Advertisement
GazanaPublika.com – Seorang pejabat senior Arab Saudi membela pengelolaan ibadah haji 2024 oleh kerajaan Teluk pada Jumat (21 Juni) setelah lebih dari 1.100 kematian dilaporkan oleh berbagai negara, banyak di antaranya disebabkan oleh suhu panas yang ekstrem. Dalam pernyataannya kepada AFP yang dikutip pada Sabtu (22/6/2024), pejabat tersebut menegaskan bahwa kegagalan tidak terjadi pada negara, melainkan ada kesalahan penilaian dari masyarakat yang tidak menyadari risiko tinggi terkait kondisi cuaca.
Penghitungan AFP pada Jumat (21/6), yang mengumpulkan pernyataan resmi dan laporan dari diplomat yang terlibat dalam respons tersebut, mencatat bahwa jumlah korban jiwa mencapai 1.126 orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berasal dari Mesir. Pejabat senior Saudi mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mencatat 577 kematian dalam dua hari tersibuk haji: Sabtu (15/6), saat para jemaah berkumpul untuk berjam-jam salat di bawah terik matahari di Gunung Arafat, dan Minggu (16/6), ketika mereka berpartisipasi dalam ritual “rajam setan” di Mina.
Advertisement
Menurut pejabat tersebut, kondisi cuaca buruk dan suhu yang sangat ekstrem adalah faktor utama penyebab banyaknya korban jiwa. Ia juga mengakui bahwa jumlah 577 kematian hanya mencakup sebagian dari total jemaah, yang secara resmi berakhir pada hari Rabu (19/6). Meski begitu, jumlah total korban masih menjadi perhatian serius di kalangan pemerintah dan masyarakat internasional.
Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu setidaknya sekali seumur hidup. Pejabat Saudi menyatakan bahwa tahun ini, 1,8 juta jemaah haji ikut ambil bagian, dengan 1,6 juta di antaranya berasal dari luar negeri. Meskipun jumlah jemaah tahun ini sama dengan tahun lalu, kondisi cuaca yang lebih ekstrem membuat pelaksanaan haji 2024 menjadi tantangan besar bagi pemerintah Saudi dalam memastikan keselamatan para jemaah.
Sumber: liputan6.com
Advertisement
