Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Aktifis Mahasiswa Lintas Generasi Era 1998 dan 2000-an: Reformasi dikorupsi Jokowi

Aktifis Mahasiswa Lintas Generasi Era 1998 dan 2000-an: Reformasi dikorupsi Jokowi

Berita Utama Sabtu, 25 November 2023 8:01 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
default-no-image
Ilustrasi Berita (GazanaPublika)

Advertisement

GAZANAPUBLIKA.COM – Keputusan MK terkait Polemik batas usia calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres) yang ditengarai telah memperlancar jalan tol bagi putra sulung Presiden Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka, rupanya masih berbuntut panjang.

Sekalipun MKMK telah memutuskan bahwa Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, yang merupakan paman Gibran tersebut, telah menyatakan yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran sebagaimana tertuang dalam Sapta Karsa Hutama Prinsip Ketakberpihakan, Prinsip Integritas, Prinsip Kecakapan dan Kesetaraan, Prinsip Independensi, dan Prinsip Kepantasan dan Kesopanan. Alhasil, MKMK memberhentikan Hakim Konstitusi Anwar Usman dari jabatan Ketua MK.

Advertisement

Para aktifis Mahasiswa Lintas Generasi 1998 dan 2000-an, menganggap hal ini belum cukup. Presiden Jokowi dipandang telah melakukan tindakan mengacak-acak konstitusi dengan memanfaatkan kekerabatan keluarganya dalam mempengaruhi keputusan MK, reformasi telah dikorupsi.

Demikian dikatakan salah seorang pembicara, Eko Arief Nugroho yang merupakan mantan aktifis mahasiswa 1998 dari Keluarga Aktifis Mahsiswa Unpad (KAU), dalam acara “Bincang Politik: Arah Konsolidasi Demokrasi dalam Pemilu 2024”, yang diadakan di sebuah café di Kawasan Punclut, Kota Bandung (24/11).

“Kami menganggap Jokowi telah menodai semangat dan cita-cita reformasi 1998 yang kita perjuangkan untuk memberantas Nepotisme, dengan mengacak-acak konstitusi!’ demikian menurut Eko. Atas dasar ini lebih lanjut Eko mengantakan, “Keresahan yang dirasakan kita (aktifis 1998) dan mahasiswa 2000-an – 2023 pada dasarnya sama, situasi ini meresahkan masa depan demokrasi, dan menganggap negeri ini tidak baik-baik saja”.

BACA JUGA:  Evaluasi Jalur Sepeda Jakarta: Warga Desak Penghapusan demi Urai Macet

Beberapa keresahan yang timbul atas perkembangan ini sudah mulai diresponse oleh berbagai kalangan Masyarakat sipil, akademisi di beberapa kampus seperti UI, Unpar dan mahasiswa di beberapa kota, seperti Surabaya dan Jogya yang diikuti massa mahasiswa ribuan orang.

Dok: Istimewa
Aktifis Mahasiswa Lintas Generasi Era 1998 dan 2000-an: Reformasi dikorupsi Jokowi

Acara diskusi yang dipandu oleh Lukman Nurhakim, yang juga aktifis 1998 dan pernah aktif di Unit Studi Ilmu Kemasyarakatan-Unpar ini, diikuti oleh puluhan mantan aktifis mahasiswa 1998 yang dulu berasal dari berbagai kampus seperti Yodisman Sorata, Febrianto, Budi Hermansyah (Unpad), Opik (KM-ITB), Nicko Pardede, Ricky (Universitas Widyatama/STIEB), Anton Shulton (STHB), Irzal Yanuardi (Unisba), Sugeng (Unpas), dan lain lain.

Juga diikuti oleh sejumlah aktifis Mahasiswa era 2023-an, tercatat beberapa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa dari UNIKOM, UIN, Presma ITB, Presma UBK, Presma STIMIK dan STT Bandung.

Lebih lanjut Eko mengatakan, “Sekalipun kondisi sekarang berbeda relasi-relasi dalam Gerakan Mahasiswa berbeda karena adanya tahun politik, tapi tidak menutup kemungkinan aksi-aksi akan menjadi semakin besar, urun rembuk aktifis lintas generasi di Bandung beberapa waktu yang lalu hingga hari ini kita berkumpul menjadi waktu yang tepat untuk kita terus mengkonsolidasikan gerakan menolak hegemoni kekuasaan Jokowi ini”.

BACA JUGA:  Kasus Korupsi BGN: Eks Kepala dan Dua Mantan Wakil Resmi Menyandang Status Tersangka

Aktifis 1998 lain, Nicko Pardede, mengemukakan hal senada, “Gerakan Mahasiswa tahun 2023-an, harus mulai mengkonsolidir di berbagai kampus-kampus untuk kembali turun ke jalan, agenda Pilpres dan agenda internal terkait masa periode kepengurusan BEM jangan menjadi hambatan’ ungkapnya.

“Pola-pola seperti tahun 1998 dimana gerakan aksi dan pers mahasiswa bisa saling mengisi ruang-ruang gerakan di tengah sempitnya waktu mahasiswa kini antara bergerak dan menyelesaikan masa kuliah yang membelenggu akibat tekanan kapitalisme pendidikan”.

Pada kesempatan tersebut, salah seorang mahasiswa dari BEM Areief Tegar Prawira dari Presma Unikom, mengamini kondisi yang tengah terjadi di lingkungan kampus karena adanya periode waktu kepengurusan dan keberlanjutan kaderisasi yang singkat, sehingga media social yang menjadi alat komunikasi penting yang bisa disampaikan diantara mereka”.

Bagi mereka cara-cara Jokowi memuluskan anaknya mengikuti kontestasi dalam pilpres 2023, tidak mencerminkan suara dan keinginan generasi Z, saat ini, untuk apa memaksakan anak muda menjadi pemimpin dengan cara yang tidak meritokrasi seperti itu. “Generasi kami butuh contoh yang baik bukan dengan mengacak-acak dan mengakali konsitusi dengan alasan sudah mengikuti aturan dan proses demokrasi yang akal-akalan.

Mahasiswa tengah mengkonsolidasikan dengan kampus-kampus dan jejaring secara nasional dalam waktu dekat ini” demikian menurut Hisyam, seorang aktifis mahasiswa dari kampus yang sama di Unikom.

Advertisement

1 2
Joko Widodo Jokowi Mahasiswa
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Nasional

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Berita Utama

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Nasional

Prabowo Sungkem kepada Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso di Muktamar NU ke-35

Berita Utama

Aktivis AMPB Kecewa Puan Maharani Tak Temui Massa Aksi Secara Langsung

BERITA TERBARU

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Polda Banten Imbau Orang Tua Awasi Anak agar Tak Terjebak Kericuhan Saat Penyampaian Aspirasi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.