Penulis: Kharisma J. Malaka
GazanaPublika.com – Sejarah Nusantara yang kita kenal saat ini tidak hanya dibentuk oleh tradisi lisan dan tulisan lokal, tetapi juga oleh tangan-tangan para orientalis Eropa yang hadir sejak awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20. Dalam proses ini, Belanda dan Portugis memegang peranan berbeda, namun sama-sama signifikan. Peran mereka tidak sebatas merekam peristiwa, melainkan juga mengubah, menginterpretasi, bahkan membingkai ulang sejarah sesuai kepentingan politik dan budaya mereka.
Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang masuk ke perairan Nusantara pada awal abad ke-16. Mereka bukan filolog atau editor naskah seperti generasi orientalis Belanda yang datang kemudian, melainkan pelaut, misionaris, pedagang, dan pejabat kolonial. Tokoh seperti Tomé Pires, lewat Suma Oriental (1512–1515), memberikan gambaran awal tentang Jawa, Sunda, dan Banten, memuat rincian struktur kerajaan, pelabuhan, hingga jalur perdagangan. Duarte Barbosa dan António Galvão mencatat hubungan Maluku dengan Jawa, sementara Fernão Mendes Pinto dan Gaspar da Cruz merekam cerita rakyat dan adat istiadat. Penulis seperti João de Barros dan Diogo do Couto menyusunnya dalam karya besar Décadas da Ásia, sejarah resmi penjelajahan Portugis.
Meskipun jarang menyalin naskah babad secara langsung, para penulis Portugis ini sering mencatat cerita lisan dari juru bahasa atau informan lokal. Catatan mereka berpotensi menjadi salah satu sumber awal yang kemudian diadaptasi atau diintegrasikan ke dalam babad yang muncul pada abad-abad berikutnya. Dengan demikian, Portugis secara tidak langsung ikut membentuk narasi sejarah Jawa dan Banten, walaupun lewat lensa pengamatan Eropa awal yang sarat keterbatasan budaya.
Memasuki era dominasi Belanda, khususnya abad ke-19 dan ke-20, hubungan Eropa dengan naskah-naskah lokal berubah drastis. Para orientalis Belanda bukan hanya mengumpulkan, tetapi juga menyunting, menyusun ulang, dan menerbitkan naskah babad dalam format cetakan. Tokoh seperti J.J. Meinsma mengedit Babad Tanah Jawi (1874) dengan menggabungkan beberapa naskah, menghapus unsur mitologis, dan menyusunnya mengikuti kronologi Eropa. J. Brandes, kolektor naskah Jawa, Bali, dan Banten, menambahkan catatan interpretatif yang sering kali memuat pandangan kolonial tentang masyarakat pribumi.
Tokoh lain, C. Snouck Hurgronje, meski tidak langsung mengedit babad, berperan besar dalam mengarahkan kebijakan kolonial Belanda terhadap sumber sejarah lokal. Ia mendorong pengumpulan naskah untuk dianalisis demi kepentingan politik, serta mengatur narasi agar sejalan dengan strategi pengendalian sosial. H.J. de Graaf kemudian menautkan isi babad seperti Babad Banten dan Babad Cirebon dengan arsip VOC, lalu membingkainya dalam kronologi Barat.
Di bidang filologi, Th. Pigeaud melalui Literature of Java membuat katalog besar naskah Jawa, mengklasifikasikan semua teks tradisional, termasuk babad, ke dalam kategori tertentu yang membentuk persepsi akademik hingga kini. Sementara itu, W.L. Olthof menerjemahkan Babad Tanah Jawi (1941) menjadi rujukan utama studi sejarah Jawa, meski teksnya sudah jauh dari manuskrip asli.
Jika orientalis Portugis memberi kontribusi awal melalui deskripsi dan laporan lapangan, orientalis Belanda menguasai tahap berikutnya: mengontrol isi, bentuk, dan distribusi teks sejarah lokal. Dari sini, babad-babad yang kita kenal sekarang sering kali adalah versi yang sudah melewati seleksi, pemangkasan, dan penyusunan ulang sesuai kepentingan kolonial.
Dampak dari proses ini sangat besar. Narasi sejarah yang sampai ke pembaca modern sering kali telah dikupas dari unsur-unsur lokal yang tidak sesuai dengan kerangka Eropa, dan ditambah interpretasi kolonial yang memperkuat legitimasi kekuasaan mereka. Seperti yang pernah diingatkan oleh Hoesein Djajadiningrat dan Uka Tjandrasasmita, babad yang kita baca hari ini tidak murni lagi mewakili teks abad ke-16–17, melainkan hasil penyalinan, penyuntingan, dan kadang manipulasi yang panjang.
Sejarah Nusantara, dalam bentuk tertulisnya, adalah medan tarik-menarik antara ingatan lokal dan intervensi asing. Memahami peran orientalis, baik Portugis maupun Belanda, bukan sekadar soal menelusuri jejak akademik mereka, tetapi juga upaya merebut kembali kendali atas narasi yang pernah diubah demi kepentingan kekuasaan luar. Dengan kesadaran ini, pembacaan terhadap babad dan catatan lama menjadi lebih kritis, sekaligus membuka peluang untuk menghidupkan kembali sejarah dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kenyataan lokal.
