GazanaPublika.com, Jakarta — Tren pelemahan nilai tukar mata uang garuda semakin mengkhawatirkan. Kondisi teranyar memperlihatkan rupiah mengalami guncangan hebat hingga terdepresiasi ke kisaran mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Ekonom dari Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ (UPN) Jakarta, Achmad Nur Hidayat. Dalam analisisnya, ia menggarisbawahi bahwa ‘pemicu utama’ atau pemantik jebloknya performa nilai tukar dalam negeri kali ini adalah situasi di sektor finansial itu sendiri.
“Atau sebenarnya pasar sedang memberi pesan yang lebih keras bahwa masalah utama rupiah, bukan semata eksternal. Melainkan masalah fiskal,” kata Achmad Nur di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurut Achmad, pergerakan nilai tukar saat ini sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada instrumen pasar keuangan secara makro. Ia melihat adanya kecenderungan besar dari para pemilik modal untuk mengamankan aset mereka ke tempat yang dinilai jauh lebih menguntungkan.
“Fenomena ini dipicu oleh tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global serta adanya ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat yang mendorong terjadinya ‘capital outflow’ dari pasar domestik,” ia memaparkan rincian tersebut.
Lebih lanjut, kombinasi antara ‘sentimen negatif’ eksternal dan pergerakan teknis di pasar valuta asing ditengarai menjadi akselerator yang memaksa rupiah terus merosot menjauhi nilai fundamental jangka panjangnya.
Urgensi Langkah Taktis Bank Indonesia
Dikutip dari Inilah.com, situasi yang kian mendesak ini dinilai membutuhkan intervensi strategis yang cepat dan terukur dari otoritas moneter. Apabila pergerakan ekstrem ini dibiarkan berlarut-larut, dampak negatifnya diprediksi dapat merembet dan mengganggu stabilitas perekonomian nasional secara keseluruhan.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Bank Indonesia (BI) didesak segera mengoptimalkan instrumen kebijakan yang mereka miliki guna mengembalikan jangkar kepercayaan pasar.
“Oleh karena itu, Bank Indonesia harus segera melakukan intervensi pasar secara agresif dan efektif untuk menstabilkan nilai tukar serta menjaga ‘market confidence’ agar kepanikan tidak meluas,” pungkas Achmad pada akhir penjelasannya terkait fluktuasi moneter terkini.
