Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Timur Tengah Kembali Memanas

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata, Timur Tengah Kembali Memanas

Internasional Kamis, 9 April 2026 23:29 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Jakarta — Di tengah harapan meredanya konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama dua pekan terakhir, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Tuduhan keras datang dari Teheran setelah parlemen Iran menilai Washington telah mengingkari komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata yang baru saja disepakati.

Pemimpin Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu (8/4/2026) secara terbuka menuduh Amerika Serikat melanggar tiga poin penting dalam proposal 10 butir gencatan senjata yang diajukan Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah situasi kawasan yang masih jauh dari kata stabil.

Advertisement

Menurut Ghalibaf, salah satu pelanggaran paling serius adalah berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon, yang oleh Teheran dianggap seharusnya turut tercakup dalam semangat penghentian konflik.

“Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen, sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” tulis Ghalibaf melalui akun media sosial X.

BACA JUGA:  Tiga Wilayah Bersatu Dorong Kemerdekaan, Masa Depan Inggris Raya Dipertanyakan

Selain persoalan Lebanon, Iran juga menyoroti masuknya drone Amerika Serikat ke wilayah udara mereka, yang disebut sebagai pelanggaran langsung terhadap kedaulatan negara. Poin lain yang dipermasalahkan adalah sikap Washington yang tetap menolak hak Iran untuk memperkaya uranium.

Bagi Teheran, tiga isu tersebut bukan sekadar perbedaan tafsir diplomatik, melainkan bukti bahwa fondasi perundingan damai telah digoyahkan bahkan sebelum negosiasi formal dimulai.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” tegas Ghalibaf.

Di sisi lain, Washington membantah tuduhan tersebut. Wakil Presiden AS, JD Vance, yang berbicara dalam kunjungan resminya ke Hungary, menyebut bahwa proses gencatan senjata memang kerap menyisakan ruang tafsir.

“Gencatan senjata selalu rumit,” kata Vance, merespons tuduhan terkait dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS.

Vance juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat tidak berubah, yakni Iran tidak diperkenankan memperkaya uranium sebagai bagian dari kesepakatan jangka panjang.

BACA JUGA:  Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Kenyataannya Tidak

Lebih jauh, Washington membantah bahwa Lebanon pernah menjadi bagian dari cakupan resmi perjanjian gencatan senjata. Menurut Vance, serangan Israel ke Lebanon tidak memiliki keterkaitan langsung dengan isi kesepakatan antara AS dan Iran.

“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal dalam konflik di mana mereka dihantam habis-habisan terkait Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekalipun dikatakan Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” ujarnya.

Situasi ini kembali menempatkan kawasan Timur Tengah dalam ketidakpastian. Harapan damai yang sempat muncul kini dibayangi saling tuding antara dua kekuatan yang masih berdiri di posisi berseberangan, sementara konflik di Lebanon terus menjadi bara yang sewaktu-waktu dapat memicu eskalasi lebih luas.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Internasional

Unjuk Rasa Tuntut Biaya Hidup di Prancis Meluas ke Sejumlah Negara Eropa

Internasional

Pemerintah Azerbaijan Larang Hijab di Sekolah, Gelombang Protes Pecah

Internasional

Iran Tegaskan Diplomasi Jadi Jalan Keluar Konflik, Pembukaan Selat Hormuz Tunggu Syarat Terpenuhi

Internasional

Tiga Wilayah Bersatu Dorong Kemerdekaan, Masa Depan Inggris Raya Dipertanyakan

BERITA TERBARU

Shalat Jumat Keliling di Masjid Jami Al Mutoharo, Wakapolda Banten Ajak Masyarakat Perkuat Ukhuwah dan Jaga Kamtibmas

Polda Metro Panggil Dandhy Laksono 27 Oktober, Kasus Film ‘Pesta Babi’ Masih Tahap Penyelidikan

Kapolri Ungkap 13 Korporasi Jadi Tersangka Karhutla, 22 Perusahaan Terafiliasi Asing Diselidiki

Survei SMRC: Tanpa KDM, Gibran Ungguli Prabowo dalam Simulasi Pilpres

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version