Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Hubungan antara dua kekuatan terbesar dunia kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menutup rangkaian pertemuan tingkat tinggi di Beijing dengan sederet pernyataan besar yang menyentuh isu perdagangan, Iran, Selat Hormuz, hingga ketegangan Taiwan.
Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu disebut Trump sebagai agenda yang “sangat sukses, diakui dunia, dan tak terlupakan”. Sementara Xi menyebut kunjungan tersebut sebagai momen “bersejarah dan menjadi tonggak penting” bagi hubungan kedua negara.
Advertisement
Suasana diplomatik yang hangat terlihat sepanjang kunjungan Trump ke Beijing. Pemerintah China menyambut delegasi AS dengan seremoni megah, mulai dari inspeksi pasukan, sambutan anak-anak, hingga tur khusus ke Zhongnanhai dan kawasan bersejarah Kuil Surga.
Di balik suasana penuh simbol diplomasi itu, kedua pemimpin ternyata membahas isu-isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan global.
Salah satu pembahasan paling sensitif adalah soal Iran dan Selat Hormuz. Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa Xi berkomitmen menahan pengiriman peralatan militer China ke Iran. Meski begitu, Beijing tetap akan membeli minyak Iran dalam jumlah besar.
Trump juga menyatakan China mendukung pembukaan kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Sebagai bagian dari kesepakatan ekonomi, Beijing disebut akan membeli minyak dari AS dan memesan 200 pesawat Boeing.
“kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir” kata Trump saat menyinggung Iran dalam konferensi pers bersama.
Selain isu energi dan Timur Tengah, kerja sama ekonomi menjadi agenda utama. Kedua negara membahas perluasan akses perusahaan AS ke pasar China serta peluang investasi China di sektor industri Amerika.
Sejumlah petinggi perusahaan besar AS turut hadir dalam sebagian pembicaraan tersebut, termasuk CEO Nvidia, Jensen Huang.
Trump menyebut pembicaraan perdagangan kali ini berjalan “lebih baik dibandingkan sebelumnya”. Ia mengatakan para pengusaha yang dibawanya ke Beijing datang untuk “mencapai kesepakatan” dan “membawa kembali lapangan pekerjaan”.
Namun di tengah nuansa kerja sama itu, isu Taiwan tetap menjadi titik paling rawan dalam hubungan kedua negara.
Media pemerintah China mengutip Xi yang memperingatkan potensi “konflik” apabila persoalan Taiwan tidak ditangani secara tepat.
“Jika tidak ditangani dengan tepat, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan jatuh ke dalam konflik,” ujar Xi dalam pernyataan yang dirilis media pemerintah China.
Xi juga menegaskan bahwa kemerdekaan Taiwan “secara fundamental tidak sejalan” dengan perdamaian di Selat Taiwan. Menurutnya, persoalan Taiwan merupakan “masalah paling penting dalam hubungan China-AS”.
Meski Trump menggambarkan pembicaraan dengan Xi berlangsung sangat baik, ia tidak memberikan jawaban tegas ketika ditanya apakah isu Taiwan dibahas secara rinci dalam pertemuan tertutup mereka.
Ketegangan terkait Taiwan memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Beijing memperluas latihan militernya di sekitar pulau tersebut, sementara Washington sebelumnya menyetujui penjualan senjata bernilai miliaran dolar kepada Taiwan, langkah yang berulang kali diprotes China.
Di sisi lain, Xi dan Trump tetap mencoba menampilkan hubungan personal yang akrab di hadapan publik. Trump bahkan kembali menyebut Xi sebagai “teman lama saya” dan menyatakan dirinya “sangat menghormatinya”.
Xi pun menegaskan bahwa China dan AS seharusnya menjadi “mitra, bukan rival”, sebuah pernyataan yang dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas hubungan dua negara di tengah persaingan global yang semakin tajam.
Advertisement
