Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Mengkaji Ulang Naskah Majapahit

Mengkaji Ulang Naskah Majapahit

Historika Kamis, 17 April 2025 7:20 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Sumber foto: Pagaralampos.com

Advertisement

GazanaPublika.com, Penulisan sejarah Majapahit dalam tradisi akademik modern dimulai pada masa kolonial Belanda, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada periode ini, orientalis dan filolog Belanda berperan besar dalam menggali sejarah Indonesia melalui kajian naskah-naskah kuno, prasasti, dan artefak arkeologis yang ditemukan di berbagai situs sejarah. Tokoh-tokoh utama dalam pengembangan studi ini adalah J.L.A. Brandes, C.C. Berg, dan Theodore G. Pigeaud. Mereka tidak hanya mengkaji teks-teks kuno, tetapi juga menghubungkannya dengan bukti material yang ditemukan di tempat-tempat seperti Trowulan, ibu kota Majapahit.

Dalam konteks ini, Negarakertagama menjadi salah satu naskah utama yang memegang peranan penting dalam menyusun gambaran mengenai Majapahit. Negarakertagama, yang ditulis pada tahun 1365 M oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga yang berada dalam lingkungan istana Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389), merupakan karya penting yang menggambarkan struktur pemerintahan, wilayah kekuasaan, dan hubungan Majapahit dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Dalam naskah ini, Prapanca menulis dalam bentuk kakawin, yakni puisi epik yang berisi narasi keagamaan dan historis, yang tidak hanya mengabadikan kejayaan Majapahit tetapi juga upacara keagamaan dan pemujaan terhadap leluhur raja. Negarakertagama menjadi sumber utama dalam membangun citra kejayaan Majapahit dalam historiografi kolonial dan pascakolonial.

Advertisement

Pararaton, atau lebih dikenal sebagai Kitab Raja-Raja, juga menjadi sumber penting dalam mempelajari sejarah Majapahit, meskipun memiliki ciri khas yang berbeda. Ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan, naskah ini diperkirakan disusun antara akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, pada masa ketika Majapahit mulai mengalami kemunduran. Penulisnya tidak diketahui secara pasti, namun Pararaton berisi kisah-kisah mengenai Kerajaan Singhasari dan tokoh-tokoh seperti Ken Arok, serta peralihan kekuasaan menuju Majapahit. Walaupun naskah ini memuat beberapa kisah sejarah, perlu dicatat bahwa Kerajaan Singhasari sudah runtuh pada 1292 M, jauh sebelum naskah ini ditulis. Dengan demikian, Pararaton bukan berasal dari lingkungan Singhasari, melainkan lebih mencerminkan interpretasi dan pandangan masyarakat Majapahit terhadap masa lalu mereka. Selain itu, Pararaton seringkali bercampur dengan elemen mitologis dan legenda, yang menyulitkan upaya untuk membangun narasi sejarah yang sistematis dan faktual.

Selain Negarakertagama dan Pararaton, karya lain yang juga berperan penting adalah Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14. Naskah ini bukan teks sejarah konvensional, namun memberikan wawasan yang berharga mengenai nilai-nilai sosial dan keagamaan yang berkembang pada masa Majapahit. Dalam Sutasoma, Mpu Tantular memperkenalkan semboyan legendaris “Bhinneka Tunggal Ika”, yang hingga kini menjadi motto nasional Indonesia. Kakawin ini mencerminkan semangat pluralisme dan toleransi antaragama yang berkembang di Majapahit, di mana Buddha dan Hindu dihormati berdampingan.

Peran Kolonial dalam Filologi dan Sejarah Majapahit

Penulisan sejarah Majapahit pada masa kolonial juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ideologis. Para sarjana kolonial, melalui kajian terhadap naskah-naskah seperti Negarakertagama, sering kali menafsirkan sejarah Majapahit dalam konteks yang mendukung legitimasi kekuasaan kolonial Belanda. Misalnya, citra tentang kejayaan Majapahit seringkali digunakan untuk memperkuat narasi bahwa Belanda merupakan penerus dari kekuatan besar yang pernah ada di Nusantara. Sebaliknya, kesan bahwa Nusantara “terpecah” setelah runtuhnya Majapahit dan hanya bisa disatukan kembali oleh kekuasaan modern Belanda adalah contoh bagaimana sejarah bisa dimanipulasi untuk mendukung narasi kolonial.

