Advertisement
Penulis: Anton Gebang
Jejak Perenungan Sang Proklamator di Kota Pengasingan yang Melahirkan Dasar Negara.
Advertisement
GazanaPublika.com — Sebuah Surat Keputusan dari Bogor. Kisah ini bermula bukan di Flores, melainkan di Batavia. Pada 1 Agustus 1933, Soekarno ditangkap seorang Komisaris Polisi Belanda saat keluar dari kediaman Mohammad Husni Thamrin. Ia dijebloskan ke penjara tanpa proses peradilan. Lalu, pada 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge menerbitkan surat keputusan pengasingan: Soekarno harus dikirim ke Ende, Flores, sebuah pulau kecil yang jauh dari pusaran politik Jawa. Tujuannya jelas—memutus tali antara sang pemimpin dan massa loyalisnya.
Bersama istrinya Inggit Garnasih, ibu mertuanya Ibu Amsi, dan anak angkatnya Ratna Djuami, Soekarno bertolak dari Pelabuhan Surabaya menaiki kapal barang KM Van Riebeeck. Setelah delapan hari mengarungi laut, mereka tiba di Pelabuhan Ende pada 14 Januari 1934. Rombongan langsung melapor ke kantor polisi, lalu digiring ke sebuah rumah sederhana beratap seng di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Rumah itu tidak bernomor, dikelilingi gubuk-gubuk beratap ilalang.
Ende yang mereka temui adalah kota kecil yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk Bandung atau Surabaya. Namun justru di kesunyian inilah, seperti dicatat sejarawan Belanda Lambert Giebels, Soekarno mengalami masa yang paling menentukan dalam pembentukan pemikirannya.
Tokoh-Tokoh yang Menemani Sang Buangan, Haji Abdullah Ambuwaru: Sang Pemilik Rumah
Rumah tempat Soekarno tinggal selama empat tahun sembilan bulan empat hari itu adalah milik Haji Abdullah Ambuwaru, seorang saudagar Muslim taat. Rumah sederhana yang dibangun pada 1927 ini disewakan kepada Belanda, tetapi Haji Abdullah tetap memperlakukan penghuninya dengan hormat.
Kelak, pada kunjungan Soekarno ke Ende tahun 1951 sebagai Presiden RI, Haji Abdullah adalah orang yang ditemuinya lebih dulu. Bung Karno meminta agar rumah itu dijadikan museum. Pada kunjungan kedua, 16 Mei 1954, rumah tersebut diresmikan sebagai “Rumah Museum” oleh Presiden Soekarno.
Bertha: Pembantu Rumah Tangga Beragama Katolik
Di dalam rumah Kampung Ambugaga itu bekerja seorang perempuan setempat bernama Bertha, seorang Katolik yang mengurus kebutuhan sehari-hari keluarga Soekarno. Kehadiran Bertha, seperti dicatat harian Kompas, adalah simbol kecil tetapi bermakna: seorang tokoh nasionalis Muslim dilayani seorang perempuan Katolik, di sebuah pulau mayoritas Katolik, di rumah seorang Haji. Toleransi hidup dalam pori-pori keseharian, bukan sekadar retorika.
Pater Gerardus Huijtink SVD: Sahabat dari Biara St. Yosef
Tak jauh dari rumah pengasingan berdiri Biara St. Yosef milik Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), tarekat misi Katolik yang menjadikan Ndona, Ende, sebagai pusat misi mereka sejak 1915. Di sinilah tinggal Pater Gerardus Huijtink SVD, Pastor Paroki Gereja Kristus Raja Ende.
Begitu mendengar seorang tokoh pergerakan diasingkan tak jauh dari biaranya, Huijtink justru mendatanginya. Perkenalan itu berkembang menjadi persahabatan. Menurut Lambert Giebels dalam Soekarno: Nederlandsch Onderdaan, Een Biografie 1901–1950 (1999), Pater Huijtink adalah orang pertama yang selalu ditemui Bung Karno tiap kali datang ke biara. Mereka berbincang panjang sambil menyeruput kopi Ende.
Pater Johannes Bouma SVD: Pemimpin Regio dan Pembuka Perpustakaan
Pater Dr. Johannes Bouma SVD, ketika itu menjabat Pater Provinsial atau Pemimpin SVD Regio Sunda Kecil, adalah tokoh kunci lainnya. Melalui Bouma, Soekarno memperoleh izin membaca di perpustakaan SVD—sebuah kemewahan intelektual di pulau terpencil. Perpustakaan itu menyimpan karya-karya filsafat, teologi, dan literatur Barat yang sulit diakses di rumah pengasingan yang diawasi ketat.
Menariknya, meski Bouma adalah warga negara Belanda, ia bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia bahkan mendorong Soekarno agar tak pernah menyerah pada cita-cita memerdekakan bangsanya. Bouma bersandar pada ajaran Ensiklik Rerum Novarum Paus Leo XIII, yang menegaskan hak kaum tertindas atas kemerdekaan.
