Advertisement
GazanaPublika.com, Washington — Hubungan yang dulunya erat antara Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump, dengan miliarder dan inovator teknologi Elon Musk kini berubah menjadi pertikaian terbuka yang menyita perhatian publik dunia. Dari pernyataan sindiran tajam hingga potensi pemutusan kontrak bernilai miliaran dolar, konflik dua tokoh paling berpengaruh ini tampaknya telah melewati titik tanpa kembali.
Seorang pejabat Gedung Putih, yang identitasnya dirahasiakan, mengungkap bahwa Trump kini sudah enggan berbicara langsung dengan Elon Musk. Ini bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya dari pejabat lain yang menyebut keduanya akan segera berdialog untuk menyelesaikan kesalahpahaman. Namun hingga kini, belum ada satu pun percakapan telepon antara Trump dan Musk yang terjadi.
Dalam wawancara dengan sejumlah media Amerika, termasuk CNN International, Trump bahkan meremehkan Musk dan mengisyaratkan tidak tertarik untuk berdamai.
Advertisement
“Saya bahkan tidak memikirkan Elon. Ia punya masalah. Orang malang itu punya masalah,” kata Trump dingin.
Sumber Reuters menyebut, Trump bahkan mempertimbangkan untuk menyingkirkan mobil listrik Tesla Model S merah yang baru dibelinya pada Maret lalu, sebagai bentuk simbolik pemutusan hubungan dengan CEO Tesla dan SpaceX itu.
Dari Mitra Politik Jadi Musuh Publik
Perseteruan ini menandai berakhirnya hubungan yang pernah sangat strategis secara politik dan ekonomi. Pada Pilpres 2024 lalu, Elon Musk merupakan salah satu penyokong dana terbesar bagi kampanye Trump, dengan menyumbang hampir US$300 juta demi mengamankan kemenangan Partai Republik. Sebagai balas jasa, Trump menunjuk Musk untuk memimpin Lembaga Efisiensi Pemerintah atau Department of Government Efficiency (DOGE), dengan misi memangkas anggaran federal secara besar-besaran.
Namun, keharmonisan itu pecah pada pekan lalu ketika Musk mengundurkan diri dari jabatannya di DOGE dan mulai melontarkan kritik tajam terhadap RUU pemotongan pajak dan pengeluaran yang diajukan Trump ke Kongres. RUU tersebut merupakan prioritas utama pemerintahan Trump untuk periode keduanya.
Dalam cuitannya di platform X miliknya, Musk menyebut RUU itu sebagai “kekejian yang menjijikkan” yang berpotensi menambah utang nasional hingga US$36,2 triliun. Pernyataan itu langsung memicu badai politik di Washington dan membuat posisi Trump goyah di antara mayoritas sempit Partai Republik di Kongres.
Dampak perseteruan ini langsung terasa di pasar. Saham Tesla sempat anjlok hingga 14% dalam satu hari perdagangan, menghapus kapitalisasi pasar senilai US$150 miliar — penurunan satu hari terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Walaupun saham Tesla sedikit rebound keesokan harinya, kepercayaan investor tetap terguncang.
Munculnya gerakan boikot terhadap produk-produk Musk, terutama Tesla dan layanan Starlink, turut memperparah situasi. Penjualan Tesla di beberapa negara bagian merah (pendukung Partai Republik) anjlok drastis, dan banyak pengguna X mulai bermigrasi ke platform pesaing seperti Threads dan BlueSky.
Sementara itu, Trump juga menunjukkan taringnya dengan mengisyaratkan akan membatalkan berbagai kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan Musk, termasuk proyek luar angkasa SpaceX dan layanan internet satelit Starlink.
“Elon tidak menghormati mandat rakyat. Dia menentang kita. Dan tidak ada tempat untuk orang seperti itu di pemerintahan saya,” tulis Trump di platform Truth Social.
Musk sempat membalas bahwa tanpa dirinya, Trump tidak akan memenangkan pemilu 2024. Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan tarif impor Trump bisa membawa AS ke jurang resesi. Bahkan, Musk sempat mengancam akan menonaktifkan wahana antariksa Dragon yang digunakan NASA untuk misi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Namun, ia kemudian menarik kembali ancaman tersebut.
Ketegangan antara keduanya dikhawatirkan akan berdampak luas terhadap stabilitas politik Partai Republik. Banyak elite partai merasa khawatir jika Musk menarik dukungan finansialnya, Partai Republik akan kesulitan mempertahankan kendali atas Kongres dalam pemilu paruh waktu tahun depan.
Salah satu investor dan teman dekat Musk, James Fishback, menyerukan agar Musk menahan diri.
“Presiden Trump telah menunjukkan keanggunan dan kesabaran di saat perilaku Elon mengecewakan dan terus terang sangat mengganggu,” kata Fishback.
Namun Musk tampaknya tidak akan mundur. Ia justru menyatakan niatnya untuk mengurangi pengeluaran politik di masa depan dan menyerukan pemecatan terhadap politisi yang, menurutnya, “mengkhianati rakyat Amerika.”
Drama politik tingkat tinggi ini kini menjadi sorotan utama, tidak hanya karena melibatkan dua tokoh dengan pengaruh global, tetapi juga karena efek domino yang bisa mengubah arah kebijakan luar angkasa, ekonomi, hingga kebebasan berbicara digital.
Sejumlah analis menilai bahwa konflik ini juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara pemerintahan dan pengusaha teknologi besar. Dalam iklim politik yang semakin terpolarisasi, kedekatan antara negara dan korporasi raksasa seperti milik Musk tidak lagi bisa dianggap stabil.
Apakah perseteruan ini akan berakhir damai atau justru berkembang menjadi perang panjang antara teknologi dan kekuasaan? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal pasti: dunia tengah menyaksikan dua raksasa bertarung, dan dampaknya akan terasa jauh melampaui Washington dan Silicon Valley.
Advertisement
