Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » GASLAH: Drama Kolosal Pemkot Bandung; Rakyat Memilah, Birokrasi Menguliah, Sampah Tetap Melimpah

GASLAH: Drama Kolosal Pemkot Bandung; Rakyat Memilah, Birokrasi Menguliah, Sampah Tetap Melimpah

Daerah Sabtu, 18 April 2026 13:20 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Bandung – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) memberikan rapor merah yang dibalut sarkasme terhadap program GASLAH (Gerakan Bersama Kelola Sampah dari Rumah).

Ketua Umum BPKP,  A. Tarmizi, menyebut program ini bukan sebagai solusi sistemik, melainkan sebuah “teater birokrasi” di mana rakyat dipaksa menjadi aktor utama, sementara pemerintah hanya duduk manis sebagai sutradara yang lupa menulis naskah penyelesaian.

Advertisement

Festival Regulasi yang ‘Mati Pucuk’

Menurut A. Tarmizi, Pemkot Bandung sedang mengidap penyakit “hyper-regulation” tapi “hypo-execution”, Secara teks, GASLAH adalah karya sastra hukum yang indah, namun secara fungsi, ia adalah “lex imperfecta”—hukum yang mandul.

“Kita ini sedang melihat lelucon yang mahal. Pemkot begitu rajin mencetak instruksi, tapi mendadak gagap saat harus menegakkan sanksi. GASLAH itu ibarat macan kertas di atas meja pejabat, tapi jadi kucing persia yang mengeong minta ampun di depan tumpukan sampah gang-gang sempit,”* tegas A. Tarmizi.

BACA JUGA:  Disekap Pacar Selama 3 Tahun, Wanita di Cileunyi

Dosa Besar ‘Pencampuran Kembali’

Temuan lapangan BPKP mengungkap fakta yang menyakitkan hati warga: dedikasi masyarakat dalam memilah sampah sering kali dikhianati oleh sistem pengangkutan yang tidak kompeten.
Pengkhianatan Keringat Rakyat

Warga sudah memisahkan organik dan anorganik, namun petugas di lapangan—karena ketiadaan armada standar—mencampurnya kembali ke dalam truk yang sama.

Logika Terbalik: Pemerintah menuntut warga disiplin, sementara SOP di tingkat Kelurahan dan RW dibiarkan menjadi “hutan rimba” tanpa standarisasi yang jelas.

“Jangan salahkan warga kalau mereka apatis. Buat apa memilah di rumah kalau akhirnya disatukan kembali di gerobak? Ini namanya kerja bakti yang dikerjai oleh birokrasi,” tambah Tarmizi.

Sanksi yang ‘Malu-Malu Kucing’

BPKP menyoroti ketidakberanian Pemkot Bandung dalam menerapkan law enforcement. Selama sanksi hanya berupa ‘teguran lisan’ yang dianggap angin lalu, maka GASLAH hanya akan menjadi proyek pengadaan alat komposter yang ujung-ujungnya berakhir menjadi pajangan atau pot bunga mahal di teras rumah.

BACA JUGA:  Bandung Darurat Begal, Negara Tidak Boleh Kalah oleh Penjahat Jalanan

Tuntutan BPKP: Berhenti Berkosmetik!

Melalui rilis ini, A. Tarmizi mendesak Pemkot Bandung untuk:

1. Hentikan Rilis Kosmetik: Berhenti memanipulasi data keberhasilan yang hanya bagus di atas kertas (Gagah di Atas Kertas).

2. Audit Armada: Pastikan sampah yang sudah dipilah tidak dicampur kembali. Jika armada tidak siap, jangan paksa warga melakukan hal yang sia-sia.

3. Standarisasi SOP: Hilangkan fenomena “Beda Lurah, Beda Aturan”. GASLAH butuh sistem, bukan sekadar hobi pejabat yang sedang menjabat.

“Jika Pemkot Bandung hanya butuh tepuk tangan, silakan buat festival. Tapi jika ingin mengelola sampah, benahi dulu sistemnya, bukan cuma pandai berkhotbah di depan kamera,” pungkas A. Tarmizi.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Daerah

Student Care Vocation Padukan Budaya Tradisional dan Literasi Digital untuk Generasi Muda

Daerah

Tiga Siswa SMAN 22 Garut Terpilih Jadi Anggota Pasbara Upacara Hari Pramuka Tingkat Kabupaten

Daerah

PSI Garut Gelar Cukur Rambut Gratis, Kolaborasi dengan Seniman Pangkas ASGAR Indonesia

Daerah

Dana Tambahan Rp202 Miliar Masuk, Bupati Bima Naikkan Gaji P3K Paruh Waktu

BERITA TERBARU

Prabowo Bahas Penyesuaian Syarat Rekrutmen Warga Dayak Pedalaman Jadi Prajurit TNI

Gus Kikin Terpilih Pimpin PBNU 2026–2031, AHWA Tetapkan Secara Mufakat

Klarifikasi Pengemudi Dumptruck Terkait Dugaan Penganiayaan di Wilayah Hukum Polsek Kramatwatu

Driver Lokal Lontar Tolak Penambahan Armada FABA dari Luar Wilayah, Minta Kontrak dan Ritasi Transparan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.