Pada saat yang sama, kebangkitan kajian filologi oleh sarjana-sarjana Belanda juga memunculkan pertanyaan kritis mengenai apakah teks-teks yang ditemukan dan disalin pada masa kolonial sudah mengalami perubahan atau penyuntingan yang disesuaikan dengan kebutuhan politik dan ideologis pada waktu itu. Misalnya, terjemahan dan interpretasi yang dilakukan oleh J.L.A. Brandes dan Theodore G. Pigeaud dalam mempublikasikan Negarakertagama dan naskah lainnya sering kali terpengaruh oleh pandangan dunia Barat yang dominan pada masa itu.

Pendekatan Modern dalam Studi Sejarah Majapahit

Dalam studi modern, para peneliti menggunakan pendekatan yang lebih kritis dan interdisipliner, memadukan filologi, arkeologi, sejarah seni, dan antropologi untuk menilai dan memahami konteks naskah-naskah ini. Dengan metode ini, para sejarawan berupaya tidak hanya memeriksa teks secara literal, tetapi juga memahami kondisi sosial, politik, dan budaya yang melatarbelakanginya, serta mempertanyakan potensi manipulasi atau penyuntingan teks oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pada masa itu. Penekanan juga diberikan pada bukti-bukti arkeologis yang mendukung atau bertentangan dengan narasi yang ada dalam naskah-naskah sejarah, seperti temuan-temuan di situs Trowulan yang mengungkapkan aspek-aspek kehidupan sosial dan politik Majapahit.

Penulisan sejarah Majapahit dalam tradisi akademik dimulai dengan kajian-kajian kolonial terhadap naskah-naskah kuno seperti Negarakertagama dan Pararaton, yang banyak dipengaruhi oleh orientasi dan agenda politik kolonial. Meskipun naskah-naskah ini memberikan wawasan berharga tentang Majapahit, kajian modern terus berupaya untuk merekonstruksi sejarah dengan pendekatan yang lebih kritis dan komprehensif. Dengan memperhatikan konteks historis, sosial, dan politik dari masing-masing naskah, serta peran kolonial dalam penyebaran dan penyuntingan teks, kita dapat mendapatkan pemahaman yang lebih jernih tentang kejayaan dan kemunduran Majapahit serta warisan budaya yang ditinggalkannya.

Asal Usul Sumber Naskah-Naskah Sejarah Majapahit: Asal Usul dan Temuan Penting

Naskah-naskah sejarah yang menjadi sumber utama dalam mempelajari Majapahit seperti Negarakertagama, Pararaton, dan Kakawin Sutasoma memiliki asal usul yang sangat signifikan dalam konteks sejarah Indonesia, dan masing-masing naskah tersebut ditemukan dalam kondisi yang berbeda, serta dipelajari secara mendalam oleh para sejarawan dan filolog.

1. Negarakertagama

Negarakertagama, yang dikenal juga dengan nama Desawarnana, adalah sebuah karya kakawin (puisi epik) yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Naskah ini memuat sejarah dan kebesaran Majapahit, menggambarkan struktur pemerintahan, wilayah kekuasaan, serta hubungan Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara dan luar negeri. Negarakertagama menjadi sangat penting karena memberikan gambaran detail tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya pada puncak kejayaan Majapahit.

BACA JUGA:  Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

Naskah ini pertama kali ditemukan oleh J.L.A. Brandes, seorang orientalis Belanda, pada tahun 1894 di Puri Cakranegara, Lombok. Penemuan ini terjadi setelah Belanda melakukan ekspedisi militer di Lombok dan menemukan beberapa salinan naskah kuno yang kini menjadi bagian dari koleksi penting sejarah Indonesia. Naskah ini kemudian diterjemahkan dan dipublikasikan oleh Theodore G. Pigeaud pada abad ke-20, yang memungkinkan masyarakat akademik global untuk mempelajari dan mengkaji isi dari Negarakertagama secara lebih luas. Teks ini berbahasa Jawa Kuno dan diperkirakan ditulis dalam lingkungan istana Majapahit.

2. Pararaton

Pararaton, yang berarti “Kitab Raja-Raja”, adalah naskah yang berisi sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, termasuk cerita tentang Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Naskah ini memuat cerita mengenai tokoh legendaris Ken Arok dan peralihan kekuasaan dari Singhasari ke Majapahit. Pararaton lebih bercampur antara fakta sejarah dan mitologi, dan sering dianggap lebih sebagai karya sastra daripada catatan sejarah yang sistematis.

