GazanaPublika.com, Jakarta – Suasana persiapan Idul Adha 1447 H / 2026 M di Masjid Al Ikhlash, Kav PTB Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Penurunan daya beli masyarakat di kawasan Jakarta Barat hingga Provinsi Banten berdampak langsung pada menyusutnya jumlah hewan kurban yang disetorkan oleh jemaah ke panitia lokal pada musim kurban tahun ini.
Kondisi lesunya aktivitas kurban di tingkat akar rumput ini terlihat jelas saat tokoh masyarakat setempat meninjau langsung beberapa masjid yang menyelenggarakan pemotongan di wilayah Tegal Alur dan sekitarnya.
“Banyak warga yang biasanya patungan untuk membeli satu ekor sapi, sekarang terpaksa beralih ke kambing karena keterbatasan anggaran. Bahkan, tidak sedikit juga warga yang tahun ini terpaksa urung atau batal berkurban,” ujar Mikie Defrian, tokoh masyarakat Tegal Alur, saat ditemui di Masjid Al Ikhlash di Tegal Alur, Jakarta (27/5/2026).

Refleksi Penurunan Makro Secara Nasional
Fenomena yang terjadi di Masjid Al Ikhlash dan sekitarnya ini ternyata sejalan dengan data makro nasional. Berdasarkan hasil riset dari Indonesian Development and Islamic Studies (IDEAS), tren penurunan jumlah pekurban di Indonesia memang sudah terbaca sejak beberapa tahun terakhir akibat pergeseran kondisi ekonomi masyarakat.
Data IDEAS mencatat, pada tahun 2024 jumlah pekurban secara nasional mampu mencapai angka 2,16 juta orang. Namun, pada tahun 2025 angka tersebut diproyeksikan merosot menjadi 1,92 juta pekurban. Kontraksi atau penurunan sekitar 233 ribu pekurban ini secara otomatis menyusutkan nilai ekonomi kurban nasional dari Rp28,3 triliun (2024) menjadi Rp27,1 triliun (2025), yang dampaknya kini dirasakan nyata oleh kepanitaan masjid di tahun 2026.
Domba dan Kambing Jadi Pilihan Realistis
Meskipun daya beli masyarakat sedang terkoreksi tajam, antusiasme warga kelas menengah ke bawah untuk tetap beribadah membuat pasar hewan kecil tetap bergerak dominan. IDEAS mencatat bahwa kebutuhan komoditas kurban secara nasional masih ditopang oleh jenis domba dan kambing yang mencapai sekitar 1,1 juta ekor, berbanding jauh dengan kebutuhan sapi yang hanya berada di kisaran 503 ribu ekor.
Faktor harga yang jauh lebih terjangkau dan fleksibel membuat domba atau kambing menjadi pilihan paling realistis bagi jemaah di tingkat kelurahan dan desa agar tetap dapat menunaikan ibadah kurban di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. (Red)
