Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Benyamin Sueb ‘Sang Legendaris Betawi’

Benyamin Sueb ‘Sang Legendaris Betawi’

Historika Senin, 2 Desember 2024 20:32 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: pinterest.com

Advertisement

GazanaPublika.com – Benyamin Sueb adalah salah satu ikon seni Betawi yang meninggalkan warisan tak ternilai di dunia hiburan Indonesia. Lahir pada 5 Maret 1939 di Kemayoran, Batavia (sekarang Jakarta), ia merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Orang tuanya, Sukirman, yang kemudian dikenal dengan nama Suaeb, berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Sukirman merantau ke Batavia untuk menempuh pendidikan di Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan kemudian bekerja sebagai tukang bubut di Manggarai. Di sinilah ia bertemu dengan Siti Aisyah, gadis Betawi asli, yang kemudian menjadi istrinya.

Keluarga Benyamin berasal dari garis keturunan tokoh terpandang di Betawi. Ibu Benyamin, Aisyah, adalah putri dari Haji Rofiun, yang juga dikenal dengan nama Jiung. Rofiun merupakan seorang pendekar Betawi yang dihormati dan dermawan, serta dikaitkan dengan legenda Si Jago, pendekar terkenal di Betawi. Ia dikenal sebagai tokoh masyarakat Kemayoran yang tanahnya sangat luas dan diwariskan kepada anak-anaknya. Bendungan Jago, yang menjadi salah satu kawasan ikonik di Kemayoran, diyakini memiliki hubungan sejarah dengan kakeknya.

BACA JUGA:  Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

Advertisement

Sayangnya, ayah Benyamin meninggal ketika ia baru berusia dua tahun, meninggalkan Aisyah untuk membesarkan delapan anaknya seorang diri. Dalam lingkungan keluarga yang penuh keterbatasan, kreativitas Benyamin sudah terlihat sejak kecil. Bersama saudara-saudaranya, ia membentuk Orkes Kaleng, sebuah grup musik sederhana yang memanfaatkan alat musik seadanya. Masa kecil Benyamin di kawasan Bendungan Jago, dengan latar budaya Betawi yang kental, menjadi pondasi kuat bagi karya-karyanya di kemudian hari.

Benyamin mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat Bendungan Jago sebelum akhirnya meniti karier di dunia seni. Karier musiknya dimulai ketika ia bergabung dengan grup Naga Mustika. Bersama grup tersebut, Benyamin mulai dikenal luas sebagai penyanyi berbakat. Kesuksesan besar datang melalui duetnya dengan Ida Royani, yang menjadi salah satu duet paling terkenal pada masa itu. Lagu-lagu mereka seperti “Hujan Gerimis” dan “Nonton Bioskop” menjadi ikon yang tidak lekang oleh waktu. Popularitas Benyamin di dunia musik dan perfilman mengukuhkan dirinya sebagai salah satu seniman terbesar Indonesia.

BACA JUGA:  Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

Nama besar Benyamin juga diabadikan dalam sejarah Jakarta melalui Jalan Haji Benyamin Sueb di Kemayoran, yang menjadi pengingat akan kontribusinya terhadap budaya Betawi dan seni Indonesia. Jalan ini melintasi beberapa kawasan penting dan menjadi lokasi acara tahunan seperti Pekan Raya Jakarta. Kisah hidup Benyamin adalah potret tentang perjuangan, kreativitas, dan pengabdian terhadap budaya lokal yang tetap dikenang hingga kini.

Advertisement

Budaya Sejarah
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Historika

Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

Historika

Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

Historika

Bagaimana Cara Uji Umur Artefak

Historika

Depopulasi Masyarakat Nusantara Era Kuno Akibat Wabah dan Bencana Alam

BERITA TERBARU

Rizal Fadillah Jadi Tersangka: Pengamat Nilai Isu Ijazah Jokowi Lebih Menonjol daripada Identitas dan Stabilitas PSI di Jabar

Ledakan Gudang Amunisi Puspalad Madiun: Satu Prajurit Gugur, Penyebab Masih Diselidiki

Pemerintah Alokasikan Rp 3 Miliar untuk Setiap Koperasi Desa Merah Putih

Dokter Tifa: 12 Tahun Jokowi Pejabat, Baru Akui Lulusan UGM Tahun 2017

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.