Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Awal Mei Masyarakat Adat Baduy Melaksanakan Seba

Awal Mei Masyarakat Adat Baduy Melaksanakan Seba

Opini Rabu, 9 April 2025 2:47 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis: Ade Gogo

GazanaPublika.com – Saat ini masyarakat adat Baduy yang menetap di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten tengah memasuki bulan ketiga kawalu. Kawalu adalah bulan puasa dalam penanggalan agama Sunda Wiwitan. Kawalu berlaku selama tiga bulan dari awal Februari hingga akhir April. Selama tiga bulan Kawalu mereka hanya berpuasa tiga kali, setiap bulan satu kali, dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Advertisement

Kawalu dilaksanakan setelah panen raya padi huma di seluruh tanah adat Desa Kanekes. Sebelum Kawalu mereka melaksanakan ritual pesta rakyat yaitu Ngalaksa. Ngalaksa adalah mamasak laksa, makanan khas Sunda. Sebelum Ngalaksa diawali oleh Ngalanjakan, yaitu berburu binatang untuk tambahan lauk selain binatang piaraan yaitu ayam kampung. Target buruan adalah ikan dan, katanya, juga kancil alias mencek.

Seba adalah kunjungan silaturahmi ke kepala-kepala daerah di Provinsi Banten, diawali ke Bupati Lebak, Bupati Pandeglang, Bupati Serang, terakhir ke Gubernur Banten. Dalam setiap Seba, tokoh masyarakat Baduy melaporkan kondisi dan situasi di wilayah mereka termasuk perkembangan jumlah penduduk.

BACA JUGA:  OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Biasanya ada kegiatan lain setelah Seba yaitu perkawinan. Ada beberapa pasangan yang telah tunangan sebelum memasuki bulan Kawalu, dan segeta menikah setelah Seba dilaksanakan.

Sesuai informasi yang diterima oleh kami dari Jaro 12 Tanggungan bernama Sarip, apabila tidak ada halangan Seba akan dimulai pada tanggal 2 Mei.

“Rencana sakitar tanggal 2,” kata Sarip.

Warga yang mengikuti Seba melaksanakan perjalanan berjenjang. Hari pertama bertemu dengan Bupati Lebak, seanjutnya bermalam di pendopo Setda Pemkab Lebak semnari disuguhkan tontonan wayang golek. Besok paginya mereka berangkat ke Serang untuk bertemu Gubernur dan Bupati. Untuk bertemu Bupati Pandeglang biasanya cukup oleh beberapa orang perwakilan.

Pada setiap Seba biasanya sedikitnya diikuti 1.000 orang warga adat Baduy, tanpa perempuan. Dari jumlah itu, puluhan di antaranya adalah warga Baduy dalam (kawasan tangtu). Berbeda dengan warga Baduy luar (kawasan panamping) yang dibolehkan oleh adat untuk menumpang kendaraan, warga Baduy dalam dilarang berkendaraan. Sehingga dari kampungnya di Kanekes mereka harus berjalan kaki sejauh 100 kilometer lebih, Kanekes ke Rangkasbitung kurang-lebih 58 kilometer dilanjut ke Kota Serang sejauh kurang-lebih 45 kilometer. Mereka berjalan tanpa alas kaki pergi-pulang.

BACA JUGA:  Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Ketika di Serang mereka akan diterima oleh Gubernur dan unsur muspida beserta pejabat pemprov lainnya. Pada malam harinya biasanya disuguhi hiburan wayang golek pada malam harinya.

Dalam Seba mereka membawa oleh-oleh hasil pertanian, seperti pisang, kelapa, gula aren, juga madu. Pemerintah juga memberikan oleh-oleh kepada mereka seperti ikan asin, garam, dan terasi. Sebelum pulang biasanya setiap warga Baduy diberikan uang kadeudeuh oleh dinas pelaksana kegiatan yaitu Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Pemprov Banten.

Penulis adalah Dewan Redaksi GazanaPublika.com

Advertisement

Baduy Kota Serang
Ade Gogo

BERITA LAINNYA

Opini

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Opini

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

Opini

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

BERITA TERBARU

Kecelakaan Maut Tol Cijago: Pemotor Lawan Arah Tewas Usai Tabrak Taksi

Survei CELIOS Tempatkan Bahlil dan Pigai di Posisi Terbawah, Golkar Jadi Sorotan

Kapolda Banten Sampaikan Commander Wish Kapolri ‘Polisi Bersama Masyarakat’

Anggota Satpol PP DKI Luka Enam Jahitan Usai Bentrok dengan Pekerja Proyek di Jaksel

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

MK, PTUN, dan Persoalan Ijazah: Sampai di Mana Batas Kewenangan Hakim

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

RAGAM

Di Bumi Barat, Ternyata Vampir Tak Pernah Mati

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Go to mobile version