Pater Johannes van der Heijden SVD dan Bruder Lambertus
Dua sosok lain yang kerap menjadi teman diskusi Bung Karno adalah Pater Johannes van der Heijden SVD, mantan sekretaris uskup, dan Bruder Lambertus, biarawan yang bekerja di bengkel pertukangan SVD. Bruder Lambertus adalah orang kedua yang biasa ditemui Soekarno setelah Huijtink, sesuai dengan biografi Giebels.
Hassan: Sahabat Pena dari Bandung
Meski jauh dari Jawa, Soekarno menjaga tali intelektual dengan tokoh Islam Ahmad Hassan (A. Hassan), ulama modernis dari Persatuan Islam (Persis) di Bandung. Korespondensi mereka berlangsung intens antara 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Surat-surat ini kemudian dikumpulkan dan diterbitkan sebagai Surat-Surat Islam dari Endeh.
Di dalamnya, Soekarno merumuskan pandangan-pandangannya tentang Islam, negara, dan masyarakat modern—sebuah dialog dua arah yang membentuk pemikirannya tentang hubungan agama dan kebangsaan.
Keluarga dan Kelimoetoe Toneel Club
Tak boleh dilupakan Inggit Garnasih, sang istri yang setia menemani penderitaan pengasingan; Ibu Amsi, mertua yang wafat dan dimakamkan di Ende; serta anak angkat mereka Ratna Djuami dan Kartika. Merekalah keluarga inti yang menopang mental Soekarno selama masa sulit itu.
Untuk menghidupi jiwa dan menyalurkan gagasan, Soekarno mendirikan Kelimoetoe Toneel Club, kelompok sandiwara beranggotakan sekitar 50 orang dari beragam kalangan: petani, nelayan, sopir, montir, pemetik kelapa, tukang jahit, guru, dan pemuda setempat. Ia mengajari mereka mengeja hingga berakting. Giebels mencatat, Bung Karno menulis 12 naskah drama di Ende, termasuk yang berjudul misterius Indonesia 1945—seolah sebuah ramalan. Pementasan dilakukan di Gedung Immaculata milik misi Katolik, yang dipinjamkan oleh Pater Huijtink.
Lima Butir Mutiara di Bawah Pohon Sukun
Sekitar 700 meter dari rumah pengasingan, di tepi Pantai Ende, tumbuh sebatang pohon sukun bercabang lima menghadap Teluk Ende. Ke tempat inilah Soekarno kerap berjalan seorang diri, terutama pada Jumat malam. Ia duduk berjam-jam, menatap laut, membiarkan pikirannya berkelana.
Buku Bung Karno dan Pancasila: Ilham dari Flores untuk Nusantara mengabadikan ucapan Soekarno tentang tempat itu: “Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula, kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”
Perenungan itu bukan proses instan. Ia adalah hasil sintesis panjang: dari pergaulan dengan Haji Abdullah dan warga Muslim Ende, dari diskusi teologi dan filsafat dengan Pater Huijtink dan Pater Bouma di Biara St. Yosef, dari surat-menyurat dengan A. Hassan tentang Islam dan negara, dari bacaan di perpustakaan SVD, dari sandiwara bersama rakyat kecil di Kelimoetoe Toneel Club, dan dari kesunyian panjang menghadap laut.
Ketika pada 1 Juni 1945 Soekarno berpidato di hadapan sidang BPUPKI dan menawarkan lima dasar negara—Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa—ia sesungguhnya sedang membacakan hasil perenungan Ende. Ketuhanan yang menghormati semua agama, kemanusiaan yang melampaui batas suku, mufakat yang lahir dari dialog, keadilan sosial yang menghapus jarak antara priyayi dan rakyat kecil—semuanya adalah pelajaran Ende.
Pohon sukun asli itu tumbang pada 1960. Pemerintah menanam pohon pengganti pada 1981. Kini kawasan itu dikenal sebagai Taman Perenungan Bung Karno atau Taman Renungan Pancasila di Kelurahan Rukun Lima. Sebuah patung Soekarno duduk merenung berdiri di sana, menghadap laut yang sama.
Kekaguman terhadap Toleransi: Persahabatan Tanpa Sekat
Yang menakjubkan dari Ende bukan sekadar bahwa Soekarno merumuskan Pancasila di sana, melainkan bagaimana itu terjadi. Sebuah adegan kecil menggambarkannya dengan telak.
Setiap kali berjalan berdampingan dengan pastor Belanda, Soekarno—yang lebih muda dan seorang tahanan—selalu menempatkan diri di sisi kiri. Dalam budaya kesopanan Jawa dan Barat, berjalan di sebelah kiri berarti melindungi orang di sebelah kanan. Suatu hari, Pater Huijtink berbalik: ia memutuskan berjalan di sisi kiri Bung Karno. Sebuah gestur kecil, tetapi mendalam maknanya. Seorang misionaris Katolik Belanda, warga negara penjajah, memilih “melindungi” seorang nasionalis Muslim yang berjuang melawan pemerintahnya sendiri.
Otto Gusti Madung, dalam makalah Pancasila dalam Pusaran Diskursus Liberalisme versus Komunitarisme, menyebut persahabatan Soekarno dengan para pastor Belanda ini sebagai “persahabatan tanpa sekat”. Dari diskusi-diskusi di beranda biara, Soekarno mematangkan rumusan dasar negara yang plural.
