Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kecam Persekusi Diskusi di UGM, Aliansi Padepokan Adat dan Seni Tradisional Keluarkan 8 Poin Pernyataan Sikap

Kecam Persekusi Diskusi di UGM, Aliansi Padepokan Adat dan Seni Tradisional Keluarkan 8 Poin Pernyataan Sikap

Nasional Selasa, 16 Juni 2026 16:42 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Bandung — Merespons dinamika kondisi nasional yang diwarnai oleh maraknya aksi demonstrasi mahasiswa serta gangguan terhadap ruang dialog ilmiah, sejumlah elemen kebudayaan di Jawa Barat mengambil sikap tegas. Aliansi yang terdiri dari komunitas adat, perguruan silat, dan sanggar seni tradisional menggelar pertemuan silaturahmi untuk menyatukan pandangan demi menjaga stabilitas keutuhan NKRI.

Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh perwakilan dari berbagai lembaga kebudayaan, di antaranya Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Padepokan Braja Mustika, Sanggar Seni Hibar, Persaudaraan Terah Banten, Paguron Darma Saputra Putu Dewatar, Munding Edan Cakrabuana, serta LBH Sumedang Larang.

Advertisement

Dalam kesempatan itu, sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Tedi Subarkah, selaku salah satu inisiator perumus maklumat bersama, memberikan sorotan tajam terhadap insiden pembubaran paksa ruang akademis yang terjadi di Yogyakarta pada Senin (15/6/2026). Pernyataan ini disampaikannya di Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, pada Selasa (16/6/2026).

“Kami menyayangkan aksi pembubaran diskusi di UGM Yogyakarta pada tanggal 15 Juni 2026 dan pengusiran Saudara Budiman Sudjatmiko. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip demokrasi Indonesia, yaitu musyawarah mufakat,” ujar Tedi Subarkah yang biasa disapa Abah Tedi.

Abah Tedi memaparkan bahwa penyampaian pendapat di muka umum seyogianya menjadi langkah paling akhir apabila saluran komunikasi formal telah menemui jalan buntu, bukan dengan cara memotong jalannya diskusi ilmiah.

BACA JUGA:  Siksa ART Indonesia, Dua Pasang Majikan di Malaysia Ditangkap Setelah Videonya Viral di Tanah Air

“Betul. Demonstrasi adalah hasil akhir dari sebuah upaya diskusi atau dialog dengan pemangku kebijakan. Jadi, konteks aksinya jelas, karena tidak ada titik temu,” tegasnya.

Ia juga mendesak agar para pelaku yang terlibat dalam tindakan penolakan anarkis di area kampus tersebut segera bertanggung jawab secara moral atas tindakan intimidasi yang dilakukan kepada narasumber acara.

“Oknum mahasiswa tersebut harus segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Tindakan itu sudah merupakan bentuk persekusi dan penghinaan terhadap pribadi narasumber,” imbuhnya.

Aliansi menilai eskalasi protes yang terjadi belakangan ini dipicu oleh ketidakpuasan para kelompok kepentingan atau ‘mafia’ anggaran, minyak dan gas, pertambangan, serta pembalakan hutan yang saat ini tengah menghadapi supremasi hukum di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ketegasan pemerintah dalam menerapkan Sila ke-5 Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945 untuk merebut kembali kekayaan negara dari penguasaan asing dinilai memicu perlawanan balik, termasuk lewat penyusupan paham ‘Anarki Sindikalis’ (anti-sistem, anti-negara, dan anti-budaya) yang merusak tatanan kebudayaan asli Indonesia.

Atas dasar pertimbangan tersebut, aliansi budayawan dan pesilat ini secara resmi merumuskan 8 poin pernyataan sikap bersama sebagai berikut:

1. Tidak terprovokasi oleh isu di media sosial yang jelas bertujuan mengacaukan stabilitas sosial, ekonomi, hukum, dan politik Indonesia.

2. Berkoordinasi terkait adanya informasi apa pun dengan pihak yang berwenang ataupun pihak yang memahami kondisi sebenarnya.

BACA JUGA:  Adukan Dugaan Intimidasi di Kedoya, Anak Penulis Ahmad Bahar Sambangi Komnas HAM

3. Bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan sikap wajar sesuai aturan hukum yang berlaku.

4. Bersiap mengonsolidasikan warga untuk menghadapi gangguan dengan berkoordinasi bersama pihak keamanan.

5. Bersiap melakukan netralisasi atau mencegah potensi gangguan keamanan di lingkungan masing-masing.

6. Melarang warga atau keluarga untuk beraktivitas politik berupa demonstrasi anarkis, serta mengarahkan mereka untuk mengkritisi kebijakan melalui diskusi dan musyawarah sebagai budaya asli Indonesia.

7. Mengecam dan mengutuk dengan keras pembubaran musyawarah dan diskusi yang berlangsung di UGM Yogyakarta yang dilakukan oleh oknum mahasiswa UGM maupun kelompok tidak dikenal, karena hal tersebut mencederai nuansa demokrasi dan budaya musyawarah di Indonesia.

8. Bersiap untuk menyatukan pemahaman, pikiran, hati, dan tujuan dalam membangun cita-cita Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera melalui Apel Siaga (Jaga Lembur) yang waktunya belum ditentukan.

Melalui pernyataan sikap yang dikoordinasikan oleh Tedi S. Kartaatmadja ini, para pesilat dan warga adat berkomitmen untuk tetap konsisten bergerak dalam koridor hukum. Pertemuan ditutup dengan seruan doa bersama mengacu pada falsafah leluhur ‘Purusa ning Sa/ Mukti Bela Bakti’ Nagari serta semangat “Sarindek Saigel, Sabobot Sapihanean, Runtut Raut Sauyunan” (seiya sekata, seia sekata, rukun dan bergotong royong bersama). (red)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Berita Utama

Sapu Bersih BUMN: Prabowo Opsi Usut Direksi 30 Tahun ke Belakang Hingga Bentuk Pengadilan Ad Hoc

Berita Utama

Penista Agama dengan Tantangan Hadiah Miras Bagi Penghapal Al Quran: Kasus Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Nasional

FPN Desak Pemerintah Hentikan Hubungan Bawah Tanah dengan Israel

Nasional

Buruh Batalkan Rencana Demo ke DPR, Khawatir Ada Penyusup yang Merusak Aksi

BERITA TERBARU

Sapu Bersih BUMN: Prabowo Opsi Usut Direksi 30 Tahun ke Belakang Hingga Bentuk Pengadilan Ad Hoc

Hari Pramuka ke-65, Kapolda Banten Tekankan Pentingnya Karakter dan Kemandirian Generasi Muda

Spider-Man: Brand New Day. Terlaris 2026

Hidup Tenang, Tidak Berlebihan: Kembali ke Kesederhanaan yang Menentramkan

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.