“Berbisnis dengan khayalan dan yang membelinya lamunan.” – AOA –
GazanaPublika.com – Ungkapan ini mengandung suatu realitas sosial, dimana banyak orang tidak bisa menempatkan di mana wilayah khayalan dan mana wilayah realita. Yang namanya realita itu bersifat real atau konkrit maka rumusan yang ditempuh pun harus konkrit, harus ada bendanya. Orang berbisnis itu harus ada modalnya dan ilmu dalam berbisnis. Kalau tidak ada modal maka yang harus dilakukan ialah bekerja. Kalau suatu saat ia ingin berbisnis maka dengan bekerja tersebut sebagai sarana untuk mengumpulkan modal. Inilah yang disebut dengan ikhtiar. Untuk menjual jasa pun harus ada modalnya minimal modalnya kecil sebagai sarana untuk beraktivitas.
Ini gambaran sederhana tentang menuju jalan ikhtiar. Lengkapnya tentu diketahui oleh para ahli ikhtiar yakni seperti pedagang, pengusaha, dan pekerja. Tulisan ini tidak untuk membicarakan hal tersebut secara panjang lebar tetapi mengambil hikmah mutiara di atas.
Ungkapan tersebut menekankan pentingnya kesiapan untuk melaksanakan sesuatu ikhtiar, bukan dengan ambisi apalagi mengandalkan khayalan belaka karena apabila itu terjadi hanyalan, sudah tentu yang ada hanya omong kosong. Sangat wajar apabila ungkapan itu menegaskan apabila kita berbisnis hanya mengandalkan khayalan maka yang membelinya adalah lamunan. Orang melamun itu sangat mudah, begitu juga orang yang menghayal sebab dengan melamun menghasilkan khayalan. Seseorang bisa saja menghayal menjadi seorang pengusaha yang sukses dan berkelas, pabriknya pun sangat besar, mendapatkan keuntungan dalam bentuk uang, namun ternyata uang yang diraih itu masih dalam khayalan.
Hidup itu berbeda dengan mimpi sebab mimpi itu tidak nyata dan hanya berada di alam tidur. Saat kita bermimpi semua seperti nyata dan ketika kita terbangun, kita akan sadar bahwa yang kita alami itu adalah mimpi. Lalu ketika kita bandingkan mimpi dengan khayalan ternyata sangat berbeda, alur cerita di dalam mimpi itu melompat-lompat karena sifatnya tidak nyata sedangkan kehidupan itu adalah satu rangkaian yang konkrit. Oleh karenanya apa yang kita usahakan pun harus konkrit, memerlukan persiapan dan rencana yang bagus lalu mewujudkannya dengan langkah yang nyata dan tepat. Hindari spekulasi sebab hanya penjudi yang menyukai spekulasi. Apabila hitungan itu di luar nalar maka pastinya itu bukanlah spekulasi tetapi lahir dari pengalaman yang panjang.
Uraian ini sebetulnya ingin menerangkan bahwa hidup di dalam khayalan itu gambaran hati di mana seseorang disebut hubbud-dunya. Berikhtiar dengan kasak-kusuk ke sana ke sini tetapi tidak konkrit dan ketika merencanakan sebetulnya itu rencana bohong maka inilah yang disebut hubbud-dunya.
Hubud-dunya merupakan satu perilaku yang tidak disukai oleh Allah. Maka untuk menghindari hubbud-dunya itu, lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bermanfaat khususnya ibadah kepada Allah. Selain beribadah. Seandainya rencana untuk usaha itu tidak ditemukan atau mungkin masih menganggur karena tidak bekerja maka lakukanlah aktivitas sosial yang bermanfaat seperti mengikuti suatu organisasi atau komunitas yang melaksanakan kegiatan pertolongan untuk masyarakat. Dengan begitu, apa yang kita lakukan itu tidak bersifat sia-sia tetapi memiliki nilai-nilai ibadah kepada Allah bukan saja ibadah mahdhah (ibadah utama) tetapi ghairi-mahdoh.
Seandainya kegiatan sosial pun tidak ada, kita bisa membantu pekerjaan orang tua di rumah. Penekanannya adalah melakukan satu aktivitas yang bermanfaat yang mengandung nilai-nilai ibadah.
Apabila segala sesuatu itu dilakukan karena Allah, Insya Allah pada waktunya, Allah akan menolong kita. Menolong orang lain pun adalah derajat. Yang penting kita harus menghindari segala aktivitas yang bersifat lamunan dan khayalan serta harapan-harapan yang tidak jelas. Karena idealnya bahwa harapan itu hanya ditujukan kepada Allah yakni berdoa. Wallahu alam bi shawwab.