Naskah Pararaton ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan dan diperkirakan disusun pada akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16, pada saat Majapahit mengalami kemunduran. Penulis naskah ini tidak diketahui secara pasti, namun sebagian besar ahli meyakini bahwa naskah ini berasal dari lingkungan Majapahit. Pararaton pertama kali ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok, bersamaan dengan penemuan Negarakertagama oleh J.L.A. Brandes pada akhir abad ke-19. Naskah ini, seperti halnya Negarakertagama, telah diterjemahkan dan dipelajari oleh sejumlah sarjana Belanda, dengan terjemahan paling terkenal dibuat oleh Theodore G. Pigeaud.

3. Kakawin Sutasoma

Kakawin Sutasoma adalah karya puisi epik yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Karya ini berisi ajaran moral dan keagamaan, serta terkenal karena menyampaikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Meskipun bukan naskah sejarah dalam arti konvensional, Sutasoma memainkan peran penting dalam menggambarkan nilai-nilai sosial dan keagamaan yang berkembang pada masa Majapahit.

Kakawin Sutasoma ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan diperkirakan berasal dari lingkungan istana Majapahit, mengingat kedekatan penulisnya, Mpu Tantular, dengan lingkaran kekuasaan. Naskah ini ditemukan dalam salinan yang tersebar di beberapa tempat, salah satunya ada di Perpustakaan Nasional Indonesia dan koleksi-koleksi lain yang ada di Eropa dan Asia. Seperti halnya Negarakertagama, Sutasoma merupakan contoh dari tradisi sastra kakawin yang berkembang pesat pada masa itu, menggabungkan unsur-unsur keagamaan, budaya, dan politik dalam bentuk puisi.

Ketiga naskah penting ini—Negarakertagama, Pararaton, dan Kakawin Sutasoma—memiliki asal-usul yang berbeda, namun semuanya memberikan kontribusi besar dalam pembentukan pemahaman kita mengenai Majapahit. Negarakertagama adalah karya istana yang menggambarkan kejayaan Majapahit di puncak kekuasaannya, sementara Pararaton lebih berfokus pada narasi sejarah yang bercampur dengan legenda. Kakawin Sutasoma tidak hanya memberikan gambaran tentang budaya Majapahit, tetapi juga memperkenalkan prinsip-prinsip toleransi dan persatuan yang menjadi landasan bagi Indonesia modern. Temuan-temuan naskah ini, terutama pada masa kolonial Belanda, tidak hanya membuka jalan bagi penulisan sejarah akademik mengenai Majapahit, tetapi juga menjadi landasan bagi kajian lebih lanjut mengenai peran Majapahit dalam sejarah Indonesia.

Naskah Sejarah Majapahit dan Prasasti sebagai Bukti Sezamannya

Pada umumnya, sejarah Majapahit lebih banyak dikenali melalui sumber tertulis, baik itu naskah kuno seperti Negarakertagama, Pararaton, maupun Kakawin Sutasoma, yang sebagian besar ditemukan pada masa kolonial Belanda. Meskipun naskah-naskah ini memberikan gambaran penting mengenai kejayaan Majapahit, tidak ada prasasti yang secara langsung merujuk pada kerajaan Majapahit sebagai entitas secara eksplisit. Oleh karena itu, banyak ahli yang berpendapat bahwa naskah-naskah yang ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok, seperti Negarakertagama dan Pararaton, berpotensi merupakan hasil karya Belanda atau bisa juga mengalami manipulasi agar sesuai dengan narasi kolonial. Banyak buku menjelaskan baik naskah Negarakertagama maupun Sutasoma dikatakan ditemukan dalam bentuk naskah Lontar ternyata hanya sebuah salinan saja yang ditemukan di Puri Cakranegara. Tidak ada jaminan bahwa salinan yang ditemukan di Puri Cakranegara itu adalah asli tetapi berpotensi merupakan naskah salinan buatan Belanda atau klaim Belanda yang menemukan salinan asli. Naskah itu sudah ditulis dikertas biasa.

Namun demikian, prasasti-prasasti dari masa Majapahit tetap menjadi bukti penting yang memberikan informasi lebih konkret mengenai kehidupan kerajaan tersebut. Prasasti-prasasti ini tidak hanya menunjukkan peristiwa yang terjadi pada masa Majapahit, tetapi juga memuat kebijakan administratif dan hubungan sosial di dalam kerajaan.

