Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Situs Banten Girang: Jejak Sejarah di Hulu Sungai Cibanten

Situs Banten Girang: Jejak Sejarah di Hulu Sungai Cibanten

Historika Kamis, 30 Januari 2025 21:30 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Foto: dok. Merdeka.com

Advertisement

GazanaPublika.com – Situs Banten Girang adalah situs arkeologi penting yang terletak di Kampung Talaga, Desa Sempu, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten. Nama “Banten Girang” berasal dari bahasa Jawa Kuno, di mana “Banten” berarti “tempat untuk menaruh sesaji atau persembahan,” sedangkan “Girang” dapat diartikan sebagai “hulu” atau “atas.” Secara harfiah, Banten Girang berarti “Banten Hulu,” yang merujuk pada lokasinya di hulu Sungai Cibanten, sekitar 10 kilometer di selatan Pelabuhan Banten Lama.

Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Claude Guillot pada tahun 1988 hingga 1992 mengungkapkan bahwa Banten Girang merupakan permukiman yang berkembang sejak abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi. Struktur pertahanan berupa parit dan dinding tanah dengan pola tidak teratur menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting dalam aspek religius dan administratif.

Advertisement

Berbagai artefak ditemukan di situs ini, termasuk pecahan keramik dari Tiongkok, prasasti, peralatan logam, serta struktur bangunan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Buddha. Penemuan ini mengindikasikan bahwa Banten Girang pernah menjadi pusat pemerintahan lokal sebelum kedatangan Islam di wilayah Banten.

Selain jejak arkeologis, situs ini juga memiliki nilai spiritual dengan adanya makam keramat yang dikenal sebagai Makam Ki Jongjoo. Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan Ki Mas Jong dan Ki Mas Agus Ju Sempu, yang disebut sebagai penyebar Islam pertama di Banten.

Meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, Situs Banten Girang masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelestariannya. Beberapa struktur dan artefak di lokasi ini membutuhkan perhatian lebih lanjut agar warisan budaya ini tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Secara keseluruhan, Situs Banten Girang memberikan wawasan mendalam mengenai sejarah dan budaya Banten pada masa pra-Islam serta perannya sebagai pusat pemerintahan dan keagamaan di masa lalu. Keberadaannya menjadi bukti penting bagi perkembangan peradaban di Banten sebelum berdirinya Kesultanan Banten.

Kerajaan Banten Girang

Banten Girang merupakan situs arkeologi penting yang memberikan wawasan mendalam tentang sejarah awal Banten sebelum kedatangan Islam. Keberadaannya didokumentasikan dalam beberapa naskah kuno yang mencatat peristiwa sejarah di wilayah ini.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Salah satu naskah yang membahas Banten Girang adalah Wawacan Banten Girang. Naskah ini mengisahkan peperangan antara Raja Bahujaya dari Banten Girang dengan Raja Surkarma dari Lampung. Konflik tersebut berakhir dengan kemenangan pihak Banten Girang, yang menunjukkan kekuatan militer dan pengaruh politiknya pada masa itu.

Selain itu, Babad Banten juga menyebutkan Banten Girang dalam konteks penaklukan wilayah Banten oleh pasukan Islam. Peristiwa ini sering diinterpretasikan sebagai perebutan kota Banten Girang, yang menandai peralihan dari era Hindu-Buddha ke era Islam di Banten. Naskah ini juga menyinggung keterkaitan Banten Girang dengan Gunung Pulosari, yang diduga memiliki nilai religius dan strategis bagi masyarakat setempat.

Naskah-naskah tersebut memberikan gambaran tentang peran penting Banten Girang dalam sejarah dan budaya Banten pada masa pra-Islam, serta transisinya menuju era Kesultanan Banten. Bukti-bukti ini semakin memperkuat posisi Banten Girang sebagai salah satu pusat peradaban awal di wilayah barat Pulau Jawa.

