Advertisement
GazanaPublika.com, Bogor – Pengurus DPP Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) melaksanakan ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah, termasuk makam Sultan Hasanuddin Banten di Serang Banten dan makam Abah Khaer di Bogor, Jawa Barat.
Ketua DPP TTKKBI, H. TB. Arif Hidayat, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tradisi tahunan dalam rangka mengenang para leluhur, khususnya karuhun Banten dan pencipta aliran Pencak Silat Cimande. Ziarah biasanya dilakukan pada bulan Maulid sebagai bagian dari ritual tradisi Pencak Silat Cimande.
Advertisement
“Saya bersama rombongan pengurus DPP TTKKBI memulai ziarah di Kesultanan Banten sebelum melanjutkan perjalanan ke Bogor. Alhamdulillah, ada dua bus yang berangkat,” ujarnya pada Minggu (15/12/2024).
Setelah menyelesaikan ziarah di makam Mbah Khaer, rombongan melanjutkan perjalanan ke makam KH. Tubagus Muhammad Falak (Mama Falak), seorang ulama besar yang berpengaruh pada abad ke-18 Masehi.
“Mudah-mudahan kita semua diberikan kelancaran dan kemudahan dalam perjalanan ini, serta dapat mendoakan para leluhur Cimande, termasuk Mbah Khaer,” tambah Arif.

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta, yang terdiri dari pengurus DPP TTKKBI dan anggota lainnya. Salah satu peserta, Muhadi Robin (MR), yang juga merupakan Satgas DPW 1 Banten TTKKBI, mengungkapkan alasan keikutsertaannya.
“Tujuan saya lebih kepada silaturahmi dengan sesama anggota TTKKBI. Yang kedua untuk mengingatkan kematian buat diri saya sendiri. Namun, saya juga berharap bisa mendapatkan karamah dari para leluhur melalui ziarah ini,” ujarnya.
Ketua DPC Ciomas, Hafidz mengungkapkan pentingnya ziarah salah satunya pun untuk mendoakan para karuhun-karuhun terdahulu yg sudah mengorbankan jiwa raganya dalam bentuk syiar agama Islam melalu seni budaya pencak silat dan seni debus Banten dan juga untuk lebih mempererat tali silaturahmi sesama anggota pelestari budaya keluarga besar TTKKBI. Ziarah menurutnya sebagai salah satu wadah interaksi anggota.
“Saya berharap dengan kegiatan itu hubungan itu semakin kuat sesama anggota. Ya kita bisa bersilaturahmi sesama keluarga besar TTKKBI. Saya berharap yang sudah keluar bisa masuk kembali. Yang pasif bisa aktif kembali. Yang sudah ada tambah erat, gitu saja harapan saya,” tutur ketua DPC Ciomas tersebut.
Bagi Hafidz bahwa ziarah itu sangat penting apabila sudah mengatasnamakan seni dan budaya, khususnya pencak silat Cimande. Hafidz mengungkapkan ziarah sebagai cara untuk berinteraksi secara batiniyah dengan para leluhur. Sebab hubungan batin tidak akan terpisahkan oleh alam.
“Substansinya yang penting kita mendoakan mereka. Sebab mereka telah berjasa. Kita sebagai pejuang budaya wajib mendoakan mereka sebagai karuhun kita. Dan saya secara pribadi tidak berniat mencari karamah, sebab itu tidak harus dengan berziarah kok tetapi karamah datang sendiri. Kita berniat berdoa. Berdoa kepada Allah agar TTKKBI, anggotanya rukun, berkomitmen dan bisa bertambah besar,” jelas Hafidz.
Menurut Ketua DPC Waringin Kurung, Sulaeman bahwa ziarah ini adalah kegiatan tahunan. Kegiatan ini bagian dari kegiatan yang harus diselenggarakan bagi pesilat Cimande selain latihan jurus.
“Ya semacam kurukulum lah. Kan ada istilah silat, salat dan silaturahmi,” ungkapnya.
Sulaeman berpendapat bahwa silaturahmi itu bukan hanya kepada yang masih hidup saja tetapi juga kepada yang sudah meninggal. Jadi Leman berpendapat bahwa ziarah itu substansinya silaturahmi.
Selain itu Leman menjelaskan bahwa kegiatan ini penting sekali bagi TTKKBI. Oleh karenanya, kegiatan ini diselenggarakan setahun sekali.
“Takut-takut suatu saat ada di antara keluarga besar TTKKBI ingin berziarah, kan bisa berangkat sendiri atau dengan keluarga. Dengan kegiatan kemarin mereka sudah tahu tempatnya,” ungkap Sulaeman, Ketua Cabang TTKKBI Waringin Kurung.
Turut serta dalam rombongan, aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Encep Shihabuddin, menyatakan bahwa tradisi ziarah seperti ini merupakan bagian dari budaya Indonesia yang diwariskan sejak awal masuknya Islam.
“Ziarah sebagai wisata religi adalah tradisi yang khas di Indonesia. Budaya ini diajarkan oleh para penyiar Islam pada masa lalu dan harus terus dibudayakan sebagai bagian dari tradisi Nusantara,” kata Encep.
Encep menambahkan, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap tradisi ini. Ia meminta Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, untuk melestarikan budaya ziarah sebagai aset wisata Nusantara.
“Pemerintah harus mengapresiasi dan mendukung tradisi ini karena merupakan salah satu tradisi Islam yang positif dan menjadi kekayaan budaya Indonesia,” tegas Encep.
Advertisement
