Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia belum sepenuhnya teratasi. Selain menghadapi kesulitan pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau dan minim sumber air, kebakaran juga memicu kabut asap yang mulai berdampak hingga ke negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.
Situasi tersebut mendorong pemerintah memperkuat penanganan karhutla melalui pengerahan personel, operasi pemadaman dari udara dan darat, hingga modifikasi cuaca. Presiden Prabowo Subianto juga memberi perhatian serius terhadap persoalan ini dan menjadwalkan rapat khusus bersama sejumlah pejabat terkait pada Senin (12/10/2026).
Advertisement
Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengatakan petugas terus berupaya memadamkan api meskipun menghadapi kendala di lapangan. Salah satu persoalan utama adalah akses menuju titik kebakaran yang tidak semuanya dapat dijangkau dengan mudah.
“Tantangan yang utama itu aksesibilitasnya luar biasa. Tidak semua bisa kita jangkau. Tapi, biarpun sulit-sulitnya dijangkau, kita tetap berupaya. Mau lewat air kita kerjain juga,” kata Yudho, dikutip dari Kompas.com.
Untuk mengatasi keterbatasan sumber air, petugas Manggala Agni juga membuat sumur bor di sejumlah lokasi. Upaya pemadaman bahkan dilakukan hingga malam hari agar kebakaran dapat dikendalikan.
“Kesulitan ada, tapi bukan berarti kita enggak berupaya ya, kita tetap lakukan terus. Terus teman-teman juga kayak jangankan siang, malam juga dikerjakan,” ujarnya.
Di Sumatera Selatan, kabut asap karhutla turut mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Kondisi tersebut menyebabkan pusat kendali operasi modifikasi cuaca (OMC) dipindahkan sementara ke Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, sejak 9 Oktober 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung penanganan karhutla. Pada Sabtu (10/10/2026), dua sorti penerbangan dilakukan dengan penyemaian bahan di wilayah Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
Masing-masing sorti mengangkut 1.000 kilogram bahan semai. Operasi yang dipusatkan di Pangkal Pinang itu dijadwalkan berlangsung hingga Selasa (13/10/2026).
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan pemerintah telah mengerahkan satuan tugas udara dan darat untuk menangani kebakaran. Penanganan juga dilakukan melalui sosialisasi, edukasi kepada masyarakat, serta perbaikan regulasi.
Pemerintah turut mendorong penguatan Badan Restorasi Gambut agar memiliki keleluasaan lebih besar dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla jangka panjang.
“Semuanya sedang didorong termasuk bagaimana mempersiapkan Badan Restorasi Gambut untuk menjadi badan yang lebih fleksibel untuk ke depan menghadapi dan mencegah agar karhutla betul-betul bisa diminimalkan,” ujar Sigit.
Ia menegaskan, Presiden Prabowo telah memerintahkan TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat untuk bekerja bersama mengatasi kebakaran.
“Tapi, yang jelas Presiden telah memerintahkan TNI, Polri, pemerintah daerah, termasuk Manggala Agni, masyarakat, semua untuk bersama-sama menyelesaikan dan melakukan langkah-langkah yang terbaik untuk penyelesaian Karhutla,” tuturnya.
Dampak karhutla juga menjadi perhatian Malaysia. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman membenarkan informasi bahwa Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah menghubungi Prabowo untuk membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Meski tidak memerinci isi pembicaraan kedua pemimpin tersebut, Dudung menegaskan pemerintah masih berupaya maksimal menangani kebakaran.
Komunikasi juga dilakukan Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan. Dalam komunikasi itu, Indonesia menjelaskan berbagai langkah penanganan yang telah dilakukan, termasuk pengerahan lebih dari 60.000 personel serta 48 helikopter dan pesawat untuk operasi water bombing dan modifikasi cuaca.
Arrmanatha mengakui kebakaran di Sumatera dan Kalimantan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Pemerintah berharap kondisi segera membaik seiring perkiraan datangnya hujan.
Di tengah berbagai upaya tersebut, persoalan karhutla masih menyisakan tantangan besar. Sulitnya menjangkau titik api, keterbatasan air, serta dampak asap lintas negara menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman saat kebakaran terjadi. Pencegahan dan pengelolaan kawasan gambut secara berkelanjutan juga menjadi bagian penting agar kebakaran serupa tidak terus berulang.
Advertisement
