Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Longsor ‘Gunung Sampah’ Bantar Gebang Tewaskan Empat Orang, Pemerintah Ingatkan Kembali Tragedi Leuwigajah

Longsor ‘Gunung Sampah’ Bantar Gebang Tewaskan Empat Orang, Pemerintah Ingatkan Kembali Tragedi Leuwigajah

Daerah Selasa, 10 Maret 2026 20:34 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Bekasi — Peristiwa longsor kembali menghantui tempat pembuangan sampah di Indonesia. ‘Gunung sampah’ di TPA Bantar Gebang dilaporkan longsor pada Minggu (8/3/2026), menimbun sejumlah orang yang berada di area tersebut dan menyebabkan empat orang meninggal dunia.

Insiden ini memicu sorotan keras terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti nyata adanya ‘kegagalan sistemik pengelolaan sampah’ yang selama ini belum tertangani secara mendasar.

Advertisement

Ia menilai kejadian ini terasa semakin ironis karena terjadi hanya dua minggu setelah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh setiap 21 Februari. Peringatan tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk mengenang salah satu bencana pengelolaan sampah terburuk di Indonesia, yakni tragedi longsor di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005.

Sebelum tragedi itu terjadi, TPA Leuwigajah menjadi tempat pembuangan utama bagi kawasan Bandung Raya. Sejak dibuka pada era 1980-an, gundukan sampah di lokasi tersebut terus bertambah hingga mencapai ketinggian ratusan meter.

Dalam laporan peneliti Jepang Itoch Tochija berjudul “Tragedi Leuwigajah”, disebutkan bahwa pada 21 Februari 2005 gunungan sampah itu tiba-tiba meledak. Ledakan tersebut memicu fenomena yang kemudian dikenal sebagai ‘tsunami sampah’, yakni gelombang besar material sampah yang meluncur deras dan menimbun rumah-rumah warga di sekitarnya.

BACA JUGA:  Tiga Siswa SMAN 22 Garut Terpilih Jadi Anggota Pasbara Upacara Hari Pramuka Tingkat Kabupaten

Proses evakuasi berlangsung selama sekitar 15 hari. Namun tim penyelamat hanya berhasil menemukan 157 jasad korban, sementara ratusan lainnya dinyatakan hilang. Sebagian besar korban merupakan pemulung serta warga yang tinggal di sekitar kawasan tempat pembuangan sampah tersebut.

Tragedi itu kemudian tercatat sebagai salah satu bencana tempat pembuangan sampah terbesar di dunia. Peristiwa tersebut kerap dibandingkan dengan insiden serupa di TPA Payatas, Quezon City, pada 10 Juli 2000 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Belakangan diketahui bahwa TPA Leuwigajah yang dibangun pada era 1980-an sebenarnya telah jauh melampaui kapasitas. Tim ahli dari Institut Teknologi Bandung menyebut salah satu penyebab utama longsor adalah material sampah yang tidak dipadatkan dengan baik, serta sistem penimbunan dengan lereng tunggal atau ‘single slope’ yang terlalu curam—dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.

BACA JUGA:  Diskominfo Ingkar Janji, Abaikan Putusan KI Jabar, Tarmizi Menyebutnya Arogan

Selain faktor struktur timbunan, kondisi geologi juga memperparah situasi. Berdasarkan peta hidrogeologi, terdapat mata air di bawah bagian utara TPA yang membuat struktur tanah menjadi lebih rentan. Curah hujan tinggi beberapa hari sebelum kejadian turut melemahkan kestabilan gunungan sampah.

Di dalam timbunan itu juga terkumpul gas metana dalam jumlah besar. Tekanan gas tersebut akhirnya memicu ledakan yang menjadi awal runtuhnya gunungan sampah.

Ironisnya, sejumlah tanda bahaya sebenarnya telah muncul sebelum bencana terjadi. Warga sekitar sempat melihat retakan tanah, longsor kecil, hingga mencium bau gas yang menyebar ke permukiman. Namun berbagai sinyal peringatan itu tidak ditangani secara serius.

Setelah tragedi tersebut, pemerintah akhirnya menutup TPA Leuwigajah dan mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih aman. Kawasan bekas TPA kini telah berubah menjadi area yang lebih hijau.

Sebagai pengingat atas tragedi tersebut, pemerintah kemudian menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional—sebuah momentum untuk mengingat kembali bahaya laten dari ‘gunung sampah’ yang tidak dikelola dengan sistem yang aman.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Daerah

Student Care Vocation Padukan Budaya Tradisional dan Literasi Digital untuk Generasi Muda

Daerah

Tiga Siswa SMAN 22 Garut Terpilih Jadi Anggota Pasbara Upacara Hari Pramuka Tingkat Kabupaten

Daerah

PSI Garut Gelar Cukur Rambut Gratis, Kolaborasi dengan Seniman Pangkas ASGAR Indonesia

Daerah

Dana Tambahan Rp202 Miliar Masuk, Bupati Bima Naikkan Gaji P3K Paruh Waktu

BERITA TERBARU

Aksi Gerakan 9 di Malingping Diwarnai Bentrokan, Mahasiswa Desak Pemeriksaan Proyek Jalan Cikeusik–Simpang Cijaku

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.