Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Dari pengamatan situasi politik saat ini yakni mengenai pergerakan kampanye Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, menyoroti kondisi isu-isu yang saat ini terlihat mendominasi perhatian dalam kontestasi pemilihan presiden 2024. Rating mereka lebih sering muncul di media massa.
Hal demikian memperlihatkan bahwa isu-isu yang diusung oleh Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar terasa tertutup oleh intensitas pergerakan kampanye yang dilakukan oleh pasangan Prabowo-Gibran.
Advertisement
Sebagai pengagum Anies Baswedan saya berpendapat bahwa Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar harus bisa menyusun strategi komunikasi yang baik, efektif dan efisien. Salah satu metode yang ditawarkan dalam ilmu komunikasi ialah agenda setting. Mungkin dengan metode ini pasangan Anies Baswedan bisa tampil lebih dominan di media massa.
Analisis Berdasarkan Teori Agenda Setting
Teori agenda setting pertama kali dipopulerkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw pada tahun 1972. Teori ini menyatakan bahwa media massa memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan isu-isu yang menjadi perhatian publik. Isu-isu yang dimuat secara intensif oleh media massa akan lebih mudah diingat dan dipahami oleh publik.
McCombs dan Shaw melakukan penelitian di Chapel Hill, North Carolina, Amerika Serikat. Mereka membandingkan isu-isu yang dianggap penting oleh publik dengan isu-isu yang dimuat oleh media massa. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kedua hal tersebut. Isu-isu yang dianggap penting oleh publik juga dimuat secara intensif oleh media massa.
Berdasarkan penelitian tersebut, McCombs dan Shaw menyimpulkan bahwa media massa memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk agenda publik. Media massa dapat menentukan isu-isu yang menjadi perhatian publik dengan cara menentukan isu-isu yang akan dimuat. Isu-isu yang dimuat secara intensif oleh media massa akan lebih mudah diingat dan dipahami oleh publik.
Teori agenda setting telah menjadi salah satu teori komunikasi massa yang paling berpengaruh. Teori ini telah digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial, termasuk pemilihan umum, kebijakan publik, dan opini publik.
Pendekatan teori agenda setting menekankan peran media massa dalam membentuk agenda isu-isu yang menjadi perhatian utama masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa isu-isu yang secara konsisten dipublikasikan oleh media massa akan cenderung lebih mudah diingat dan diperhatikan oleh publik.
Dari analisis tersebut, terlihat bahwa Prabowo dan Gibran berhasil menggiring perhatian publik dengan memperkenalkan dan mengupas isu-isu yang mereka usung secara konsisten melalui media massa. Kehadiran konstan isu-isu ini dalam media memungkinkan isu-isu lain, termasuk yang berkaitan dengan kampanye Anies dan Muhaimin, menjadi terpinggirkan dan kurang mendapat sorotan.
Strategi untuk Mengatasi Tantangan
Untuk menanggapi tantangan ini, Anies dan Muhaimin dapat merancang strategi kampanye yang terstruktur dengan fokus pada kemitraan yang erat dengan media massa. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:
Pertama, pembuatan Konten Menarik dan Informatif, menghasilkan konten-konten yang menarik seperti video, artikel, atau podcast yang mampu menarik minat dan memberikan informasi bermanfaat kepada publik.
Kedua, kolaborasi Intensif dengan Media Massa, melakukan kerja sama yang erat dengan media massa untuk mempromosikan kampanye mereka. Ini bisa melibatkan pemberian wawancara, pembuatan liputan khusus, atau penyelenggaraan acara bersama.
Ketiga, pembangunan Relasi dengan Influencer, membangun hubungan yang kuat dengan influencer yang dapat membantu menyebarkan pesan kampanye Anies dan Muhaimin kepada publik secara lebih luas.
Melalui penerapan strategi-strategi ini, diharapkan Anies dan Muhaimin dapat memperluas visibilitas mereka di media massa dan menarik perhatian lebih banyak orang.
Permasalahan yang terungkap dalam pernyataan tersebut menggarisbawahi kebutuhan untuk melakukan strategi kampanye yang lebih terfokus dan sistematik bagi Anies dan Muhaimin. Kolaborasi yang erat dengan media massa menjadi kunci dalam meningkatkan eksposur isu-isu yang mereka usung, sehingga memungkinkan untuk mendapat perhatian yang lebih besar dari publik dalam konteks kampanye pemilihan presiden 2024.
Penulis:
Abdul Basyith Syihabuddin, S.Ag.
Aktifis ’98
Alumnus Insititut Agama Islam Sunan Gunung Jati
Deklarator Front Mahasiswa Nasional
Mantan Ketua Front Indonesia Muda-Bandung
Advertisement
Advertisement
