Advertisement
Jakarta, GazanaPublika.com – Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dengan tegas melarang para menteri dari PDIP untuk keluar dari kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pernyataan ini disampaikan Megawati dalam acara ROSI di Kompas TV dengan tema “Blak-blakan Megawati Soal Petugas Partai Hingga Isu Sri Mulyani Mundur,” pada Kamis (8/2/2024).
Dalam penjelasannya, Megawati mengatakan bahwa para menteri dari PDIP harus tetap tinggal di kabinet pemerintahan untuk menjaga stabilitas dan efektivitas kerja. Ia menyatakan bahwa meskipun pemilihan presiden tinggal 10 bulan lagi, keluarnya menteri dapat menghambat kinerja pemerintahan.
Advertisement
“Buat saya itu umpamanya kita duduk ada kursi ada meja, kan masih mikir mau ngangkat kursi kah atau tetap ada, supaya kamu tetap duduk di kursi, kalau nggak ada kursi kan kamu berdiri,” ujar Megawati.
Megawati memotivasi para menteri dengan menekankan pentingnya tetap berada di kabinet demi kelancaran pemerintahan, dan mengingatkan bahwa penggantian menteri hanya untuk sisa 10 bulan masa jabatan Jokowi mungkin kurang efektif. Ia menyoroti bahwa proses pemilihan menteri selalu diwarnai oleh pertimbangan politis dan hitung-hitungan pragmatis.
“Why? Karena kalau ada orang yang mau dimasukkan pasti kepingin banget dong masuk. Tapi kalau hanya untuk 10 bulan apa yang mau dikerjakan?” ucapnya.
Megawati juga menegaskan bahwa pemilihan menteri seharusnya tidak hanya berdasarkan kepentingan pragmatis, terutama dalam konteks Pemilu 2024. Ia mengajak pemimpin untuk memilih menteri berdasarkan nilai dan bukan semata-mata hitung-hitungan politik.
Pernyataan Megawati ini memberikan pandangan strategis terhadap stabilitas kabinet dan menggambarkan kebijakan partai terkait keterlibatan dalam pemerintahan jelang berakhirnya masa jabatan Jokowi.
Menurutnya pemilihan sosok pembantu presiden juga penuh dengan hitung-hitungan.
Sehingga sepatutnya setiap pemimpin memilih sosok menteri bukan berdasarkan kepentingan pragmatis, dalam hal ini Pemilu 2024.
“Itu hitung-hitungan yang menurut saya sebuah nilai yang seharusnya para pemimpin melihatnya begitu, bukan untuk kepentingan pragmatis,” kata dia. (Sumber: Tribunnews.com)
Advertisement
