GazanaPublika.com, Serang – Paguron Puser Nagara Ciomas, sebuah paguron silat yang tergabung dalam Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), merayakan milad ke-3 di Ciomas, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, pada Jumat malam (27/12/2024). Selain untuk mengenang hari lahir paguron, acara tersebut juga bertujuan membangkitkan kembali semangat budaya Banten, khususnya di Ciomas yang dikenal sebagai negeri para pendekar Banten.
Acara ini dimeriahkan oleh berbagai pentas seni, terutama seni bela diri pencak silat. Penampilan para kasepuhan Banten menjadi salah satu daya tarik utama setelah sambutan pembukaan. Pertunjukan tersebut memicu adrenalin para penonton dan memperlihatkan keindahan seni bela diri khas Banten. Selain itu, generasi muda pesilat Cimande dari Bandung yang juga tergabung dalam TTKKBI turut memeriahkan acara. Kehadiran mereka menunjukkan solidaritas dan ikatan moral antarpesilat, sekaligus menjadi kebanggaan karena dapat berpartisipasi dalam kegiatan budaya ini.
Milad ke-3 Paguron Puser Nagara Ciomas turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Fraksi Partai Golkar DPRD II Kabupaten Serang Tb. Medi Subandi yang juga menjabat sebagai Sekjen IPSI Kabupaten Serang, Wakil Ketua Umum H. Tb. Muslik, Sekretaris Jenderal Dodi Suryana, Ketua DPW 1 KH. Hudi Nurhudiyat, serta sejumlah undangan lainnya.
Kehadiran Tokoh Penting
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk anggota Komisi 2 DPRD II Kabupaten Serang sekaligus Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Serang, Tb. Medi Subandi. Dalam wawancara, Medi Subandi menyampaikan antusiasmenya terhadap pencak silat dan budaya Banten.
“Pencak silat adalah hobi saya. Selain itu, sebagai Sekretaris IPSI Kabupaten Serang dan anggota Komisi 2 DPRD yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan, saya memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan menghadiri kegiatan seperti ini. Bahkan sebelum menjadi anggota legislatif, saya telah mendorong program-program untuk mendukung paguron melalui pemerintah daerah, seperti pemberian alat-alat pencak silat kepada hampir 70 paguron di Kabupaten Serang,” ungkap Medi.
Medi merasa memiliki tanggung jawab untuk terus berpartisipasi dengan kegiatan pencak silat.
“Yang pertama, pencak silat adalah hobi saya. Kedua, ini adalah tanggung jawab saya sebagai Sekretaris IPSI Kabupaten Serang dan Sekretaris Korda 2 Pendekar Banten Kabupaten Serang. Ketiga, sebagai anggota DPRD II Kabupaten Serang yang ditugaskan di Komisi 2 yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan, saya merasa wajib menghadiri acara paguron, baik milad, festival, maupun kegiatan serupa, apalagi jika diundang. Saya harus datang,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kini, melalui posisinya di legislatif, ia terus mendorong anggaran agar paguron bisa lebih berdaya secara ekonomi dan mencetak prestasi.
“Ketika ada undangan milad, festival, atau acara serupa, saya merasa wajib hadir sebagai bentuk dukungan terhadap kelestarian budaya,” jelasnya.
“Ada sekitat 70 paguron yang sudah kami berikan hibah berupa peralatan silat berupa Kendang pencak,” tambahnya.

Hafiz, Pimpinan Paguron Puser Nagara Ciomas sekaligus Ketua DPC Ciomas, menyampaikan pandangannya tentang pelestarian seni pencak silat di Banten, khususnya di Kecamatan Ciomas. Dengan penuh semangat, ia mengungkapkan harapannya agar seni pencak silat dan budaya Banten tidak hanya tetap hidup, tetapi juga semakin besar dan mendunia. “Saya berharap seni pencak silat dan budaya di Kecamatan Ciomas serta Provinsi Banten menjadi lebih besar dan melegenda, sebagaimana Banten dikenal sebagai tanah pendekar. Bahkan, saya ingin Banten menjadi ikon persilatan yang mendunia,” ujar Hafiz.
Ia juga menyoroti keunikan Kecamatan Ciomas yang dikenal luas sebagai penghasil golok khas Ciomas. Menurutnya, golok tersebut tidak dapat dipisahkan dari seni pencak silat. “Ciomas terkenal dengan goloknya, namun apabila tidak diselaraskan dengan pencak silat, itu kurang pas. Apabila pencak silat dipadukan dengan golok dan dijadikan karya seni, hasilnya akan luar biasa,” jelas Hafiz.
Selain itu, Hafiz juga mengungkapkan harapannya untuk kemajuan paguron yang ia pimpin. Ia bercita-cita agar Paguron Puser Nagara Ciomas terus berkembang lebih besar lagi. Di sisi lain, ia juga menyadari pentingnya peran pembinaan generasi muda dalam melestarikan seni bela diri ini.
