Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Apakah Indonesia Dijajah 350 Tahun? – Masa Kekuasaan Inggeris (edisi 5)

Apakah Indonesia Dijajah 350 Tahun? – Masa Kekuasaan Inggeris (edisi 5)

Historika Rabu, 29 Mei 2024 16:00 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
proklamasi-kemerdekaan
Proklamasi Kemerdekaan

Advertisement

GazanaPublika.com – Peralihan kekuasaan dari Herman Willem Daendels kepada Thomas Stamford Raffles di Hindia Belanda merupakan cerminan dari gejolak politik dan militer yang terjadi di Eropa dan Asia pada awal abad ke-19. Pada masa itu, Eropa tengah berada dalam cengkeraman Perang Napoleon, sebuah konflik besar yang melibatkan Prancis, dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, melawan koalisi berbagai negara termasuk Inggris. Keadaan ini membawa dampak signifikan pada posisi politik dan militer Belanda, yang telah berada di bawah kendali Prancis sejak pendudukan pada tahun 1795.

Herman Willem Daendels, yang dikirim oleh Louis Bonaparte, Raja Belanda sekaligus adik dari Napoleon, ditugaskan untuk mengelola dan mempertahankan Hindia Belanda dari ancaman Inggris. Selama masa jabatannya dari tahun 1808 hingga 1811, Daendels berupaya memperkuat pertahanan wilayah dan memperbaiki infrastruktur penting, salah satunya adalah pembangunan Jalan Raya Pos yang strategis. Namun, situasi di Eropa terus memburuk bagi Prancis. Kekalahan-kekalahan Prancis di medan perang Eropa memengaruhi posisi Belanda di luar negeri. Pada tahun 1810, Napoleon mengintegrasikan Kerajaan Belanda ke dalam Kekaisaran Prancis, yang semakin memperburuk posisi koloni Belanda.

BACA JUGA:  Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Advertisement

Pada tahun 1811, Inggris, yang saat itu menjadi kekuatan dominan di lautan, melancarkan serangan ke Jawa. Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens, yang menggantikan Daendels, berusaha mempertahankan wilayah tersebut tetapi tidak mampu menahan gempuran pasukan Inggris. Pada tanggal 18 September 1811, Janssens menyerah kepada pasukan Inggris di Tuntang, menandai berakhirnya kekuasaan Belanda di Jawa dan dimulainya era baru di bawah pemerintahan Inggris.

Setelah penaklukan ini, Thomas Stamford Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa oleh Inggris. Raffles, yang menjabat dari tahun 1811 hingga 1816, dikenal karena berbagai reformasi yang ia terapkan di wilayah tersebut. Ia memperbaiki sistem administrasi, menghapus perbudakan, dan mendorong perdagangan bebas. Raffles juga memiliki minat yang mendalam terhadap sejarah dan budaya Jawa, yang terlihat dari usahanya dalam mendokumentasikan dan mempelajari Candi Borobudur.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Meskipun Inggris sempat berkuasa, Perjanjian London tahun 1814, yang mengakhiri Perang Napoleon, mengatur pengembalian koloni-koloni yang diduduki Inggris kepada Belanda. Pada tahun 1816, Inggris mengembalikan Hindia Belanda kepada Belanda, sehingga Belanda melanjutkan kontrol mereka atas wilayah tersebut.

Peralihan kekuasaan dari Daendels kepada Raffles menggambarkan dinamika geopolitik global pada masa itu, di mana perubahan besar di Eropa secara langsung memengaruhi nasib koloni-koloni di Asia. Konflik dan perubahan aliansi di benua Eropa menciptakan dampak yang luas dan mendalam, yang dirasakan hingga ke wilayah-wilayah jauh seperti Hindia Belanda.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Mumi Dua Ribu Tahun, Tubuh Lady Dai Masih Tampak Segar

Historika

Lada ‘Black Gold’, Artisnya Rempah-Rempah Zaman Kolonial

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version