Advertisement
GAZANAPUBLIKA.COM – Dalam era Gen-Z yang penuh dengan terminologi baru, satu kata yang mencuri perhatian adalah ‘gemoy’, berasal dari kata ‘gemas’, menggemaskan dan ada yang merasa menjengjelkan. Kata “gemoy” adalah kata yang sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang lucu, menggemaskan, atau imut.
Kata ini bukan sekadar jargon, tapi menjadi simbol keakraban dalam bahasa gaul mereka. Keberadaannya menjadi sorotan utama bagi pasangan calon presiden, Prabowo Subianto dan GIbran Rakabuming Raka. Ikonis dan menggemaskan, mereka berhasil meraih sambutan hangat dari masyarakat, terutama di kalangan penggemar pasangan calon presiden yang penuh semangat.
Advertisement
Kata Gemoy ini meramaikan sosmed dan media massa ketika laya ‘Gemoy’ dilabelkan kepada aksi Joget Prabowo Subianto.
Aksi joget yang dilakukan oleh calon presiden Prabowo Subianto bukan sekadar gerakan, tapi sebuah atraksi lucu yang menggemaskan. Video-videonya dengan aksi-aksi jogetnya menjadi viral di media sosial dan mendapat sorotan dari berbagai media massa. Respons dari masyarakat sangatlah beragam. Banyak yang menganggap joget tersebut sebagai ‘gemoy’, sebuah istilah yang menggambarkan kegemasan dari aksi tersebut.
Joget ini bahkan telah menjadi ikon kampanye, entah apakah dilakukan secara sengaja atau hanya dimanfaatkan sebagai bagian alami dari perkembangan isu kampanye. Prabowo dengan cerdik memanfaatkan keunikan jogetnya sebagai simbol yang mencuri perhatian dalam perhelatan kampanye politik.”
Strategi Kampanye ‘Gemoy’
Penggunaan kata “gemoy” oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024.
Kalimat tersebut menyebutkan bahwa penggunaan kata “gemoy” oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mendapat perhatian dari masyarakat. Namun, ada juga yang mencurigai bahwa penggunaan kata tersebut adalah sebuah kamuflase untuk menyembunyikan agenda lain, yaitu kebangkitan Orde Baru.
Kecurigaan ini muncul karena Prabowo Subianto memiliki latar belakang militer dan pernah menjadi menteri pertahanan di era Orde Baru. Selain itu, Gibran Rakabuming Raka adalah putra dari Presiden Joko Widodo, yang juga pernah menjadi menteri di era Orde Baru.
Penggemar Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengatakan bahwa penggunaan kata “gemoy” adalah bentuk kejenuhan masyarakat atas fenomena politik saat ini. Mereka menganggap bahwa kampanye politik saat ini penuh dengan kebohongan dan tipu daya, dan seperti realitas politik sebelumnya, ujungnya tidak ada realisasinya. Penggunaan kata “gemoy” dimaksudkan untuk menghibur masyarakat dan menunjukkan bahwa politik itu tidak usah serius.
Penggemar Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka juga mengatakan bahwa Prabowo Subianto berusaha untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda dari kampanyenya di tahun 2014 maupun 2019. Prabowo ingin menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang santai dan tidak terlalu serius.
Penggunaan kata “gemoy” oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam kampanye Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024 adalah sebuah fenomena yang menarik untuk diamati. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat saat ini sudah mulai jenuh dengan fenomena politik yang penuh dengan kamuflase dan kebohongan.
Attar Ali Jehan Ibrahim
Pemerhati Gen-Z/ SMA di Gemolong, Sragen
Advertisement
