Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Guru Besar IPB: Kayu Gelondongan di Lokasi Bencana Sumatera Diduga Kuat Akibat Aktivitas Manusia

Guru Besar IPB: Kayu Gelondongan di Lokasi Bencana Sumatera Diduga Kuat Akibat Aktivitas Manusia

Berita Utama Jumat, 5 Desember 2025 21:33 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Bogor — Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Dr Ir Bambang Hero Saharjo, MAgr, menilai keberadaan kayu gelondongan dalam jumlah besar di lokasi longsor dan banjir bandang di Sumatera bukanlah fenomena alam biasa. Ia menyebut temuan tersebut mengindikasikan kuat adanya campur tangan manusia, terutama aktivitas pembalakan liar.

Dalam keterangan yang disampaikan melalui IPB University, Jumat, Prof Bambang menjelaskan bahwa kondisi serupa pernah ia temui di kasus penanganan bencana kawasan hutan lindung Sumatera Utara beberapa tahun lalu. Menurutnya, keberadaan material kayu dalam jumlah besar tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kayu lapuk atau hasil tumbangnya pohon secara alami.

Advertisement

“Hutan yang sehat memiliki struktur tajuk rapat, bertingkat, dan mampu menahan intensitas air hujan. Air jatuh ke tajuk, pecah, lalu sebagian mengalir melalui batang. Jadi tidak langsung menghantam permukaan tanah,” ujarnya pada Jumat (5/12/2025).

BACA JUGA:  Rupiah Melemah, Sejumlah Bank Jual Dolar AS di Atas Rp17.700

Ia juga menegaskan bahwa lapisan vegetasi—mulai dari tajuk atas, tumbuhan bawah, hingga serasah—berfungsi sebagai sistem penyangga alami yang menjaga kestabilan ekosistem hutan. Keberadaan satu atau dua pohon tumbang secara alami, kata Prof Bambang, tidak pernah menjadi ancaman berarti bagi hutan.

“Kalaupun ada pohon tumbang, itu jumlahnya sedikit dan bagian dari regenerasi alami. Pohon tua tumbang, lalu ruangnya segera terisi spesies baru,” tambahnya.

Masalah mulai muncul ketika aktivitas pembalakan liar memasuki kawasan hutan. Penebangan pohon secara ilegal membuat celah antar tajuk melebar dan menyebabkan air hujan jatuh langsung ke tanah tanpa proses pemecahan alami. Hal ini mempercepat erosi, memperlemah struktur tanah, dan meningkatkan risiko longsor.

BACA JUGA:  Perdana, Pendekar Banten Latihan Jurus Baku TTKKBI di Markas DPW I Banten

“Ketika pembalakan liar masuk, celah tajuk semakin terbuka. Hujan jatuh langsung ke permukaan tanah. Itulah yang mempercepat kerusakan,” tegasnya.

Ia menilai kayu gelondongan yang ditemukan setelah bencana merupakan bukti kerusakan berlapis yang terjadi akibat ulah manusia. Hilangnya fungsi vegetasi membuat aliran air menjadi destruktif, sehingga membawa material kayu dalam jumlah besar yang kemudian terlihat di lokasi bencana.

“Kayu-kayu besar yang muncul pasca-bencana adalah konsekuensi dari rusaknya lapisan vegetasi karena aktivitas manusia tersebut,” kata Prof Bambang.

Advertisement

ASN Guru Kasus
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

KPK Jawab Desakan Mahfud MD Terkait Kasus Febrie

Nasional

Habib Rizieq Kritik Mahfud MD Soal Sikapnya Plin-Plan

Nasional

Seleksi CPNS 2026 Disiapkan, Pemerintah Petakan Kebutuhan dan Anggaran

Nasional

Resmi Mendaftar ke Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Besutan Eks Jubir Anies Bersiap Menuju Pemilu 2029

BERITA TERBARU

Ketua DPD GRANAT Banten Kecam Dugaan Keterlibatan Kasat Narkoba Polres Tangsel dalam Kasus Narkotika

Diskominfo Kabupaten Serang Sosialisasikan Alur Pelayanan Digital Terpadu di Kramatwatu

Warga Kp. Sitoko Gelar Swadaya Cor Jalan, Minta Perhatian Pemkab Lebak & Pemprov Banten

Pembangunan Rumah Ratusan Juta di Baleendah Disorot, Status Kepemilikan Lahan Diragukan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.