Advertisement
GazanaPublika.com, Serang — Menjelang sore hari, Ketua TTKKBI Provinsi Banten bersama jajaran melakukan kunjungan silaturahmi ke Ketua PCNU Kota Serang sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Fathaniyah, KH Saifun Nawasi. Pertemuan yang berlangsung di Saung Nusantara itu, kebetulan di-iringi suasana teduh dan kedua pihak tampak akrab. Di kejauhan tampak panorama, keindahan Gunung Karang mempesona dan awan yang memyelimuti sebagian puncaknya seolah menjadi saksi pertemuan kedua belah pihak.
Saung Nusantara yang berada di antara Jalan Ciomas-Gunung Sari, Desa Kadu Beureum, Kecamatan Pabuaran, menjadi sangat bermakna memfasilitasi pertemuan tersebut pada
yang sejuk dan tenang, pada Rabu (10/12/2025).
Advertisement
Silaturahmi ini merupakan buah dari kesepahaman bersama antara Ketua PCNU Kota Serang dan Pengurus DPW I TTKKBI Provinsi Banten untuk kembali menguatkan jalinan ulama–jawara di Tanah Banten. Meski digelar secara terbatas, pertemuan tersebut sarat nilai, tidak hanya sebagai ajang temu kangen, tetapi juga sebagai ruang refleksi kebudayaan dan arah kebersamaan ke depan.
Dalam suasana dialog yang cair dan terbuka, kedua belah pihak sepakat bahwa relasi historis ulama dan jawara perlu kembali dirajut dan dihidupkan sebagai fondasi penguatan sosial dan kultural masyarakat Banten. Ketua PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, menilai pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan simbol kebangkitan kembali peran strategis duet ulama–jawara sebagai penjaga nilai, moral, dan budaya Banten.
Diskusi yang berkembang tidak hanya menyinggung penguatan ukhuwah, tetapi juga menyentuh persoalan keberlangsungan budaya lokal Banten agar tetap terjaga, hidup, dan relevan di tengah arus perubahan zaman.
Menanggapi pertemuan tersebut, KH Saifun Nawasi mengapresiasi kunjungan Ketua TTKKBI Banten.
“Saya mengucapkan terima kasih telah dikunjungi Pengurus DPW I TTKKBI Banten ini dalam rangka merekatkan ukhuwah Islamiyah, dalam rangka bagaimana kita bersinergi. Pertemuan para ulama dan pendekar ini sangat penting bagi kami. Dari dulu pendekar selalu berdampingan dengan ulama,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar silaturahmi antara kedua organisasi tersebut tidak berhenti pada satu pertemuan, melainkan terus berlanjut dan terawat secara berkesinambungan.
“Terima kasih kepada seluruh pengurus TTKKBI. Semoga silaturahmi ini bisa seterusnya, jangan sampai ada hal-hal yang membuat hubungan ini terputus. Saya meyakini 100 persen bahwa jawara mencintai ulama. Jawara tidak akan bisa lepas dari ulama. Ada kesamaan visi dan misi antara umara dan ulama untuk menjaga budaya,” tuturnya.
Sebagai ulama, KH Saifun Nawasi menegaskan dukungannya terhadap kebudayaan untuk terus dibangkitkan, dikembangkan, dan dilestarikan. Ia memandang agama dan budaya sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.
“Setiap warga negara pasti akan menjaga budaya pasti menjaga Marwah budaya. Dalam konteks budaya, jawara adalah beladiri untuk menjaga negara dan bangsa. Mewakili ulama kami mendukung para jawara untuk mengembangkan tradisi silat ini yang diwariskan turun temurun,” ungkapnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat lebih peka dan responsif terhadap peran jawara di Banten, yang dinilainya sebagai akar kuat kebudayaan lokal. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk mengintegrasikan jawara sebagai bagian dari kekuatan sosial dan kultural daerah.
“Negara harus peka untuk mengintegrasikan mereka sebagai bagian kekuatan daerah. Negara ini kan fasilitator, oleh karenanya budaya itu berasal dari masyarakat, maka di situlah negara wajib hadir dalam budaya. Pemerintah harus menempatkan para jawara pada posisi strategis agar dapat menjaga keamanan bangsa dan negara,” tegas KH Saifun Nawasi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Fathaniyah.
Sementara itu, Ketua DPW I TTKKBI Banten, H Hudi Nurhudiyat, turut mengapresiasi pertemuan dan silaturahmi tersebut. Ia mengaku pertemuan itu membangkitkan kembali ingatannya pada orang tua dan para guru di kampung halaman, tempat nilai-nilai dasar hidupnya dibentuk sejak kecil.
“Ya, bagaimanapun orang tua kami itu lahir dari golongan Ahlussunnah wal Jamaah, memiliki ideologi yang sama, dari syariat dan aspek lainnya. Saya pun di Malingping sering berinteraksi dengan ulama,” katanya.
Menurut H. Hudi Nurhudiyat, yang juga dikenal sebagai Pengasuh Majelis Al Ma’arijul Wathon Asy-Asyadziliyah tersebut, silaturahmi dengan ulama selalu memberi kesan mendalam dalam perjalanan hidupnya, sebagaimana tradisi yang telah ia jalani sejak lama.
“Sampai akhirnya di Serang ini saya bertemu lagi dengan Pak Kiai Saifun Nawasi, kebetulan beliau pimpinan Pondok Pesantren Al Fathaniyah dan juga Ketua PCNU Kota Serang,” ungkapnya.
Dengan penuh kerendahan hati, Hudi Nurhudiyat menyampaikan bahwa kedekatan dengan ulama merupakan kebutuhan mendasar baginya, baik secara pribadi maupun dalam peran sosialnya.
“Untuk pribadi saya sendiri, saya sangat membutuhkan bimbingan rohani dari para kiai. Bagaimanapun juga kita harus dekat dengan ulama. Di Banten sendiri, jawara itu dianggap sebagai sahabatnya ulama,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pernah ada masa ketika peran ulama tidak mendapatkan tempat semestinya, meski kontribusinya sangat besar dalam membangun umat. Padahal, Banten sejak lama dikenal sebagai daerah yang melahirkan ulama-ulama besar.
“Saya teringat Syekh Nawawi, beliau pernah menjadi ulama yang masyhur di dunia. Saya yakin suatu saat ulama akan kembali tampil di tengah masyarakat,” urainya.
Menutup pernyataannya, Hudi menegaskan komitmennya untuk selalu berada di barisan terdepan apabila ulama mendapat perlakuan yang tidak semestinya.
“Saya akan tampil di depan jika hal itu terjadi,” tegasnya.
Advertisement
