“Ilmu dihadapkan pada akal, cahaya itu dihadapkan pada hati, sedangkan dunia yang kita lihat ini sudah terbentuk.” – AOA
GazanaPublika.com – Dunia yang kita lihat telah ada sejak dahulu dan sudah menjadi takdir. Suka atau tidak suka, dengan ridha kita harus menghadapi kenyataan tersebut. Pahit getir, suka duka, seyogianya harus diterima dengan ikhlas. Jangan berpaling dari dunia, sebab manusia hidup di dunia. Dunia adalah ladang ibadah, tempat bercocok tanam.
Gunakanlah ilmu yang berpangkal pada akal untuk menghadapi dunia. Sebab dunia harus dihadapi dengan berikhtiar selama maqam kita adalah maqam ikhtiar. Utamakan usaha, sedangkan hasilnya tergantung pada ikhtiar yang dilakukan. Ikhtiar yang benar adalah yang dilakukan dengan cara yang dibenarkan oleh akal dan dicapai melalui ilmu. Meskipun demikian, pada akhirnya kita tetap menyerahkan semuanya kepada Allah SWT dan berdoa. Menolak berikhtiar berarti keluar dari nalar dan terjebak dalam khayalan serta harapan semata. Sikap ini biasanya ditemukan pada orang-orang yang malas.
Hasil, meskipun berasal dari ikhtiar, pada hakikatnya terjadi atas kehendak Allah. Jika berupa rezeki, dalam bentuk apa pun, hakikatnya adalah pemberian dari Allah. Manusia mustahil menciptakan rezeki sendiri karena hakikatnya rezeki sudah disediakan oleh Allah SWT. Manusia hanya perlu berusaha untuk meraihnya. Dengan demikian, dunia hanya bisa diraih melalui akal dan ilmu.
Apakah ada cara lain untuk meraih dunia? Tentu ada, yaitu dengan bertawakal. Namun, tawakal adalah maqam bagi mereka yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah SWT. Niat mereka bukan untuk meraih dunia, tetapi mengharap rahmat dan ridha Allah. Allah-lah yang kemudian menjamin rezeki orang-orang yang bertawakal. Tawakal harus dilakukan dengan total kepada Allah, tidak setengah-setengah. Sedangkan ikhtiar biasanya berniat untuk meraih dunia, meskipun sebagian hasilnya digunakan untuk beribadah.
Sementara itu, cahaya ditujukan kepada hati. Cahaya bukanlah ilmu; justru ia kebalikan dari ilmu. Cahaya adalah petunjuk dari Allah SWT yang harus diikuti melalui bimbingan guru. Cahaya tidak digunakan untuk mencari dunia, melainkan untuk mendekatkan diri dan mengenal Allah SWT.
Cahaya bersifat di luar nalar. Misalnya, taat kepada orang tua, guru, dan pemimpin. Terkadang akal dapat memahami pentingnya ketaatan tersebut, tetapi ada kalanya perintah itu bertentangan dengan nalar atau keinginan pribadi. Namun, dalam rangka menaati perintah, seseorang harus mengesampingkan pandangan dan keinginannya sendiri. Proses inilah yang disebut cahaya, dan hanya hati yang mampu melaksanakan ketaatan semacam itu.
Apabila seseorang sudah taat kepada orang tua, guru, dan pemimpin, niscaya ia akan taat kepada Allah SWT. Sebaliknya, jika membangkang kepada mereka, kemungkinan besar ia juga akan membangkang kepada Allah. Oleh karena itu, cahaya hanya bisa bersemayam di dalam qalbu yang bersih. Keberadaan cahaya dalam diri menjadi sumber makrifat kepada Allah.