Kekaguman terhadap toleransi Ende juga terekam dalam sebuah percakapan legendaris. Menjelang kepergian Soekarno dari Ende, Pater Huijtink konon berujar: “Tuan Soekarno, jika suatu saat Tuan kembali lagi ke Ende, Tuan akan datang sebagai presiden Indonesia.” Kata-kata itu diucapkan sebagai intuisi—dan menjadi kenyataan.
Pada 1951, Soekarno kembali ke Ende sebagai Presiden RI. Di atas panggung di Lapangan Ende, ia bertanya di tengah kerumunan: “Ketika saya berada di Ende tahun 1934 saya berkenalan dengan seorang pater yang bernama Huijtink. Adakah pater tersebut di antara saudara-saudara?” Pater Huijtink mengangkat tangan dan naik ke panggung. Soekarno berkata: “Dulu, aku datang ke Ende sebagai tahanan dan orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali ke Ende sebagai presiden. Apa yang Pater Huijtink minta dari presiden?”
Jawaban Huijtink singkat: “Tuan Presiden, saya tidak meminta apa pun yang lain. Saya hanya punya satu keinginan: menjadi warga negara Indonesia.” Permintaan itu langsung dikabulkan.
Warisan Ende
Setelah empat tahun sembilan bulan empat hari, tepatnya pada 18 Oktober 1938, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Ia meninggalkan Ende sebagai orang yang berbeda dari saat pertama kali menjejakkan kaki di pelabuhan pulau bunga itu. Ia datang sebagai nasionalis yang gelisah; ia pergi sebagai pemikir yang telah menemukan formulasi bagi bangsanya.
Jalan yang setiap hari dilalui Bung Karno dari rumah pengasingan ke Biara St. Yosef kini diberi nama Jalan Soekarno. Vatikan, kelak, menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Soekarno tercatat menerima tiga medali kehormatan tertinggi dari Vatikan.
Warisan terbesar Ende bukanlah pohon sukun, bukan rumah museum, bukan pula patung yang menghadap laut. Warisan terbesarnya adalah pelajaran bahwa Pancasila lahir dari pengalaman hidup bersama yang plural—dari rumah seorang Haji, tangan seorang perempuan Katolik, buku-buku di perpustakaan biara Belanda, surat-surat seorang ulama modernis, dan panggung sandiwara yang dimainkan petani, nelayan, dan tukang jahit.
Ende mengingatkan kita bahwa toleransi bukanlah teori yang dirumuskan di menara gading, melainkan praktik keseharian yang lahir dari kesediaan mendengar yang berbeda. Di sudut sepi Pulau Flores itulah, di antara laut dan sunyi, sebuah bangsa menemukan wajahnya sendiri.
Referensi
Buku Sejarah (termasuk sumber Belanda):
1. Giebels, Lambert J. (1999). Soekarno: Nederlandsch Onderdaan. Een Biografie 1901–1950. Amsterdam: Bert Bakker. (Edisi Indonesia: Soekarno: Biografi 1901–1950, terj. I. Kapitan-Oen, Jakarta: Grasindo, 2001.)
2. Giebels, Lambert J. (2001). Soekarno: President. Een Biografie 1950–1970. Amsterdam: Bert Bakker.
3. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2014). Sukarno di Pengasingan Ende 1934–1938: Empat Tahun Sembilan Bulan Empat Hari. Jakarta. ISBN 978-602-1749-70-8.
4. Aman, Peter C. & Mukese, Yohanes. Bung Karno dan Pancasila: Ilham dari Flores untuk Nusantara. Ende: Penerbit Nusa Indah.
5. Soekarno. Surat-Surat Islam dari Endeh (korespondensi Soekarno dengan A. Hassan, 1934–1936). Dimuat dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I.
6. Adams, Cindy. (1965). Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. Indianapolis: Bobbs-Merrill.
Jurnal dan Makalah Ilmiah:
7. Madung, Otto Gusti. Pancasila dalam Pusaran Diskursus Liberalisme versus Komunitarisme. Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.
8. Een Gordiaanse Knoop: De Soekarno-biografie van Lambert Giebels (Ulasan atas dua jilid biografi Giebels). Vrije Universiteit Amsterdam.
9. Skripsi: Pengasingan Soekarno di Ende Flores Tahun 1934–1938. Universitas PGRI Yogyakarta.
Sumber Cagar Budaya dan Arsip Digital:
10. Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Berkas: Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Ende (No. PO2015070700009).
11. Repositori Digital Kemendikbudristek: Sukarno di Pengasingan Ende 1934–1938.
12. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dokumentasi Taman Perenungan Bung Karno, Ende.
Artikel ini disusun berdasarkan riset lintas sumber sejarah, biografi, dan dokumentasi kebudayaan. Dialog dan kutipan langsung yang dimuat berasal dari sumber-sumber yang dirujuk di atas.
Penulis adalah lowyer dan dosen tinggal di Tangerang
Advertisement
