Advertisement
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
Barang siapa yang mengenal dirinya sungguh ia telah mengenal Tuhannya<span;>.” (al-Hadits)
Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Pada bagian sebelumnya, sebenarnya sudah dibahas mengenai kekecewaan dalam judul *”Perasaan Lemah: Jangan Biarkan Menjangkit Jiwa”*. Namun, pada bagian ini akan dibahas lebih spesifik terkait tema ‘kecewa’ atau ‘kekecewaan’. **Apa sebenarnya kecewa itu?**
Kecewa adalah perpaduan antara rasa amarah dan kesedihan. Seseorang ingin marah, tetapi kemarahannya kecil dan tidak diungkapkan, lalu bercampur dengan kesedihan sehingga menjadi kekecewaan. Dengan demikian, kecewa berada di antara marah dan sedih, membuat seseorang sulit menerima keadaan atau perlakuan orang lain.
Perasaan ini penting dibahas karena sangat menghambat hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun dengan Allah. Dalam tingkat tertinggi, kekecewaan bisa menyebabkan bunuh diri, kegilaan, atau frustrasi. Sikapnya ditandai dengan penolakan terhadap realitas atau perlakuan orang lain, sehingga seseorang mungkin bertindak negatif atau irasional.
Kekecewaan sering muncul dari hal-hal sepele, namun bisa membesar dan memicu keputusan emosional. Banyak kasus yang membuktikan hal ini.
Di sisi lain, kekecewaan juga dianggap wajar dalam batas tertentu. Misalnya, ketika seseorang mengundang sahabatnya dan sangat berharap kedatangannya, tetapi sahabat itu tidak datang, maka muncul rasa kecewa. Contoh seperti ini masih tergolong manusiawi.
Kecewa adalah bagian dari emosi yang membutuhkan pengendalian khusus. Sensitivitas berlebihan harus dikurangi karena dapat memicu kekecewaan. Seseorang yang kecewa mendalam bisa memutuskan hubungan pertemanan atau persaudaraan dengan orang yang menyinggung perasaannya. Tingkat sensitivitas setiap orang berbeda, sehingga ada orang yang lebih mudah merasa kecewa.
Yang lebih berbahaya adalah kekecewaan kepada Tuhan, yang dapat dilihat dalam beberapa kasus kehidupan. Efeknya, seseorang bisa kehilangan kepercayaan bahkan sampai memaki Tuhan.
Lalu, bagaimana cara mengendalikan rasa kecewa?
1. Meningkatkan rasa memaafkan dan memaklumi orang lain, dengan kata lain, berbesar hati menerima kenyataan.
2. Menanamkan kesabaran tinggi, terutama dalam menghadapi ujian hidup.
3. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
4. Ridho terhadap segala ketetapan Allah, termasuk ujian yang diberikan.
Sebenarnya, kekecewaan adalah efek dari kesombongan dalam diri. Oleh karena itu, kita perlu meredam kesombongan dan menyadari bahwa kita hanyalah manusia lemah di hadapan Allah.
Tulisan ini, seperti tulisan-tulisan sebelumnya, mengajak pembaca untuk mengevaluasi diri: Apakah sifat mudah kecewa masih kita pelihara? Selanjutnya, mari bertobat kepada Allah dan memperbaiki diri agar lebih baik dari hari kemarin. ***
Advertisement
