Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran Gelar Diskusi Terbuka Mengusung Tema ‘Nasionalisme di Jaman Kita’

Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran Gelar Diskusi Terbuka Mengusung Tema ‘Nasionalisme di Jaman Kita’

Daerah Minggu, 28 Juni 2026 22:51 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Cianjur — Lapangan Parkir Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran yang terletak di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, menjadi ruang dialektika bagi berbagai lapisan masyarakat pada Minggu, (28/6/2028). Forum diskusi terbuka tersebut digelar secara khusus sebagai sarana dialog interaktif guna membedah kembali makna nasionalisme di era kontemporer.

Acara yang mengangkat tajuk Nasionalisme di Jaman Kita ini menghadirkan Anggota DPRD Jawa Barat, Dr. H. Tom Maskun, M.Pd, selaku pembicara utama. Jalannya diskusi dipandu secara langsung oleh Tedi Subarkah, seorang sesepuh padepokan sekaligus salah satu eksponen dari Gerakan Mahasiswa 98.

Advertisement

Sebanyak 70 peserta dari berbagai elemen masyarakat tampak memadati lokasi acara. Mereka merupakan keterwakilan dari Mahasiswa Al Azahari Cianjur, Universitas Suryakancana Cianjur, pelajar, serta pengrajin tradisional Cianjur. Hadir pula sesepuh adat dari Bandung, perwakilan zilenial Cicalengka Bandung, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, perwakilan masyarakat adat Bali, hingga anggota Perguruan Silat Dharma Saputra Putu Dewatar. Nuansa lokal terasa kian kental dengan iringan musik kecapi suling khas Cianjur yang dimainkan oleh Nurahasanah, Iwa, dan Sukma dari divisi seni padepokan.

Dalam pemaparannya, H. Tom Maskun menyampaikan bahwa salah satu wujud nyata dari nasionalisme saat ini adalah komitmen untuk mempertahankan seni dan budaya tradisional sebagai pilar utama kebudayaan nasional. Ia juga memberikan imbauan kepada seluruh kalangan intelektual untuk senantiasa mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara nyata. Menurutnya, sikap kritis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah merupakan sebuah keharusan, namun akan jauh lebih efektif jika diwujudkan dalam bentuk kajian akademik yang bermetodologi ilmiah serta diperkuat dengan aksi pengabdian langsung di masyarakat.

BACA JUGA:  Bandung Darurat Begal, Negara Tidak Boleh Kalah oleh Penjahat Jalanan

Sementara itu, Tedi Subarkah menggarisbawahi bahwa ruang-ruang dialog terbuka yang mempertemukan beragam kelompok masyarakat kini sudah mulai jarang dijumpai, terutama di tingkat daerah. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pelopor bagi entitas intelektual dalam memberikan edukasi yang positif di tengah dinamika global yang saat ini sedang penuh dengan tantangan.

Suasana forum menjadi kian dinamis saat sesi tanya jawab dibuka. Perwakilan mahasiswa melontarkan beberapa pertanyaan kritis mengenai tata kelola pemerintahan yang baik, cara membumikan Pancasila agar menjadi nilai yang universal, hingga strategi dalam membendung dampak negatif dari masifnya penggunaan media sosial saat ini.

Merespons pertanyaan tersebut, Tedi Subarkah menjelaskan bahwa universalitas nilai Pancasila telah dibuktikan sejarah melalui prinsip Politik Bebas Aktif, Gerakan Non-Blok, hingga pelaksanaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung. Mengenai tata kelola pemerintahan, ia menekankan bahwa kepemimpinan yang baik harus didasari oleh nilai-nilai adaptif dan inklusif. Setiap individu harus memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat serta tanggung jawab utuh pada profesinya yang diselaraskan dengan karakter asli budaya bangsa, sebagaimana tertuang dalam konsep Tri Sakti Bung Karno, yaitu Berdaulat Secara Politik, Berdikari Secara Ekonomi, dan Berprinsip dalam Kebudayaan. Momentum pembahasan ini dinilai sangat relevan dengan suasana bulan Juni yang diperingati sebagai Bulan Bung Karno.

BACA JUGA:  Diskominfo Ingkar Janji, Abaikan Putusan KI Jabar, Tarmizi Menyebutnya Arogan

Tedi juga menambahkan bahwa Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran sendiri berupaya mengimplementasikan nasionalisme melalui tindakan konkret di sektor agraria dan lingkungan. Langkah tersebut diwujudkan lewat aktivitas bertani, beternak, hingga mengelola sampah serta limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik dan pakan ternak. Baginya, segala bentuk kreativitas yang memberikan dampak positif bagi masyarakat luas merupakan wujud cinta tanah air yang sesungguhnya.

Sebagai penutup dari rangkaian diskusi, para peserta yang hadir menyatakan bahwa kegiatan reflektif seperti ini sangat penting untuk direplikasi secara berkelanjutan. Forum serupa diharapkan dapat segera diselenggarakan kembali, baik di lingkungan kampus maupun ruang publik lainnya, agar proses kajian akademik di tengah masyarakat dapat terus berjalan secara optimal.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Daerah

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Rapat Paripurna ke-27 Bahas Raperda Perubahan SOTK

Daerah

Kamonesan NJP Cianjur Himpun 110 Seniman, Siapkan Kolaborasi Kolosal ‘Sasakala Gunung Padang’

Daerah

KPK Tetapkan 8 Tersangka dalam Kasus Dugaan Suap Pengurusan HGB Summarecon di Bogor

Daerah

Sherly Tjoanda Keluhkan 16 Ribu Hektare TORA Tak Kunjung Dibagikan ke Petani

BERITA TERBARU

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Rapat Paripurna ke-27 Bahas Raperda Perubahan SOTK

MK Putuskan Prajurit Terlibat Pidana Umum Diadili Peradilan Umum, TNI Sebut Hukum Militer Lebih Tegas

Pantura Terancam Tenggelam, AHY Soroti Penggunaan Air Tanah Industri

Gerakan Sembilan Desak Pemkab Lebak Tutup Batching Plant PT BCL dan PT Alin

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version