GazanaPublika.com, New York — Dalam pidato yang mengguncang Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa, Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada para pemimpin dunia: negara-negara yang gagal mengendalikan arus migrasi dan kebijakan energi mereka akan ‘masuk neraka’.
Berbicara sekitar 56 menit, Trump mengusung tema migrasi global sebagai ancaman mendasar bagi kedaulatan bangsa. Ia menyebutkan bahwa imigrasi massal, serta transisi ke energi hijau, menjadi pendorong kehancuran — khususnya bagi negara-negara Eropa Barat.
“Jika kalian tak menghentikan masuknya orang yang kalian tak pernah kenal, negara kalian akan hancur,” ujarnya, menurut laporan Reuters.
Dalam pidato itu, Trump juga mengecam kebijakan iklim internasional, menyebutnya sebagai ‘tipuan terbesar’ yang pernah dibuat dunia. Ia menyerukan agar negara-negara kembali mengandalkan bahan bakar fosil sebagai penopang ekonomi. “Kebijakan energi bunuh diri mereka akan menjadi kematian bagi Eropa Barat,” tegasnya.
Tak hanya itu, Trump menuding PBB sebagai institusi yang lemah dan penuh retorika tanpa aksi. Ia menyatakan organisasi tersebut gagal mendukung inisiatif perdamaian yang dipimpin AS dan hanya menghasilkan ‘surat-surat tegas’ tanpa implementasi nyata.
Beberapa media internasional mencatat bahwa pidato Trump menyajikan klaim-klaim kontroversial dan kadang tidak sesuai fakta. Misalnya, pernyataannya bahwa AS ‘mengakhiri tujuh perang’ dan bahwa kebijakan imigrasi AS sudah menyetop arus imigran sepenuhnya. Para pengamat menilai sebagian klaim itu berlebihan atau tidak didukung data.
Sehari setelah pidato tersebut, Rabu (24/9/2025), Gedung Putih merespon klaim-klaim teknis yang juga disampaikan Trump saat acara. Ia mengeluhkan bahwa teleprompter macet dan eskalator di gedung PBB berhenti secara mendadak. UN kemudian menyatakan bahwa eskalator berhenti karena fungsi keamanan otomatis, yang mungkin dipicu oleh videografer posisi maju, sementara masalah teleprompter dikendalikan oleh pihak Amerika sendiri.
Dalam pernyataannya, juru bicara PBB menyebut langkah antisipasi terhadap eskalator dan kegagalan alat teknis lainnya adalah hal normal dalam operasi gedung besar, dan menyarankan agar isu tersebut tak dibesar-besarkan sebagai simbol kegagalan institusional.