Berikut adalah daftar prasasti penting yang ditemukan, yang berfungsi sebagai bukti yang lebih kuat mengenai Majapahit:

1. Prasasti Kudadu (1294 M)

• Lokasi: Desa Kudadu, dekat Surabaya, Jawa Timur
• Raja: Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana)
• Isi:
Prasasti ini menceritakan bantuan yang diberikan oleh penduduk Desa Kudadu kepada Raden Wijaya saat ia melarikan diri dari serangan Jayakatwang dari Kediri. Sebagai imbalan, desa ini dibebaskan dari pajak dan diberikan hak istimewa.

• Kutipan Penting:
“… sang rakryan mapatih i hino mpu sina menolong śri baginda raja yang dikejar musuh… desa Kudadu dibebaskan dari segala kewajiban…”

2. Prasasti Sukamerta (1296 M)

• Lokasi: Mojokerto, Jawa Timur
• Raja: Raden Wijaya
• Isi:
Pengukuhan anugerah untuk pejabat tinggi yang setia kepada kerajaan, serta menyebutkan nama istri Raden Wijaya, yaitu Dyah Gayatri dan Dyah Tribhuwana.

3. Prasasti Balawi (1305 M)

• Lokasi: Trowulan, Mojokerto
• Raja: Jayanagara
• Isi:
Pemberian hak istimewa kepada pejabat tinggi karena membantu menumpas pemberontakan Ranggalawe. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

4. Prasasti Singhasari (1351 M)

• Lokasi: Malang, Jawa Timur
• Raja: Hayam Wuruk
• Isi:
Pembangunan candi untuk menghormati Kertanegara (Raja Singhasari) sebagai Buddha-Dewa. Ini juga menunjukkan adanya hubungan antara Majapahit dan leluhur kerajaan Singhasari.

5. Prasasti Canggu (1358 M)

• Lokasi: Dekat Sungai Brantas, Jawa Timur
• Raja: Hayam Wuruk
• Isi:
Pengaturan penyeberangan sungai Brantas dan pajak perahu, dengan menyebutkan 7 titik penyeberangan resmi yang dikenakan pajak.

6. Prasasti Biluluk (3 Versi: 1366, 1393, 1395 M)

• Lokasi: Lamongan, Jawa Timur
• Raja: Hayam Wuruk (1366) dan Wikramawardhana (1393, 1395)
• Isi:
Aturan mengenai produksi garam dan pajak yang harus dibayar oleh warga yang terlibat dalam produksi garam di wilayah pesisir.

• Kutipan Penting (1366):
“… warga Biluluk boleh membuat garam, tetapi wajib menyerahkan sebagian kepada śri baginda…”

7. Prasasti Karang Bogem (1387 M)

• Lokasi: Banyuwangi, Jawa Timur
• Raja: Wikramawardhana
• Isi:
Pengawasan terhadap pelabuhan dan perdagangan di ujung timur Jawa, dengan ancaman hukuman bagi pelanggar aturan pelabuhan.

8. Prasasti Wurare (1486 M)

• Lokasi: Jombang, Jawa Timur
• Raja: Dyah Ranawijaya
• Isi:
Pembagian wilayah setelah keruntuhan Majapahit dan penyebutan Girindrawardhana sebagai penguasa saingan.

Prasasti Lain yang Signifikan:

• Prasasti Trowulan I & II (Abad ke-14):
Tentang administrasi ibu kota Majapahit.

• Prasasti Parung (1371 M):
Menyebut nama Gajah Mada sebagai patih amangkubhumi, menunjukkan peran sentralnya dalam pemerintahan.

• Prasasti Jiwu (1392 M):
Aturan pertanian dan irigasi, mencerminkan pentingnya sektor pertanian dalam ekonomi Majapahit.

• Prasasti Katiden I & II (1392 M):
Perlindungan hutan dan larangan perburuan liar untuk menjaga sumber daya alam.

Kritik terhadap Naskah dari Puri Cakranegara:

Meskipun prasasti-prasasti ini memberikan bukti kuat tentang kehidupan administratif dan sosial pada masa Majapahit, naskah-naskah yang ditemukan di Puri Cakranegara seperti Negarakertagama dan Pararaton berpotensi mengalami manipulasi ideologis. Naskah-naskah ini ditemukan oleh J.L.A. Brandes pada 1894, di tengah konteks kolonial Belanda. Beberapa sejarawan menganggap bahwa naskah tersebut bisa jadi telah dimodifikasi atau bahkan diciptakan ulang dengan tujuan untuk mendukung narasi kolonial yang ingin menggambarkan kejayaan masa lalu sebagai landasan bagi kekuasaan kolonial yang ada pada waktu itu.

