dipenuhi oleh banyak pikiran. Akibatnya, seseorang yang merasa hampa seringkali menjadi kurang produktif, malas beraktivitas, dan kehilangan semangat. Sadar atau tidak, orang yang sering mengalami kehampaan akan kehilangan sebagian kebahagiaannya, karena kebahagiaan tidak mungkin bersanding dengan kehampaan.
Mengapa seseorang bisa merasa hampa? Kehampaan biasanya terkait dengan harapan yang tidak terpenuhi. Contohnya, seorang ibu rumah tangga yang mengharapkan kebahagiaan dari suaminya, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Atau, seseorang yang bermimpi menjadi kaya raya, tetapi hidup dalam kesulitan ekonomi. Bisa juga seseorang yang terobsesi memiliki pasangan ideal, tetapi tidak kunjung menemukannya. Semua ini bisa memicu perasaan hampa.
Hampa, pada dasarnya, adalah perasaan yang muncul ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, tidak semua orang menyikapinya dengan cara yang sama. Ada yang bisa menerima kenyataan dengan lapang dada, sementara yang lain merasa terpuruk. Kehampaan bisa menjadi penyakit kejiwaan jika terus dipelihara. Jika dibiarkan, ia akan merusak kebahagiaan dan kesehatan mental seseorang.
Oleh karena itu, kehampaan harus diatasi dengan cara membahagiakan diri, bagaimanapun caranya. Kebahagiaan adalah hak setiap orang, dan menyiksa diri sendiri adalah sesuatu yang harus dijauhi. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Siapa lagi yang akan menyayangi diri kita jika bukan kita sendiri?
Ujung dari kehampaan yang berkepanjangan adalah penyakit, baik secara mental maupun fisik. Maka, penting bagi kita untuk mengenali diri sendiri, termasuk hal-hal negatif yang ada dalam diri, dan berusaha memperbaikinya. Sebagaimana pesan dalam hadits di atas, mengenal diri adalah langkah awal untuk mengenal Tuhan. Dengan mengenal diri, kita bisa mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya secara bertahap. Hanya manusia yang sehat jiwanya yang akan mampu mengenal Tuhannya. Lalu kebahagiaan itu adalah maujud keberadaan Tuhan di dunia.
Jadi, adakah kehampaan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari? Pesan utama dari tulisan ini adalah: barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Bukan hanya sekadar mengenal, tetapi juga mampu mengatasi, memperbaiki, dan mengobati hal-hal negatif dalam diri. Mari kita jaga kebahagiaan dan kesehatan jiwa kita, karena itu adalah tanggung jawab kita sebagai manusia.
Advertisement
Advertisement
