GazanaPublika.com, Cianjur – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran bersama TK Insan Hasanah Cianjur menggelar aksi peduli lingkungan dengan melepas ribuan benih ikan ke aliran Sungai Cisarua Leutik, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur. Sungai ini merupakan salah satu hulu yang bermuara ke Sungai Cisokan dan akhirnya mengalir ke Sungai Citarum.
Sebanyak 10.000 ekor ikan Paray dan Tawes dilepas dalam kegiatan tersebut. Menurut Tedi yang biasa disapa Abah Tedi, Pupuhu Padepokan, aksi ini bukan sekadar kegiatan simbolis, tetapi bagian dari program besar Cianjuran Integrated Farming yang menggabungkan pelestarian lingkungan, ekosistem perairan, serta kemandirian pangan masyarakat.
“Ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga sumber air, termasuk sungai. Sungai bukan tempat sampah, apalagi sampah plastik. Menjaga kelestarian sungai berarti menjaga keberlangsungan hidup ekosistem dan hayati di dalamnya,” ujar Abah Tedi pada Kamis (21/8/2025), di Villa Pesona, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Jawa Barat.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari Kepala Desa Nagrak, perwakilan Persatuan Orangtua Murid dan Guru (PMOG) TK Insan Hasanah, Manajemen Villa Pesona, hingga warga setempat. Suasana berlangsung penuh semangat kebersamaan, terutama ketika anak-anak TK ikut menyaksikan langsung proses penebaran benih ikan ke sungai.
Kepala Sekolah TK Insan Hasanah, Poppy, menyampaikan apresiasi yang mendalam. “Terima kasih kepada keluarga besar Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran yang sudah memfasilitasi kegiatan ini. Anak-anak kami bisa belajar langsung mengenai sungai, habitatnya, dan mengenal kembali jenis-jenis ikan sungai yang kini semakin langka,” ujarnya.
Sementara itu, Hendi S. Maladi, Kepala Desa Nagrak, menilai langkah Padepokan di bawah pimpinan Abah Tedi menjadi inspirasi bagi masyarakat desa, baik dalam bidang budaya, lingkungan hidup, maupun ketahanan pangan.
“Program Padepokan banyak menginspirasi kami, mulai dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat, peraturan desa tentang lingkungan hidup, hingga seni tradisional yang terintegrasi. Bahkan, desa kami yang berada di kawasan pusat kota akan segera memberlakukan retribusi sampah dengan tarif termurah di Indonesia,” tegasnya.
Tedi menambahkan, program pelestarian ini tidak akan berhenti di sini. Ke depan, pihaknya menargetkan penebaran 1 juta ekor ikan secara bertahap serta penanaman 8.000 tanaman hortikultura organik untuk masyarakat sekitar. Namun, semua itu, kata dia, harus dibarengi dengan kesadaran kolektif warga untuk menjaga sungai.
“Tidak boleh ada lagi sampah di sungai, tidak ada racun, tidak ada setrum, atau jaring liar. Bahkan aktivitas memancing pun harus diatur, baik tempat maupun waktunya. Jadi, selain kesadaran lingkungan, penegakan hukumnya juga harus berjalan, baik hukum tertulis maupun hukum adat yang berlaku di masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi antara komunitas budaya, pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam, sekaligus memperkuat semangat kemerdekaan melalui aksi nyata bagi masa depan generasi berikutnya.