Dengan demikian, meskipun Negarakertagama dan Pararaton memberikan gambaran berharga tentang Majapahit, tidak ada prasasti yang secara eksplisit menjelaskan kejayaan Majapahit dalam hal pemerintahan atau politik. Prasasti tetap menjadi bukti yang lebih kuat dan lebih dapat diandalkan dalam memahami aspek-aspek administratif dan sosial kerajaan Majapahit.

Prasasti-prasasti yang ditemukan, meskipun tidak menjelaskan secara langsung mengenai kejayaan Majapahit seperti yang digambarkan dalam naskah-naskah Puri Cakranegara, tetap memberikan wawasan yang lebih konkret dan autentik mengenai kehidupan kerajaan, terutama dalam hal administrasi, ekonomi, dan sosial. Naskah-naskah tersebut perlu diperlakukan dengan hati-hati dalam konteks sejarah, mengingat kemungkinan manipulasi yang terjadi pada masa kolonial.

Apa Motif Kolonial dengan Penciptaan Sejarah Majapahi?

Prasasti-prasasti yang ditemukan dari masa Majapahit, meskipun penting sebagai bukti sejarah, tidak pernah memberikan penjelasan yang panjang lebar tentang kerajaan Majapahit secara rinci. Prasasti-prasasti tersebut lebih banyak menyentuh aspek administratif, pajak, serta kebijakan terhadap pejabat dan rakyatnya, namun tidak ada prasasti yang secara langsung menggambarkan kejayaan politik atau ekspansi Majapahit yang konon mencapai seluruh Nusantara. Sumber-sumber utama yang kita miliki untuk menggambarkan kejayaan Majapahit secara lebih luas berasal dari naskah-naskah seperti Negarakertagama, Pararaton, dan Sutasoma, yang memuat gambaran besar tentang kejayaan kerajaan tersebut, meskipun tidak selalu dapat dipastikan keotentikannya.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa Negarakertagama, Pararaton dan Sutasoma—naskah-naskah yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan kejayaan Majapahit—hanya ada karena penemuan dan penerjemahan yang dilakukan oleh orientalis Belanda pada akhir abad ke-19. Tidak hanya itu, naskah-naskah ini juga ditulis pada masa yang sangat dekat dengan kolonialisasi Belanda, yang tentu saja memunculkan pertanyaan besar: apa kepentingan Belanda dalam membangun narasi sejarah Majapahit tersebut sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945? Apakah mereka mencoba menggambarkan sebuah masa lalu yang gemilang sebagai pembenaran atas kekuasaan kolonial mereka, ataukah ini merupakan bagian dari strategi untuk melegitimasi dominasi mereka dengan menunjukkan seolah-olah Belanda adalah penerus sah dari kejayaan masa lalu?

Bagi Indonesia pasca-kemerdekaan, mempertahankan cerita kejayaan Majapahit memang penting dalam membangun jati diri dan kepribadian bangsa. Kejayaan Majapahit sering dijadikan simbol kebesaran masa lalu yang diharapkan bisa menginspirasi persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, dalam upaya ini, apakah kita telah mempedulikan keaslian naskah-naskah tersebut, ataukah kita hanya menggunakan narasi yang telah terbentuk tanpa banyak pertanyaan? Dengan sandaran pada prasasti-prasasti yang terbatas dan tidak menjelaskan secara mendalam tentang kerajaan Majapahit, kita seolah-olah menerima gambaran sepihak tentang sejarah yang mungkin telah dipengaruhi oleh kepentingan kolonial.

Prasasti-prasasti ini, meskipun penting, tidak memberikan kita gambaran rinci tentang kejayaan Majapahit yang konon mencapai seluruh Nusantara. Mereka lebih banyak berbicara tentang kebijakan-kebijakan administratif kerajaan dan pengaturan urusan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, meskipun naskah-naskah seperti Negarakertagama dan Sutasoma berperan penting dalam membangun citra sejarah Majapahit, kita perlu menyadari bahwa cerita tersebut tidaklah semudah itu diterima begitu saja tanpa kritik dan pertanyaan atas konteks di baliknya. Ini adalah sebuah upaya untuk menyeimbangkan antara memperingati masa lalu dan mengkritisi narasi sejarah yang diwariskan kepada kita. (RED)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Historika

Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

Historika

Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.