Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Pengendalian Rasa Kecewa

Pengendalian Rasa Kecewa

Nasional Minggu, 20 April 2025 20:40 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Barang siapa yang mengenal dirinya sungguh ia telah mengenal Tuhannya<span;>.” (al-Hadits)

Advertisement

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Pada bagian sebelumnya, sebenarnya sudah dibahas mengenai kekecewaan dalam judul *”Perasaan Lemah: Jangan Biarkan Menjangkit Jiwa”*. Namun, pada bagian ini akan dibahas lebih spesifik terkait tema ‘kecewa’ atau ‘kekecewaan’. **Apa sebenarnya kecewa itu?**

Kecewa adalah perpaduan antara rasa amarah dan kesedihan. Seseorang ingin marah, tetapi kemarahannya kecil dan tidak diungkapkan, lalu bercampur dengan kesedihan sehingga menjadi kekecewaan. Dengan demikian, kecewa berada di antara marah dan sedih, membuat seseorang sulit menerima keadaan atau perlakuan orang lain.

Perasaan ini penting dibahas karena sangat menghambat hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun dengan Allah. Dalam tingkat tertinggi, kekecewaan bisa menyebabkan bunuh diri, kegilaan, atau frustrasi. Sikapnya ditandai dengan penolakan terhadap realitas atau perlakuan orang lain, sehingga seseorang mungkin bertindak negatif atau irasional.

BACA JUGA:  Nasib Sayembara Rp250 Juta Usai Buron Penganiaya di Bandung Tertangkap

Kekecewaan sering muncul dari hal-hal sepele, namun bisa membesar dan memicu keputusan emosional. Banyak kasus yang membuktikan hal ini.

Di sisi lain, kekecewaan juga dianggap wajar dalam batas tertentu. Misalnya, ketika seseorang mengundang sahabatnya dan sangat berharap kedatangannya, tetapi sahabat itu tidak datang, maka muncul rasa kecewa. Contoh seperti ini masih tergolong manusiawi.

Kecewa adalah bagian dari emosi yang membutuhkan pengendalian khusus. Sensitivitas berlebihan harus dikurangi karena dapat memicu kekecewaan. Seseorang yang kecewa mendalam bisa memutuskan hubungan pertemanan atau persaudaraan dengan orang yang menyinggung perasaannya. Tingkat sensitivitas setiap orang berbeda, sehingga ada orang yang lebih mudah merasa kecewa.

Yang lebih berbahaya adalah kekecewaan kepada Tuhan, yang dapat dilihat dalam beberapa kasus kehidupan. Efeknya, seseorang bisa kehilangan kepercayaan bahkan sampai memaki Tuhan.

BACA JUGA:  Puluhan Ribu Personel Polri Terima Kenaikan Pangkat Mulai dari Bintara hingga Perwira Tinggi

Lalu, bagaimana cara mengendalikan rasa kecewa?
1. Meningkatkan rasa memaafkan dan memaklumi orang lain, dengan kata lain, berbesar hati menerima kenyataan.
2. Menanamkan kesabaran tinggi, terutama dalam menghadapi ujian hidup.
3. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
4. Ridho terhadap segala ketetapan Allah, termasuk ujian yang diberikan.

Sebenarnya, kekecewaan adalah efek dari kesombongan dalam diri. Oleh karena itu, kita perlu meredam kesombongan dan menyadari bahwa kita hanyalah manusia lemah di hadapan Allah.

Tulisan ini, seperti tulisan-tulisan sebelumnya, mengajak pembaca untuk mengevaluasi diri: Apakah sifat mudah kecewa masih kita pelihara? Selanjutnya, mari bertobat kepada Allah dan memperbaiki diri agar lebih baik dari hari kemarin. ***

Advertisement

Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Nasional

Rizal Fadillah Jadi Tersangka: Pengamat Nilai Isu Ijazah Jokowi Lebih Menonjol daripada Identitas dan Stabilitas PSI di Jabar

Nasional

Ledakan Gudang Amunisi Puspalad Madiun: Satu Prajurit Gugur, Penyebab Masih Diselidiki

Nasional

Pemerintah Alokasikan Rp 3 Miliar untuk Setiap Koperasi Desa Merah Putih

Nasional

Dokter Tifa: 12 Tahun Jokowi Pejabat, Baru Akui Lulusan UGM Tahun 2017

BERITA TERBARU

Rizal Fadillah Jadi Tersangka: Pengamat Nilai Isu Ijazah Jokowi Lebih Menonjol daripada Identitas dan Stabilitas PSI di Jabar

Ledakan Gudang Amunisi Puspalad Madiun: Satu Prajurit Gugur, Penyebab Masih Diselidiki

Pemerintah Alokasikan Rp 3 Miliar untuk Setiap Koperasi Desa Merah Putih

Dokter Tifa: 12 Tahun Jokowi Pejabat, Baru Akui Lulusan UGM Tahun 2017

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.