Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta – Setelah puluhan tahun menjadi penanda proyek transportasi yang tak pernah rampung, tiang-tiang monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, akhirnya mulai dibongkar. Proses pembongkaran resmi dimulai pada Rabu (14/1/2026) pagi dan menargetkan 109 tiang yang selama ini berdiri tanpa fungsi di salah satu koridor bisnis utama ibu kota.
Pembongkaran tersebut turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Kehadiran Sutiyoso menarik perhatian tersendiri, mengingat proyek monorel pertama kali dirancang pada masa kepemimpinannya.
Advertisement
Sutiyoso mengaku merasakan kelegaan mendalam melihat dimulainya pembongkaran tiang monorel yang mangkrak sejak awal 2000-an itu.
“Jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini gitu,” ujar Sutiyoso di kawasan Rasuna Said.
Ia mengenang kembali masa awal perencanaan sistem transportasi Jakarta pada 2003. Saat itu, ia melibatkan para pakar transportasi dan bahkan melakukan studi banding ke Kolombia untuk mencari solusi kemacetan ibu kota. Dari kajian tersebut, ia memutuskan pembagian moda transportasi Jakarta ke dalam empat sistem utama.
“Moda yang paling besar adalah MRT di bawah tanah. Terus ada monorel di atas, ada busway 15 koridor di bawah, dan ada alternatif namanya waterway. Ini dirancang secara terintegrasi jalurnya sudah masing-masing tetapi terintegrasi, sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana pasti dapat transportasi makro,” tuturnya.
Namun, kondisi ekonomi saat itu membuat pencarian investor menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah akhirnya memilih moda transportasi yang bisa dikembangkan tanpa keterlibatan investor swasta.
“Jadi saya tanya kepada tim itu ini moda apa yang enggak perlu investor? Dijawab jelas ‘busway Pak’ gitu. Oleh karena itu saya mulai dengan busway,” ujarnya.
Proyek monorel sendiri mulai direncanakan pada 2004 dengan calon investor asal China. Namun, setelah Sutiyoso mengakhiri masa jabatannya pada 2007, proyek tersebut tak berlanjut hingga akhirnya terbengkalai.
“Nah, terus akibatnya saya tidak tahu, terus mangkrak jadi besi tua seperti ini, dan tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sutiyoso menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Pramono Anung karena dinilai telah mengambil keputusan tegas terhadap proyek yang selama bertahun-tahun merusak wajah kota.
“Saya sekali lagi secara pribadi saya terima kasih. Mudah-mudahan kalau saya lewat ini enggak sakit mata lagi saya suatu saat, yang selama ini terus terpikir gini aduh. Ya sedih aja ya gitu kan, aku mulai itu jadinya kayak begini,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa pembongkaran tiang monorel akan dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan lalu lintas. Dengan skema tersebut, tidak akan ada penutupan jalan selama proses pembongkaran berlangsung.
“Ini pengerjaannya akan dilakukan malam hari ya. Sehingga dengan demikian tidak ada penutupan jalur, dan mudah-mudahan saya sudah minta ke Bina Marga dan Perhubungan untuk pengaturan lalu lintas agar tidak macet,” ujar Pramono.
Pemprov DKI menargetkan pembongkaran dan penataan kawasan Rasuna Said rampung pada September 2026 atau sekitar delapan bulan ke depan. Biaya pembongkaran tiang monorel diperkirakan mencapai Rp254 miliar, sementara anggaran penataan kawasan secara keseluruhan mencapai Rp102 miliar.
Pramono juga mengungkapkan bahwa Pemprov DKI sebelumnya telah menyurati PT Adhi Karya sejak November lalu agar melakukan pembongkaran secara mandiri. Namun, hingga kini permintaan tersebut belum direalisasikan.
“Tapi yang jelas komunikasi dengan Adhi Karya tetap kami lakukan termasuk besi-besi nanti kenapa ini tidak dikerjakan dengan kontraktor tertentu, tetapi kenapa besi-besinya nanti kami akan serahkan kepada Adhi Karya,” ujar Pramono.
Dengan dimulainya pembongkaran ini, Pemprov DKI berharap kawasan Rasuna Said dapat kembali tertata dan terbebas dari simbol proyek transportasi yang lama terbengkalai, sekaligus membuka ruang baru bagi penataan kota ke depan.
Advertisement
