Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Tarif Resiprokal Dinilai Timpang, INDEF Sebut RI Terlalu Longgar ke AS

Tarif Resiprokal Dinilai Timpang, INDEF Sebut RI Terlalu Longgar ke AS

Berita Utama Sabtu, 28 Februari 2026 14:19 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com,   Jakarta – Di tengah optimisme pemerintah atas kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, suara waswas justru datang dari kalangan ekonom. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai struktur tarif dalam perjanjian tersebut lebih menguntungkan pihak Negeri Paman Sam dan berisiko menekan industri domestik Indonesia.

Lembaga riset ekonomi itu menyoroti ketidakseimbangan penghapusan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam skema Agreement on Reciprocal Trade (ART). Menurut mereka, liberalisasi yang diberikan Indonesia jauh lebih luas dibanding akses yang diterima produk ekspor nasional.

Advertisement

Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan Indonesia disebut menghapus sekitar 99 persen tarif untuk produk asal AS. Sementara itu, sejumlah produk ekspor Indonesia masih dikenakan tarif hingga 19 persen saat masuk ke pasar AS.

“Di sini kita bisa melihat bahwa struktur tarifnya asimetris tapi resiprokal, jadi ada ketidakseimbangan di mana Indonesia ini menghapus 99 persen tarif produk dari Amerika Serikat. Jadi ini hampir full liberalisasi. Hampir full liberalisasi, artinya bebas masuk sini,” kata Heri dalam diskusi publik INDEF, Jumat (27/2/2026).

Menurut Heri, kondisi tersebut berpotensi menggerus daya saing ekspor Indonesia, terlebih ketika ongkos produksi dalam negeri relatif lebih tinggi dibanding negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia. Dalam situasi demikian, ruang kompetisi menjadi semakin berat bagi pelaku industri nasional.

BACA JUGA:  Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

INDEF mencatat sejumlah sektor yang dinilai rentan terdampak. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, serta produk turunan sawit masuk dalam daftar yang perlu diwaspadai.

Untuk sektor alas kaki, pangsa ekspor ke AS mencapai sekitar 40 persen dari total ekspor global sektor tersebut. Beberapa produk elektronik bahkan memiliki ketergantungan yang lebih tinggi. Jika akses pasar terganggu atau terjadi perubahan skema tarif, sektor padat karya ini dikhawatirkan terdampak, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, produk olahan sawit memang disebut mendapat tarif nol persen. Namun INDEF menilai kontribusi pasar AS terhadap total ekspor sawit Indonesia relatif kecil dibanding pasar global, sehingga dinilai tidak sebanding dengan konsesi kebijakan yang diberikan Indonesia.

Tak hanya sektor manufaktur, pelonggaran akses impor pangan dari AS juga menjadi sorotan. Dalam kesepakatan tersebut, produk pertanian dan peternakan seperti daging, susu, hingga komoditas hortikultura disebut diminta memperoleh akses lebih longgar ke pasar Indonesia.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF Andry Satrio Nugroho mengingatkan kebijakan tersebut harus dihitung secara cermat agar tidak menekan petani dan peternak lokal.

BACA JUGA:  Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang Capai 521 Orang, Gibran Minta Investigasi Dituntaskan

“Kita harus tahu dulu pertama tadi bagaimana kemampuan produksi kita, potensi produksinya, kemudian juga impor yang akan kita lakukan dari negara lain. Kemudian kalau memang bisa ditambah dari Amerika Serikat, tentu saja harus memperhatikan kebutuhan lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan pengalihan impor dari negara mitra lama ke AS juga berisiko memicu retaliasi atau gangguan hubungan dagang yang telah terjalin sebelumnya. Selain itu, pelonggaran impor pangan dinilai berpotensi bertolak belakang dengan agenda swasembada dan penguatan ketahanan pangan nasional.

Secara makro, INDEF memperkirakan dampak jangka pendek terhadap pertumbuhan ekonomi relatif kecil. Namun, risiko jangka panjang dinilai perlu diantisipasi, terutama terkait ruang kebijakan industri dan perlindungan sektor domestik di tengah arus liberalisasi yang semakin terbuka.

Karena itu, INDEF mendorong pemerintah meninjau ulang sejumlah poin dalam kesepakatan tersebut, termasuk membuka opsi negosiasi ulang atau penyesuaian sebelum proses ratifikasi dilakukan.

“Dalam hal ini yang kita dorong adalah bagaimana peran DPR. Ini bisa jadi menjadi pahlawan gitu ya karena mereka menolak untuk meratifikasi terkait dengan sejumlah regulasi yang harus diratifikasi dalam ART ini,” pungkas Andry.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Berita Utama

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Nasional

MK Putuskan Prajurit Terlibat Pidana Umum Diadili Peradilan Umum, TNI Sebut Hukum Militer Lebih Tegas

Berita Utama

Pantura Terancam Tenggelam, AHY Soroti Penggunaan Air Tanah Industri

Berita Utama

KPK Tetapkan Sejumlah Tersangka Terkait OTT di BNPB

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version