Banten Girang: Pusat Peradaban Kuno di Banten dan Peralihannya ke Islam

1. Lokasi dan Keberadaan Banten Girang

Banten Girang adalah situs arkeologi yang terletak di Kampung Talaga, Desa Sempu, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten. Situs ini berada di hulu Sungai Cibanten, sekitar 10 km dari Pelabuhan Banten Lama. Nama “Banten Girang” berasal dari bahasa Jawa Kuno, di mana Banten berarti “tempat persembahan” dan Girang berarti “hulu” atau “atas”.

Berdasarkan penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Claude Guillot (1988-1992), Banten Girang merupakan permukiman yang berkembang sejak abad ke-10 M dan mencapai puncaknya pada abad ke-13 hingga ke-14 M. Situs ini memiliki struktur pertahanan berupa parit dan dinding tanah yang tidak teratur, menandakan bahwa tempat ini pernah menjadi pusat administratif dan religius yang penting.

2. Hubungan Banten Girang dengan Kerajaan Sunda

Banten Girang diyakini sebagai bagian dari Kerajaan Sunda (abad ke-7 hingga ke-16 M). Kerajaan Sunda adalah kerajaan Hindu-Buddha yang menguasai wilayah barat Pulau Jawa, termasuk Banten, Bogor, dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Berdasarkan naskah Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu dari Kerajaan Sunda yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Nusantara pada abad ke-15, disebutkan bahwa wilayah Banten sudah menjadi bagian dari Kerajaan Sunda. Banten Girang kemungkinan besar adalah ibu kota atau salah satu pusat penting kerajaan ini di bagian barat.

Keberadaan Banten Girang sebagai bagian dari Kerajaan Sunda juga diperkuat oleh temuan artefak seperti pecahan keramik dari Tiongkok, prasasti, peralatan logam, dan struktur bangunan bercorak Hindu-Buddha.

3. Hubungan dengan Islam dan Kesultanan Banten

Pada abad ke-16, Banten Girang mengalami perubahan besar dengan masuknya Islam. Perubahan ini dipicu oleh ekspansi Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Sunan Gunung Jati datang ke Banten Girang sekitar tahun 1526 dan menikahi putri raja setempat.

Dalam Babad Banten, disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati menguasai wilayah Banten dengan merebut Banten Girang dan mengubahnya menjadi pusat penyebaran Islam. Setelah itu, pusat pemerintahan dipindahkan ke Banten Lama yang lebih dekat dengan pantai dan lebih strategis sebagai kota pelabuhan.

Banten Girang kemudian ditinggalkan dan berangsur-angsur kehilangan fungsinya sebagai pusat pemerintahan. Namun, jejak kejayaan Banten Girang masih terlihat dalam situs arkeologinya.

4. Peran Banten Girang dalam Perkembangan Banten

• Sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di bagian barat

• Sebagai jalur perdagangan yang menghubungkan pedalaman dan pesisir

• Sebagai pusat penyebaran Hindu-Buddha sebelum masuknya Islam

• Sebagai titik awal masuknya Islam sebelum berdirinya Kesultanan Banten

5. Kesimpulan

Banten Girang adalah situs penting yang menandai transisi dari era Hindu-Buddha ke era Islam di Banten. Awalnya bagian dari Kerajaan Sunda, tempat ini kemudian ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati dan menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Bukti-bukti arkeologi dan naskah kuno seperti Bujangga Manik dan Babad Banten menguatkan peran sentral Banten Girang dalam sejarah Nusantara.

Situs ini perlu mendapatkan perhatian lebih sebagai warisan budaya yang merekam perjalanan panjang peradaban di wilayah Banten.

Advertisement

Kota Serang Sejarah
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Historika

Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

Historika

Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

BERITA TERBARU

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Polda Banten Imbau Orang Tua Awasi Anak agar Tak Terjebak Kericuhan Saat Penyampaian Aspirasi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.