“Harapan saya, paguron ini bisa lebih besar lagi, dan saya secara pribadi harus lebih sabar membina anak-anak sebagai generasi pencak silat,” katanya.
Hafiz berharap seni pencak silat dan budaya di Kecamatan Ciomas serta Provinsi Banten dapat semakin berkembang dan menjadi lebih dikenal, sejalan dengan reputasi Banten sebagai tanah para pendekar. Ia bahkan memiliki impian agar Banten dapat menjadi ikon persilatan yang mendunia.
Menurutnya, Ciomas yang terkenal dengan golok khasnya akan terasa kurang lengkap jika tidak selaras dengan seni pencak silat.
“Jika pencak silat dipadukan dengan golok dan dijadikan sebuah karya seni, hasilnya akan menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujar Hafiz.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum TTKKBI, H. Tb. Muslik, menyoroti pentingnya pelestarian budaya pencak silat sebagai identitas masyarakat Banten.
“Budaya itu adalah kekuatan. Jika kita tidak menjaga budaya kita, maka kita lemah. Seni pencak silat, sebagai ciri khas Banten sejak dahulu, harus lestari dan abadi. Saya melihat kegiatan TTKKBI semakin banyak dan semakin diminati. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus bekerja keras,” kata Tb. Muslik.
Muslik, Wakil Ketua Umum sekaligus Pembina DPP TTKKBI, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas dukungan dan penerimaan masyarakat Banten terhadap keberadaan Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI). Baginya, TTKKBI tidak sekadar menjadi organisasi, tetapi juga wadah penting dalam melestarikan budaya daerah yang kian relevan di tengah tantangan modernitas.
Ia mengungkapkan bahwa TTKKBI aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan budaya yang tersebar di setiap kecamatan, menjadikannya sebagai sarana efektif untuk menghidupkan kembali warisan leluhur. Sebagai salah satu tokoh yang memimpin organisasi ini, Muslik dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa dukungan yang diberikan tidak hanya bertujuan melestarikan seni pencak silat dan budaya Banten, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mengangkat kejayaan TTKKBI ke tingkat yang lebih tinggi.
“Alhamdulillah, kami merasa masyarakat Banten menerima kehadiran TTKKBI sebagai wadah yang efektif untuk melestarikan budaya,” ungkapnya
Muslik juga menyoroti jadwal padat yang dihadapi organisasi dalam mengelola kegiatan pelestarian budaya di berbagai daerah. Dengan nada penuh antusias, ia mengungkapkan semangatnya untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kegiatan TTKKBI semakin banyak. Saya secara pribadi sangat semangat untuk bersilaturahmi sekaligus meninjau kegiatan TTKKBI di seluruh daerah,” ujarnya.
Sebagai contoh, ia menyebut agenda mendatang di Kecamatan Waringin Kurung, yang menjadi salah satu wujud kerja keras TTKKBI untuk terus memajukan budaya Banten.
Selain membahas aktivitas organisasi, Muslik juga menyampaikan pandangan mendalamnya tentang pentingnya melestarikan budaya, khususnya seni pencak silat. Menurutnya, budaya tidak hanya sekadar warisan leluhur, tetapi juga simbol kekuatan dan identitas masyarakat.
“Ada orang yang memahami budaya tetapi tidak memahami substansinya. Budaya harus terus eksis, karena jika budaya kita hilang, itu pertanda kita lemah dan kehilangan kekuatan,” ujar Muslik.
Baginya, seni pencak silat memiliki fungsi vital dalam menjaga persatuan masyarakat. Sebagai ciri khas Banten sejak dahulu kala, pencak silat harus dijaga agar tetap lestari dan abadi. Dengan nada penuh keprihatinan, ia menambahkan, “Jika kita tidak berbuat apa-apa, ke mana arah Banten nanti? Coba renungkan.” Pandangan Muslik ini menjadi pengingat bahwa seni dan budaya bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk menjaganya tetap hidup demi generasi mendatang.
Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan TTKKBI tidak hanya dilakukan di Banten, tetapi juga meluas ke daerah lain.
“Perwakilan paguron dari Bandung hadir malam ini, dan pada 25 Januari 2025, kami akan melantik kepengurusan baru di Jawa Barat. Ini membuktikan bahwa TTKKBI diterima di berbagai daerah,” tambahnya.
Perwakilan dari paguron Cimande, Bandung, Agus Mulyana menyatakan rasa bangga dan senangnya dapat berpartisipasi dalam acara tersebut.
“Kami sangat senang dan bangga diundang. Acara ini luar biasa, benar-benar membanggakan dan memotivasi kami untuk terus menjaga solidaritas dalam dunia pencak silat,” ujarnya.