GazanaPublika.com, Jakarta — Di tengah harapan meredanya konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama dua pekan terakhir, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Tuduhan keras datang dari Teheran setelah parlemen Iran menilai Washington telah mengingkari komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Pemimpin Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu (8/4/2026) secara terbuka menuduh Amerika Serikat melanggar tiga poin penting dalam proposal 10 butir gencatan senjata yang diajukan Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah situasi kawasan yang masih jauh dari kata stabil.
Menurut Ghalibaf, salah satu pelanggaran paling serius adalah berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon, yang oleh Teheran dianggap seharusnya turut tercakup dalam semangat penghentian konflik.
“Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen, sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” tulis Ghalibaf melalui akun media sosial X.
Selain persoalan Lebanon, Iran juga menyoroti masuknya drone Amerika Serikat ke wilayah udara mereka, yang disebut sebagai pelanggaran langsung terhadap kedaulatan negara. Poin lain yang dipermasalahkan adalah sikap Washington yang tetap menolak hak Iran untuk memperkaya uranium.
Bagi Teheran, tiga isu tersebut bukan sekadar perbedaan tafsir diplomatik, melainkan bukti bahwa fondasi perundingan damai telah digoyahkan bahkan sebelum negosiasi formal dimulai.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” tegas Ghalibaf.
Di sisi lain, Washington membantah tuduhan tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance, yang berbicara dalam kunjungan resminya ke Hungary, menyebut bahwa proses gencatan senjata memang kerap menyisakan ruang tafsir.
“Gencatan senjata selalu rumit,” kata Vance, merespons tuduhan terkait dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS.
Vance juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat tidak berubah, yakni Iran tidak diperkenankan memperkaya uranium sebagai bagian dari kesepakatan jangka panjang.
Lebih jauh, Washington membantah bahwa Lebanon pernah menjadi bagian dari cakupan resmi perjanjian gencatan senjata. Menurut Vance, serangan Israel ke Lebanon tidak memiliki keterkaitan langsung dengan isi kesepakatan antara AS dan Iran.
“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal dalam konflik di mana mereka dihantam habis-habisan terkait Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekalipun dikatakan Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” ujarnya.
Situasi ini kembali menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketidakpastian. Harapan damai yang sempat muncul kini dibayangi saling tuding antara dua kekuatan yang masih berdiri di posisi berseberangan, sementara konflik di Lebanon terus menjadi bara yang sewaktu-waktu dapat memicu eskalasi lebih luas.

