Advertisement
GazanaPublika.com, Washington, D.C. – Kongres Amerika Serikat secara resmi mengesahkan rancangan undang-undang besar yang dijuluki ‘One Big Beautiful Bill’ (OBBB), sebuah paket kebijakan ambisius yang menjadi prioritas utama Presiden Donald Trump di masa jabatan keduanya. RUU ini menggabungkan sejumlah agenda besar seperti pemotongan pajak, reformasi imigrasi, perluasan belanja militer, hingga pengurangan program sosial.
RUU tersebut disahkan secara dramatis oleh Senat pada 1 Juli 2025 dengan hasil voting 51–50, di mana suara penentu berasal dari Wakil Presiden J.D. Vance. Dua hari kemudian, pada 3 Juli 2025, Dewan Perwakilan Rakyat menyusul menyetujui RUU ini dengan suara tipis 218–214. Seluruh anggota Demokrat menolak, sementara Partai Republik kompak mendukungnya.
Advertisement
Saat ini, OBBB tinggal menunggu tanda tangan Presiden Trump untuk resmi menjadi undang-undang.
Penandatanganan diperkirakan akan dilakukan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli, memperkuat simbolisme nasionalis dari RUU ini.
Isi dan Konten Utama RUU
RUU ‘One Big Beautiful Bill’ memuat sejumlah poin penting sebagai berikut:
• Pemotongan Pajak Permanen: Memperpanjang tarif pajak dari era Trump tahun 2017 dan menghapus pajak atas tips dan lembur.
• Insentif Keluarga dan Pekerja: Menyediakan kredit pajak baru sebesar $2.200 per anak serta memperkenalkan “Trump Accounts” untuk dana tabungan anak sejak lahir.
• Belanja Militer dan Imigrasi: Mengalokasikan $150 miliar untuk pertahanan dan $150 miliar lagi untuk keamanan perbatasan, termasuk kelanjutan pembangunan tembok perbatasan.
• Pemangkasan Program Sosial dan Lingkungan: RUU ini memangkas anggaran Medicaid, bantuan pangan (SNAP), dan mencabut subsidi energi bersih.
• Pelebaran Batas Utang Negara: Memberi ruang fiskal baru dengan menaikkan batas utang hingga $5 triliun.
Kritik dan Kontroversi
Meskipun Partai Republik menyambut RUU ini sebagai “kemenangan legislatif terbesar” Trump, kritik datang dari berbagai pihak. Partai Demokrat mengecam pemotongan pada program sosial yang dianggap menyasar warga berpenghasilan rendah.
Bahkan tokoh teknologi Elon Musk ikut angkat suara. Ia menyebut RUU ini sebagai “kekejian memalukan” dan mengancam akan mendukung lawan politik para legislator yang menyetujui RUU tersebut.
Tak hanya itu, lembaga internasional seperti IMF serta Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperingatkan bahwa undang-undang ini berisiko menambah utang negara secara drastis hingga $3–4 triliun dalam satu dekade ke depan.
Presiden Trump menyebut RUU ini sebagai “deklarasi kemerdekaan baru” dalam pidatonya menjelang 4 Juli. Bagi Trump dan pendukungnya, OBBB bukan sekadar paket legislasi, tetapi simbol pemulihan kejayaan ekonomi Amerika dan perlindungan atas identitas nasional yang lebih konservatif.
Dengan semua mata kini tertuju ke Gedung Putih, penandatanganan RUU ini akan menandai tonggak penting dalam sejarah pemerintahan Trump. Namun pertanyaannya tetap: apakah agenda besar ini akan membawa manfaat nyata bagi rakyat Amerika, atau justru menambah ketimpangan sosial dan beban fiskal di masa depan?
(Sumber: Washington Post, DW, Al Jazeera, Antara, Cadenaser, NDTV, FT.)
Advertisement
