Advertisement
GazanaPublika.com – Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menggambarkan kepergian Maruarar sebagai sinyal akan potensi migrasi besar-besaran dari internal PDI-P jika partai tersebut tidak segera melakukan konsolidasi.
Perlu diingat bahwa Maruarar bukan satu-satunya anggota yang memutuskan berpisah dari PDI-P. Sebelumnya, dua kader PDI-P telah meninggalkan partai meskipun mereka dipecat. Budiman Sudjatmiko dan Wali Kota Medan Bobby Nasution adalah contohnya, kini mendukung Prabowo-Gibran daripada pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang didukung oleh PDI-P.
Advertisement
Umam menekankan bahwa langkah Maruarar dan Budiman harus menjadi peringatan serius bagi PDI-P untuk mencegah migrasi lebih lanjut dari politisi muda mereka ke pihak lain, terutama di tim Prabowo-Gibran yang mendapat dukungan penuh dari Jokowi.
Apabila Maruarar berujung mendukung pasangan calon yang didukung oleh Jokowi, hal ini bisa dianggap sebagai perlawanan kader muda PDI-P terhadap elit partai. Dampaknya bisa mencakup pelemahan loyalitas terhadap ideologi partai dan menurunkan semangat perjuangan serta kepercayaan diri sebagian kader PDI-P.
Dalam upaya menghadapi fase akhir jelang pemilihan pada 14 Februari 2024, di mana mereka berusaha mengonsolidasikan infrastruktur pemenangan Ganjar-Mahfud, Umam menekankan pentingnya PDI-P segera mengonsolidasikan internalnya agar dapat mengantisipasi lebih lanjutnya migrasi kader partai.(Kompas.com)
Advertisement
