Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Menyatukan Pikiran dan Hati

Menyatukan Pikiran dan Hati

Genta Qalbu Minggu, 1 Juni 2025 6:39 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
genta-golbu

Advertisement

“Apabila pikiran dan hati belum menyatu maka belum sejahtera” – AOA

GazanaPublika.com,Oksimoron (atau oxymoron dalam bahasa Inggris) adalah gaya bahasa (majas) yang menggabungkan dua kata atau ungkapan yang saling bertentangan atau berlawanan makna. Meski bertentangan, kedua kata ini digabungkan untuk menciptakan efek tertentu—biasanya untuk mempertegas makna, menunjukkan ironi, atau menggambarkan sesuatu yang kompleks dan paradoksal.

Advertisement

Namun, dalam penggunaan yang lebih luas, oksimoron tidak hanya hadir dalam bentuk ungkapan linguistik. Ia juga dapat mencerminkan realitas batin manusia, yakni pertentangan yang terjadi di dalam diri seseorang. Hal ini biasa dialami oleh mereka yang hidup dalam dua dunia pemahaman: pemikiran dan perasaan. Misalnya, seseorang yang sedang mendalami ilmu tasawuf secara intelektual mungkin telah menerima bahwa tasawuf adalah jalan kebajikan menuju Allah. Dalam kerangka tauhid, ia memahami bahwa jalan menuju Allah tidaklah mudah dan pasti dipenuhi ujian yang harus dilalui untuk mencapai kedekatan spiritual.

Namun dalam kenyataannya, konsep hanya tinggal sebagai konsep; pemahaman hanya menjadi pemahaman. Ketika ujian benar-benar datang—berupa penderitaan, kehilangan, atau rasa sakit—hati belum tentu selaras dengan pengetahuan yang sudah diyakini oleh pikiran. Ada benturan batin: keyakinan intelektual tidak serta-merta menjelma menjadi penerimaan emosional.

Apa yang terjadi? Hampir semua manusia, kecuali mereka yang istimewa, mengalami ketegangan batin seperti ini. Yakni pertentangan antara keyakinan yang sudah tertanam dalam pikiran dengan hati yang belum siap menerimanya secara utuh. Ketika penderitaan datang, seseorang merasa tidak sanggup menerimanya, meskipun ia tahu bahwa dalam konsep Ketuhanan, penderitaan itu adalah ujian dari Allah.

Dalam bahasa Sunda, terdapat satu kata yang menggambarkan situasi ini dengan sangat tepat, yaitu ‘ongkoh’.  Ongkoh berarti ‘padahal’; sebuah paradoks kehidupan: ongkoh sudah memahami agama, ongkoh sudah tahu bahwa ujian datang dari Allah, tapi tetap saja tidak bisa menerima kenyataan itu sepenuh hati.
Maka, penting untuk memahami bahwa selama pertentangan antara pikiran dan hati masih berlangsung dalam diri seseorang, ia belum dapat disebut sebagai orang yang sejahtera.

Sejahtera, dalam pengertian yang mendalam, adalah keadaan jiwa yang menerima segala sesuatu dengan ikhlas—baik dalam keadaan senang maupun susah. Dalam konteks keagamaan, orang yang sejahtera adalah orang yang menerima takdir Allah sepenuhnya. Substansi dari kesejahteraan adalah kebahagiaan batin yang tidak tergantung pada kondisi luar. Ia adalah ketenangan, ketika pikiran sejalan dengan hati, dan hati sejalan dengan pikiran. Apa yang diputuskan oleh hati disetujui oleh pikiran, dan apa yang dipikirkan disahkan oleh hati.

Pada tingkatan spiritual yang tinggi, keadaan seperti ini bisa mengarah pada kondisi mulāmatiyah, yakni keadaan jiwa orang-orang yang terhina di hadapan Allah karena menyadari adanya niat-niat tersembunyi yang tidak murni. Mereka mengalami konflik batin karena menyimpan tujuan ganda, meskipun secara lahir tampak berjalan di jalan spiritual.

Advertisement

Hati
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Genta Qalbu

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Genta Qalbu

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Genta Qalbu

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Genta Qalbu

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version