Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Nusantara Baru, Santri Mendunia

Nusantara Baru, Santri Mendunia

Opini Sabtu, 28 September 2024 2:24 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com – Sebutan “Nusantara” pertama kali diperkenalkan oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta, di mana “Nusa” berarti pulau dan “Antara” berarti sekitar, menggambarkan pulau-pulau di luar Jawa. Hal ini tercatat dalam kitab *Negara Kertagama*. Nama “Nusantara” juga dikenal setelah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi tekad untuk menyatukan wilayah luar Jawa, atau yang dikenal sebagai Nusantara. Namun, istilah ini telah ada lebih awal, yakni pada masa Kerajaan Singhasari di era Kertanegara.

Advertisement

Nusantara Baru
Istilah Nusantara saat ini digunakan untuk menggambarkan kepulauan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Nusantara Baru mencerminkan visi Indonesia yang lebih kuat dan bersatu, serta menegaskan kembali peran pentingnya di kancah global. Pada 17 Agustus 2024, Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-79, sekaligus meresmikan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Dengan tema “Nusantara Baru, Indonesia Maju”, pembangunan IKN menjadi simbol semangat baru, yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan dan pemerataan di seluruh wilayah Indonesia. Sejarah nama Indonesia sendiri dimulai pada 1924 dengan terbitnya koran *Indonesia Merdeka*, dan resmi digunakan dalam teks proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Melalui tema Nusantara Baru, pemerintah berharap untuk membangkitkan semangat seluruh rakyat dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan membangun bangsa dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

BACA JUGA:  OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Santri Mendunia
Menurut tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj, istilah “Santri” berasal dari kata “Cantrik”, yang merujuk pada murid-murid di negeri Dhoho, Kediri, yang belajar ilmu agama di padepokan. Santri identik dengan dunia pesantren, yang merupakan tradisi pendidikan yang bersifat asli (indigenous) di Indonesia. Gus Dur (Presiden ke-4 RI) mendefinisikan pesantren sebagai tempat di mana para santri tinggal dan belajar agama Islam. Mahmud Yunus menambahkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam, dengan ciri khas yang unik di Indonesia.

Pesantren tidak hanya bertahan sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga berperan dalam mempertahankan nilai budaya lokal di tengah perkembangan global. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 menjadi landasan penting yang menempatkan pesantren sejajar dengan institusi pendidikan lainnya. Pesantren tidak mengajarkan radikalisme, melainkan menjadi pelopor dalam pengembangan kearifan lokal dan mempersiapkan santri yang berwawasan global.

BACA JUGA:  Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Dalam kajian sejarah, pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran ilmu agama, yang tidak ditemukan di sekolah umum. Pesantren juga menjaga tradisi lokal dan keislaman, menciptakan insan yang humanis dan religius, serta memperkuat identitas keindonesiaan. Pesantren juga memperkuat nilai-nilai luhur seperti tasamuh (toleransi), tawasuth (moderat), dan tawazun (seimbang), yang menjadi ciri khas santri dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup
Tradisi pesantren, terutama melalui kajian kitab kuning, telah melahirkan nilai-nilai luhur yang jika diterapkan di masyarakat, akan mencerminkan budaya Nusantara yang penuh dengan tata adab. Metode pendidikan modern seperti full day school atau boarding school pada dasarnya meniru pola pendidikan pesantren yang telah lama ada. Dengan kurikulum merdeka yang kini diterapkan, pola pendidikan pesantren seperti ngaji sorogan kitab kuning menjadi contoh yang relevan.

Harapan “Nusantara Baru dan Santri Mendunia” bukan hanya sekadar slogan, melainkan bukti nyata dari kontribusi pesantren dalam kehidupan bangsa ini. Semoga cita-cita ini dapat terwujud.

Penulis adalah seorang santri dari Lebak bagian selatan

Advertisement

Nusantara Santri
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

Opini

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

BERITA TERBARU

Bupati Klaten Terjaring OTT KPK, PDIP Tegaskan Sanksi Partai Menanti

Polda Banten Bersama Mahasiswa UNTIRTA Edukasi Pelajar Cegah Kekerasan dan Kejahatan Siber terhadap Anak Perempuan

Polisi Bongkar Kasus Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di PIK 2

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Perang Yaman: Arab Saudi di Persimpangan Strategi

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version