“Kebodohan kita pada jasad tidak bisa menempatkan kesalahan dan kebenaran atau baik dan buruk” – AOA
GazanaPublika.com – Kebodohan pada jasad adalah kebodohan yang bersumber dari jasad itu sendiri. Jasad dalam konteks ini merujuk pada hawa nafsu, karena unsur inilah yang menjadi sumber utama kebodohan. Hawa nafsu bersifat jasadiah. Contohnya, seorang profesor sekalipun, jika terjerumus dalam cinta yang berlebihan, dapat terlihat bodoh. Itulah bentuk kebodohan yang berasal dari jasad, sebab hawa nafsu bersumber dari jasad.
Hawa nafsu bukanlah tempat untuk menilai kebenaran atau menentukan baik dan buruk. Ia adalah wadah dari rasa yang zahir dan perasaan. Rasa zahir di sini meliputi dorongan dasar seperti keinginan makan, minum, dan syahwat. Sementara perasaan mencakup dorongan emosional yang sering menjerumuskan, seperti cinta buta atau ketergantungan berlebihan terhadap sesuatu hingga melalaikan Allah, yang biasanya berujung pada penyesalan bahkan malapetaka.
Sumber kebenaran sejati adalah cahaya Allah dan kalamullah (firman Allah SWT). Cahaya Allah berada di dalam hati, sedangkan kalamullah adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi sumber kebenaran yang mutlak dalam bentuk kitabiyah yang harus dibaca dan dipahami. Namun, kadang pemahaman terhadapnya bisa saja menyimpang jika dilandasi hawa nafsu. Oleh karena itu, sumber utama kebenaran adalah cahaya Allah yang terdapat dalam hati yang telah disucikan dari hawa nafsu.
Lalu, di mana peran akal? Akal sejatinya adalah cahaya yang disimpan Allah SWT di dalam diri manusia, sebab ia mampu memahami kebenaran. Namun, akal sering kali dikuasai oleh hawa nafsu sehingga lumpuh dalam membedakan yang benar dan yang salah. Oleh sebab itu, diperlukan kombinasi akal sehat dan hati yang bersih.
Akal sehat adalah akal yang digunakan untuk berpikir rasional, mempertimbangkan apa yang perlu dilakukan, berpikir apa yang penting dipikirkan dan tidak menyimpang ke hal-hal yang sia-sia. Sementara hati yang bersih adalah hati yang bebas dari pengaruh hawa nafsu. Sifat alami hati adalah jernih, terutama jika telah mencapai tingkat fu’ad, shaghafah, lubb, dan sirr. Hati pada tingkat ini menjadi wadah cahaya yang akan menerangi akal dan hati itu sendiri.

