“Jangan adab dengan kebodohannya dan Jangan ilmu dengan kesombongannya” – AOA
GazanaPublika.com – Kadang kita menyatakan bahwa seseorang yang baik tetapi lugu. Akibatnya, mereka dimanfaatkan, diperalat, bahkan ditipu. Ini hanyalah gambaran realitas sosial. Sangat disayangkan jika orang baik itu lugu, tetapi ujung-ujungnya malah terkena dampak negatif. Lugu bukan berarti bodoh, namun mengandung kelemahan karena tidak bisa menentukan sikap dan tidak mampu menolak demi kebaikan atau hal yang lebih baik.
Uraian ini menekankan pentingnya memastikan seseorang beradab, bukan hanya lugu. Keadaan ini dapat merugikan diri sendiri. Orang beradab adalah orang yang baik, mampu menempatkan perilaku mereka dengan tepat dalam berbagai situasi dan kondisi. Oleh karena itu, adab harus disertai rasa peka dan sensitivitas terhadap keadaan serta kategori orang yang dihadapi. Kadang kita jadi bodoh oleh keadaan.
Begitu juga dengan menempatkan diri ketika kita memiliki ilmu. Ujian bagi seseorang yang memiliki ilmu adalah menghadapi kesombongan, yaitu merasa lebih tahu daripada orang lain. Terkadang, orang yang berilmu kehilangan adabnya ketika menghadapi orang yang dianggap kurang wawasan, tidak berpendidikan, atau jarang membaca. Terutama ketika berhadapan dengan orang yang tidak mengetahui, tetapi merasa lebih tahu dari dirinya sendiri. Akibatnya, hal ini dapat memicu emosionalitas dan kecenderungan meremehkan orang tersebut. Apa salahnya untuk bersabar dan menahan diri?
Seringkali, ketika disalahkan oleh orang yang tidak tahu, kita merasa geram dan ingin segera memotong pembicaraan. Bahkan kita mungkin langsung berkata, “Itu salah!” Hal ini dapat menyebabkan kita terjebak dalam perdebatan ego.
Orang yang cerdas tidak ingin direndahkan derajatnya. Akhirnya, etika dan sikap kita dapat hilang bersama dengan kehormatan dan martabat kita. Oleh karena itu, orang yang berilmu seharusnya bersabar dalam menghadapi kebodohan orang lain dan mampu membimbing mereka.
Alkisah, ketika Imam Syafi’i mengajarkan muridnya yang bodoh bernama Rabi’ bin Sulaiman. Sepenggal kisahnya begini:
Ketika menjelang waktu ashar, Imam Syafii berkata kepadanya, “Wahai muridku, sebatas inilah kemampuanku dalam mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, berdoalah kepada Allah agar berkenan mencurahkan ilmu-Nya untukmu. Tugasku hanya menyampaikan ilmu. Hanya Allah yang memberikan ilmu. Seandainya ilmu yang kuajarkan ini adalah sesendok makanan, pasti sudah kusuapkan ini kepadamu.”
Jangan sombong atas ilmu yang kita miliki!
