GazanaPublika.com, Cianjur – Hamparan lahan di kawasan Pesona Cianjur, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi ruang tumbuh gagasan yang memadukan ‘seni tradisi’, pertanian, dan kepedulian lingkungan. Di lokasi itulah Cianjuran Integrated Farming (CIF) dijalankan—sebuah model kegiatan kolaboratif yang digagas lintas unsur masyarakat.
Sesepuh Padepokan Cakra Putra Pajajaran, Tedi Subarkah, yang juga pembina CIF, menjelaskan bahwa konsep ini menggabungkan aktivitas pertanian dengan pelestarian nilai budaya Nusantara. Limbah rumah tangga dimanfaatkan menjadi pupuk organik maupun pakan ternak, sementara sebagian sampah non-organik diolah agar memiliki nilai guna kembali.
Menurutnya, seni tradisi yang berakar pada adat istiadat masyarakat Nusantara sejak lama terhubung dengan aktivitas pertanian sebagai fondasi kebudayaan Indonesia—baik sebagai masyarakat agraris maupun maritim. Dari aktivitas itulah lahir beragam kesenian. Salah satu bentuk pelestarian yang dilakukan adalah pembibitan kembali jenis-jenis bambu tertentu dan penanamannya di kawasan pertanian.
CIF juga memosisikan diri sebagai ruang edukasi bagi generasi muda. Program ini bertujuan memberi motivasi tentang pentingnya bertani dan menjaga lingkungan, dengan pendekatan yang disesuaikan perkembangan zaman. Gagasan tersebut disebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan ‘ketahanan pangan’.
Di lahan seluas kurang lebih tiga hektar itu, CIF menanam beragam varietas padi, termasuk Pandanwangi yang dikenal sebagai varietas khas Cianjur. Selain itu, ditanam pula tanaman hortikultura dan palawija seperti cabai merah, cabai rawit, bawang daun, kunyit, serai, jahe merah, kencur, kacang-kacangan, aneka tomat, honje/comrang, lengkuas, singkong, talas, kecipir/jaat, hiris atau kacang gude, kedondongan, daun mangkuk, pare, dan labu botol.
Untuk buah-buahan, CIF membudidayakan vermote, ciplukan, kersen, kelapa, nangka, sirsak, matoa, nam-nam, mangga, hingga bidara/ceremai. Sementara tanaman obat yang dikembangkan antara lain pohon betadine, kumis kucing, binahong hijau dan merah, temulawak, serta cabe jamu.
Tak hanya tanaman, CIF juga membudidayakan ayam kampung dan berbagai jenis ikan air tawar seperti ikan mas, gurami, patin, lele, mujair, nila, bawal, dan tawes. Pembibitan bambu tamiang, bambu hitam, dan bambu kuning turut dilakukan sebagai upaya penahan abrasi di kawasan bantaran sungai, selain penanaman beragam jenis tebu.
Tedi Subarkah menegaskan, “Cianjuran Integrated Farming, di inisiasi oleh Yayasan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran yg berkolaborasi dg pemilik lahan yaitu owner villa pesona cianjur seluas kurang lebih 3 hektar, sudah berjalan lebih dari 3 tahun dan melibatkan masyarakat setempat, baik dalam proses maupun edukasinya”.
Kegiatan ini disebut mendapat apresiasi dari pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo, yang dinilai konsisten mendorong pembangunan dari berbagai aspek potensial, terutama dalam bidang ‘ketahanan pangan’ dan pendidikan.

