GazanaPublika.com, Teheran — Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase yang semakin kompleks. Pemerintah Iran kini secara terbuka mensyaratkan kompensasi atas kerusakan akibat perang sebagai prasyarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi distribusi minyak dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Bidang Komunikasi di Kantor Presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, yang menegaskan bahwa pembukaan kembali selat itu tidak akan dilakukan tanpa adanya mekanisme ganti rugi melalui skema hukum baru.
Menurut Teheran, kompensasi perang akan diwujudkan melalui sistem biaya transit baru bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Skema ini dinilai sebagai bentuk penggantian atas kerugian besar yang ditimbulkan akibat konflik berkepanjangan.
Langkah Iran ini menandai pergeseran konflik dari sekadar konfrontasi militer menuju tekanan ekonomi dan hukum internasional. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia, tempat sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati jalur sempit tersebut.
Sikap keras Teheran muncul sebagai respons langsung atas ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelumnya, Trump mengultimatum Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, seraya mengancam akan menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan jika tuntutan itu tidak dipenuhi.
Iran mengecam keras ancaman tersebut. Tabatabaei menilai pernyataan Trump mencerminkan frustrasi politik sekaligus retorika yang berbahaya di tengah situasi konflik yang sensitif.
Tidak hanya berhenti pada pernyataan domestik, Iran juga membawa isu ini ke forum internasional dengan menyoroti potensi pelanggaran hukum perang dan ancaman terhadap infrastruktur sipil.
Di pasar global, ketegangan ini langsung berdampak pada harga minyak mentah dunia. Ketidakpastian akses melalui Selat Hormuz membuat harga energi bergerak fluktuatif dan memicu kekhawatiran baru terhadap rantai pasok global. Reuters melaporkan harga minyak kembali naik di tengah kekhawatiran berlanjutnya gangguan distribusi dari kawasan Teluk.
Sejumlah negara pengguna energi, terutama di Asia dan Eropa, kini memantau perkembangan situasi dengan cermat. Penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga BBM, biaya logistik, hingga inflasi global.
Dengan tuntutan kompensasi yang kini dijadikan syarat resmi, konflik Iran-AS tidak lagi sekadar soal dominasi militer, tetapi juga menyentuh kendali atas salah satu titik paling strategis dalam geopolitik energi dunia.

