Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Bahaya dan Larangan Menjelekkan Orang Lain dalam Islam

Bahaya dan Larangan Menjelekkan Orang Lain dalam Islam

Genta Qalbu Senin, 15 Januari 2024 18:10 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
genta-golbu

Advertisement

Jangan ungkapkan kata-kata jelek yang membuat kebencian karena itu adalah dirinya, ungkapkanlah kata-kata baik bila itu menyenangkan bagi dirinya. (AOA)

GazanaPublika.com – Fenomena orang yang suka menjelekkan orang lain, baik dengan sengaja atau tanpa disadari, adalah suatu kategori perilaku yang tidak baik. Dalam perspektif Islam, tindakan tersebut sangat dilarang dan memiliki konsekuensi serius.

Advertisement

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan tegas tentang bahaya menjelekkan sesama muslim. Dalam hadis, beliau bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim).

Dengan kata lain, merendahkan atau menjelekkan sesama muslim sudah merupakan perbuatan buruk yang lebih dari cukup.

Rasulullah SAW juga menyatakan, “Mencaci orang Islam (Muslim) adalah perbuatan fasiq, dan membunuhnya adalah perbuatan kufur” (HR. Bukhari, Muslim).

Ini menunjukkan tingkat keberatan dalam mencaci sesama muslim, bahkan hingga pada level fasiq dan kufur.

Dalam ayat Alquran, Allah menegaskan agar orang-orang yang beriman tidak merendahkan kumpulan lain, karena mungkin kumpulan yang direndahkan itu lebih baik di mata Allah. Dilarang pula mencela diri sendiri atau memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.

Abi Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Jauhilah olehmu berprasangka. Sebab berprasangka adalah sejelek-jelek pembicaraan. Janganlah kamu saling mencari kejelekan orang lain, janganlah saling bermegah-megahan, dan janganlah saling dengki mendengki. Janganlah saling mengumbar emosi, dan janganlah saling menjauhi. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersatu dan bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara, yang di antara mereka dilarang saling menganiaya, saling menghina, dan saling meremehkan. Taqwa adalah di sini (sambil Rasulullah memberi isyarah ke arah dada). Cukuplah seorang muslim dikatakan melakukan kejelekan apabila dia menghina sesama muslim. Seorang muslim dengan muslim lainnya harus saling menjaga darah, kehormatan, dan harta kekayaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam ayat Alquran Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (QS. Al Hujuraat :11)

Kesimpulannya, menjelekkan orang lain sebenarnya mencerminkan bukan pada kejelekan dari orang yang dijelekkan, tetapi dengan menjelekkan orang lain, kita telah melakukan perbuatan yang tercela di mata Allah.

Dalam konteks yang lebih mendalam, menjelekkan orang lain sebenarnya merupakan cerminan dari keburukan dalam diri kita dan mengandung segala bentuk keburukan. Terlepas dari kenyataan bahwa belum tentu orang yang dijelekkan itu benar-benar jelek, mungkin hanya merupakan pandangan subyektif dari kita.

Jika kita memahami hal ini hanya sebatas persoalan dosa, banyak orang mungkin sudah memahaminya. Namun, menjelekkan orang lain memiliki dampak yang lebih luas, di mana kejelekan yang kita timpakan pada orang yang dijelekkan dapat berdampak pada diri kita sendiri. Artinya, tindakan ini dapat kembali merugikan diri kita sendiri. Ini adalah salah satu bentuk kekejian yang terdapat dalam diri kita.

Di sisi lain, menjelekkan orang lain sebenarnya berarti kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang tersebut, tanpa bermuhasabah untuk mempertimbangkan bahwa sebelum kita menjelekkan orang lain tersebut. Sebaiknya kita memandang diri kita sendiri apakah kita lebih baik atau malah lebih buruk dari orang yang dijelekkan. Hendaklah kita menjauhi perasaan merasa suci dan merasa lebih baik, karena itu merupakan perbuatan yang tercela, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyukainya.

Penulis:
AOA

Advertisement

Islam
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Genta Qalbu

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Genta Qalbu

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Genta Qalbu

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Genta Qalbu

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.