Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Orientalisme Belanda Penyalin Naskah Patut Dicurigai

Orientalisme Belanda Penyalin Naskah Patut Dicurigai

Historika Selasa, 22 April 2025 23:09 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com – Orientalisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara pandang Barat terhadap budaya dan peradaban Timur (termasuk Asia, Afrika, dan Timur Tengah). Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, orientalisme seringkali digunakan untuk menggambarkan dunia Timur sebagai sesuatu yang eksotis, primitif, atau bahkan “terbelakang,” yang memerlukan peradaban Barat untuk dibimbing dan diajarkan.

Di balik ini, terdapat latar belakang kekuasaan kolonial yang mendominasi banyak bagian dunia Timur, termasuk Indonesia yang saat itu berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Orientalis sering berperan sebagai intelektual yang mempelajari bahasa, sejarah, dan budaya bangsa-bangsa yang terjajah, dengan tujuan untuk memahami cara untuk mengelola dan mengontrol wilayah-wilayah ini lebih efektif. Dalam konteks ini, studi tentang naskah-naskah kuno Indonesia, seperti Negarakertagama, Pararaton, dan prasasti-prasasti lainnya, menjadi alat yang tidak hanya untuk memahami budaya lokal tetapi juga untuk memperkuat kontrol kolonial.

Advertisement

J.L.A. Brandes

J.L.A. Brandes adalah seorang orientalis Belanda yang aktif pada akhir abad ke-19 dan merupakan salah satu peneliti pertama yang secara sistematis mengkaji dan menerjemahkan naskah-naskah Jawa Kuno. Pada tahun 1894, Brandes menemukan Negarakertagama di Puri Cakranegara di Lombok. Temuan ini sangat penting karena memberikan pandangan baru tentang sejarah Majapahit yang belum banyak diketahui sebelumnya. Brandes juga menerjemahkan dan mempopulerkan teks-teks tersebut dalam bahasa Belanda, yang kemudian menjadi referensi utama dalam kajian sejarah Indonesia.

BACA JUGA:  Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

Namun, pendekatan Brandes (dan banyak orientalis lainnya) tidak bisa lepas dari pengaruh kolonialisme Belanda pada masa itu. Karya-karya mereka sering dipandang sebagai upaya untuk menyusun ulang sejarah Indonesia sesuai dengan pandangan dan kepentingan kolonial. Dengan mempopulerkan naskah-naskah seperti Negarakertagama, yang memuji kejayaan Majapahit, para orientalis turut memperkuat narasi bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan besar yang menjadi pembuktian bahwa Indonesia pada masa lalu sudah memiliki peradaban yang tinggi—sebuah narasi yang digunakan untuk membenarkan kehadiran Belanda sebagai “penerus” peradaban besar tersebut.

Theodore G. Pigeaud

Theodore G. Pigeaud adalah seorang orientalis Belanda yang lebih lanjut mengembangkan studi tentang sejarah dan sastra Jawa pada abad ke-20, khususnya terkait dengan Majapahit. Pigeaud menulis banyak karya tentang Negarakertagama dan Pararaton, serta mengembangkan kajian tentang sistem pemerintahan dan kebudayaan Majapahit. Dalam karyanya, ia sering menggabungkan penerjemahan naskah kuno dengan analisis sejarah dan sosial, yang menjadi dasar bagi pemahaman sejarah Indonesia di Barat.

Namun, seperti Brandes, Pigeaud juga bekerja dalam kerangka kolonial dan sering dipengaruhi oleh konteks kekuasaan Belanda. Walaupun kontribusinya sangat penting bagi pemahaman sastra dan sejarah Indonesia, perspektif yang ia tawarkan sering kali dipengaruhi oleh pemikiran dan ideologi kolonial. Misalnya, dalam menerjemahkan dan mempublikasikan naskah-naskah tersebut, Pigeaud seringkali memberikan interpretasi yang cenderung mengagungkan kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu untuk mendukung ideologi bahwa Belanda hadir untuk melanjutkan tradisi kejayaan tersebut.

BACA JUGA:  Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Kepentingan Kolonial dalam Kajian Sejarah

Keduanya, Brandes dan Pigeaud, bekerja dalam konteks sejarah yang sangat dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda. Kajian mereka terhadap naskah-naskah kuno Indonesia seringkali tidak lepas dari niat untuk mengontrol dan mendominasi pemahaman sejarah bangsa yang terjajah. Sejarah Indonesia, yang sangat terkait dengan kebudayaan dan kejayaan masa lalu seperti Majapahit, sering diinterpretasikan untuk melegitimasi kekuasaan kolonial.

Selain itu, ada juga kepentingan untuk menunjukkan bahwa Belanda adalah penerus dari kekuatan besar yang pernah ada, atau bahkan memberikan narasi bahwa setelah keruntuhan Majapahit, hanya penjajahan Belanda yang mampu membawa kembali “persatuan” dan “keberhasilan” di Indonesia.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Brandes dan Pigeaud sebagai orientalis Belanda tidak hanya berperan dalam memperkenalkan naskah-naskah klasik Jawa kepada dunia Barat, tetapi juga berperan dalam membentuk narasi sejarah Indonesia dalam kerangka kolonial. Pemahaman kita terhadap Majapahit, melalui naskah-naskah seperti Negarakertagama dan Pararaton, sebagian besar terbentuk melalui interpretasi para orientalis ini. Pada masa sekarang, pemahaman sejarah ini masih menjadi bagian dari wacana nasional Indonesia, meskipun dengan pendekatan yang lebih kritis dan berusaha untuk menghindari bias kolonial yang dahulu ada.

Dengan demikian, peran orientalis dalam studi sejarah Indonesia tidak hanya sebatas ilmiah, tetapi juga terkait erat dengan kekuasaan dan ideologi yang ada pada masa penjajahan.

Advertisement

Belanda
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Historika

Sebuah Catatan di Ende — Flores: Soekarno, Pancasila dan Toleransi

Historika

Polemik Grasi Eks Menteri Kehakiman DG: Skandal Suap Visa Orde Lama yang Memicu Keretakan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Historika

Silsilah Sunan Gunung Jati ke Musa Al-Kadzim

Historika

Pandangan Sejarawan: Cangkok Nasab Raja-Raja Nusantara

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.